Senin, 24 April 2023

Dua Macam Keadilan

 Pengertian Keadilan dan Macam-Macam Keadilan

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya atau memberikan hak tepat pada sasaran. Adil adalah sifat yang bisa diterapkan pada kehidupan individu yaitu sifat adail kepada diri sendiri dan juga bisa diterapkan pada kehidupan sosial. Sifat adil adalah syarat utama untuk bisa menciptakan kehidupan sosial yang baik. Orang yang berlaku adil adalah dia yang bisa mewujudkan keseimbangan dalam hidupnya dan orang seperti ini adalah orang yang dicintai Allah.

Keadilan banyak macamnya dan berikut ini macam-macam keadilan:
1. Keadilan kepada  Allah: Kita harus taat dan patuh kepada-Nya  sesuai dengan kemampuan kita.
2.keadilan kepada diri sendiri : kita harus menggunakan tubuh kita sesuai dengan ketentuan Allah dan kita juga  harus menjaga jiwa kita dari sifat-sifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji.

Pilihan Nabi Adam as Terhadap Akal

Inilah Empat Misi Nabi Adam Diturunkan ke Dunia - Pecihitam.org

Terdapat hadis yang menjelaskan bahwa Malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk memberikan 3 pilihan kepada Nabi Adam antara lain, akal, agama dan rasa malu. Kemudian Adam memilih akal, yang kemudian agama dan rasa malu ikut Nabi Adam. Agama dan rasa malu menyatakan bahwa Allah telah menyuruh kami selalu bersama akal.” Bagaimana kedudukan hadis ini sebenarnya, apakah hadis ini merupakan hadis sahih?
Dalam beberapa riwayat disebutkan adanya hubungan kuat antara akal, agama dan keduanya dengan rasa malu. Kandungan riwayat ini juga mendapat penegasan pada riwayat-riwayat lainnya meski dari sudut pandang sanad riwayat ini terdapat beberapa orang  yang telah dilemahkan namun kandungan riwayat ini sangat kuat sehingga para ahli hadis seperti Syaikh Kulaini bersandar pada riwayat ini dan menuliskannya pada kitabnya Ushul al-Kafi.
Hadis kedua dari hadis-hadis yang terangkum dalam bab al-‘aql wa al-jahl pada kitab Ushul al-Kafi; terdapat sebuah riwayat yang disebutkan. Dalam riwayat ini, Asbagh bin Nabatah meriwayatkan dari Imam  Ali As sebagai berikut:
“Jibril turun kepada Adam dan berkata, ‘Wahai Adam! Aku ditugaskan supaya engkau  memilih salah satu dari tiga pilihan; karena itu pilihlah salah  satu di  antaranya dan tinggalkan keduanya.’ Adam berkata, ‘Apakah ketiga  pilihan itu?’ ‘Akal,  rasa malu (haya)  dan agama.’ Jawab Jibril.
Adam  berkata, ‘Aku memilih akal.’
Kemudian Jibril berkata  kepada rasa malu dan agama, ‘Silahkan kalian kembali dan biarkanlah ia.’ ‘Wahai Jibril!’ Kami bertugas untuk menemani di manapun akal berada.’ Timpal keduanya.
‘Kalian tahu sendiri.’ Pungkas Jibril kemudian pergi.”[1]
Sanad Riwayat
Syaikh Kulaini menukil riwayat ini dari Ali bin Muhammad, dari Sahal bin Ziyad, dari Amru bin Usman, dari Mufaddhal bin  Saleh, dari Sa’ad bin Thuraif, dari Asbagh bin Nabata, dari Imam Ali As.
Kedudukan dan posisi Syaikh Kulaini jelas bagi setiap orang dan derajatnya witsaqah-nya sangat terang. Ali bin Muhammad salah seorang guru Kulaini dan ia tidak lain  Ali bin Muhammad Alan Kulaini. Najasyi berkata tentangnya, “Ali bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Alan Kulaini adalah seorang tsiqah dan terpercaya. Ia terbunuh di Mekah Mukarramah.[2]
Sahal bin Ziyad; meski dilemahkan,[3] namun dalam satu perkataan Syaikh Thusi; ia telah di-tautsiq dan pada akhirya riwayat ini dapat diandalkan.
Amru bin Usman; yang bergelar al-Khazar termasuk sebagai orang tsiqah dan terpercaya.[4]
Mufaddhal bin Saleh; pada sebagian ungkapan Najjasyi[5] dan Ibnu Ghadhairi[6] telah dilemahkan, meski para ulama rijal lainnya tidak berbicara tentangnya.[7]
Sa’ad bin Thuraif; ia adalah salah seorang hakim pemerintahan yang menukil riwayat dari Imam Baqir As dan Imam Shadiq As. Dengan memperhatikan ucapan Najjasyi tentangnya, dapat disimpulkan bahwa validitas riwayatnya bergantung pada beberapa indikasi yang terdapat pada setiap riwayat. Dengan adanya indikasi-indikasi seperti itu, riwayatnya dapat diterima.[8]
Asbagh bin Nabata yang merupakan salah seorang pembesar dan sahabat khusus Imam Ali As  dan hidup beberapa setelah kesyahidan Imam Ali As. Ia meriwayatkan surat Malik bin Asytar yang terkenal itu dan wasiat Imam Ali As kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.[9]
Bagaimanapun, riwayat  ini disebabkan adanya beberapa orang seperti Sahal bin Ziyad dan Mufadhdhal bin Saleh dalam mata rantai sanad dan dari sisi lainnya terdapat beberapa ulama besar seperti Muhammad Baqir Majlisi Rah melemahkannya.[10]
Petunjuk dan Kandungan Hadis
Riwayat yang menjadi obyek bahasan adalah bukti kedudukan tinggi akal dan keharusan penyertaan agama dan rasa malu dengannya sedemikian sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan adanya akal; agama dan rasa malu  juga akan hadir menyertai dan akal adalah pemimpin bagi keduanya.
Hal ini juga dapat disimpulkan  dari riwayat lainnya. Dalam  sebagian riwayat disebutkan, “Akal adalah sesuatu yang dengannya Tuhan disembah dan dengan perantaranya surga akan diraih.”[11] Atau pada riwayat lainnya, “Barang siapa yang berakal maka ia telah beragama dan barang siapa yang beragama maka ia akan memasuki surga.’[12]
Boleh jadi kandungan riwayat ini pada sebagian riwayat lainnya telah menyebabkan, meski adanya sebagian orang lemah dalam mata rantai periwayatan riwayat ini, karena kandungannya yang kuat dan mendapat sokongan, riwayat ini disebutkan dalam kitab-kitab hadis seperti al-Kâfi.
Yang dimaksud dengan turunnya Jibril adalah bahwa pada masa hidup Nabi Adam As terjadi dialog di bumi antara Jibril dan Adam. Yaitu pada masa ketika Nabi Adam As menjadi khalifah di muka bumi dan memiliki akal, kesempurnaan, rasa malu dan agama! Karena itu untuk menjelaskan hal ini yang boleh jadi maksud pemilihan Adam dalam memilih salah satu dari akal, agama dan rasa malu, untuk sampai pada kesempurnaan ketiganya harus dimiliki.[13]
Dengan kata lain,  ucapan ini, memiliki sisi edukasi  sehingga Nabi Adam dapat sampai pada kesempurnaan ideal karena akal merupakan karunia besar dan Allah Swt menganugerahkan karunia besar ini kepadanya sehingga dengan perantara ini ia lebih banyak bersyukur kepada Allah Swt.
Persoalan lainnya tentang “engkau tahu sendiri” yang disampaikan Jibril  kepada rasa malu dan agama. Seolah Jibril As tidak mengetahui bahwa rasa malu dan agama selalu menyertai di  manapun akal berada; dan kemudian setelah Adam memilih, ia memerintahkan kepada  keduanya untuk berpisah dari akal. Keduanya  dalam menjawab  perkataan Jibril menyampaikan, “Di  manapun akal berada kami akan selalu menyertai!” Dan kemudian Jibril menimpali, “Berbuatlah apa pun yang kalian sendiri ketahui.”
Karena itu, meski riwayat ini memiliki sebagian kelemahan sanad, namun secara keseluruhan dapat diterima dan diyakini bahwa hadis ini disampaikan oleh seorang maksum  As.  []
[1]. Muhammad bin Yakub Kulaini, al-Kâfi, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, jil. 1, hal. 10, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
[2]. Ahmad Ali Najjasyi, Fahrast Asma Mushannaf al-Syi’ah (Rijâl Najjâsyi), hal. 260, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Keenam, 1365 S.
[3]. Ibid, hal. 185.
[4]. Muhammad bin Hasan, Syaikh Thusi, al-Abwâb (Rijâl Thusi), Riset dan edit oleh Jawad Qayyumi Isfahani, hal. 387, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Ketiga, 1427 H.
[5]. Rijâl Najjâsyi, hal. 287.
[6]. Ibid, hal. 128.
[7]. Ahmad bin Husain Ghadhairi, Kitâb al-Dhua’fa, hal. 88, Qum, Muassasah Ismailiyan, 1364 H.
[8]. Rijâl Najjâsyi, hal. 187.
[9]. Ibid, hal. 8.
[10]. Muhammad Baqir Majlisi, Mir’at al-‘Uqul fi Syarh Akhbâr Âli al-Rasul, Riset dan edit oleh Sayid Hasyim Rasuli, jil. 1, hal. 32, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Kedua, 1404 H.
[11]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 11.
[12]. Ibid.
[13]. Mir’at al-‘Uqul fi Syarh Akhbâr Âli al-Rasul, jil. 1, hal. 32.

Setiap Amal Perbuatan Tergantung pada Niatnya

"Niat kita mengarah kemana? Masing-masing diri pasti mengetahuinya... Anggota badan serta saksi2 yang menjadi saksinya "

Selamat memperbaharuinya.....
Moga dijauhkan dari kemunafikan


""""""""""""""""""""""""""
Sesungguhnya Setiap Amal Perbuatan Tergantung pada Niatnya
- Hadits: dikeluarkan oleh enam orang, dari
Umar bin al-Khaththab ra dia berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
'Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.
Dan sesungguhnya bagi setiap seorang adalah apa yang diniatkannya.
Maka barangsiapa (niat) hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan barang siapa yang hijrahnya untuk dunia yang akan dia peroleh atau wanita yang dia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia hijrah karenanya.'


""""""""""""""""""""""""""
QS. Al-Mujadilah Ayat 20
اِنَّ الَّذِيۡنَ يُحَآدُّوۡنَ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗۤ اُولٰٓٮِٕكَ فِى الۡاَذَلِّيۡنَ
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.


"""""""""""""""""""""""""""""""
Qs An-Nisa Ayat 142
Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (QS An-Nisa: 142)

Ajari Anakmu Kejujuran dalam Amanah

Keterangan foto tidak tersedia. 

Anak adalah amanat

“Pada suatu hari ketika Rasulullah saw duduk di tengah² kami, (tiba²) ibuku memanggilku dengan mengatakan:

‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’

Rasulullah saw mengatakan kepada ibuku :

‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’

Ibuku menjawab : ‘Kurma.’

Lalu Rasulullah saw bersabda :

“Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan.” 

 *********************

Menepati Janji, Nabi Muhammad Saw Berdiri di Bawah Terik Panas Matahari
Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi orang jujur juga menepati janji. Salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh baginda Nabi Muhammad saw adalah menepati janji. Allah swt memberikan hidayah dan mengajarkan sifat ini pada Beliau sehingga beliau menjadi uswah dan teladan bagi kita.
Rasulullah saw adalah orang yang terpercaya dan selalu menepati janjinya. Maka masyarakat, baik sahabat maupun musuh, pada waktu itu menyimpan kepercayaan yang sangat besar pada Nabi.
Berikut ini adalah sebuah kisah yang merekam bahwa Nabi saw adalah orang yang setia dan tepat janji.
Siang itu, matahari terbit begitu terik dan suhu pun begitu panas, sehingga tidak ada yang bisa dan mampu berdiri di bawah sinar matahari. Di siang itu, Rasul saw bersepakat untuk bertemu dengan seseorang di tempat yang telah ditentukan. Beliau pun datang dan menunggu orang tersebut.
Para sahabat melihat Rasul saw berdiri di bawah terik matahari sedang menunggu seseorang. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Mari kita menunggu dia di sebelah sana. Di sana ada tempat yang teduh untuk menunggu. Di sini panasnya begitu menyengat.”
“Tidak. Aku akan menunggu di sini. Tempat ini adalah persis tempat yang telah kami sepakati bukan tempat yang lain.” Tutur Rasul saw.
Bukan ketika sampai pada derajat kenabian saja Nabi selalu tepat janji dan terpercaya, namun juga ketika masih kanak-kanak, remaja, dan pemuda.
Dikisahkan dari Ammar Yasir bahwa sebelum Nabi Muhammad saw sampai pada kenabian, Nabi sering membawa kambing-kambing penduduk Mekah ke padang rumput untuk memberi mereka makan. Dan aku (Ammar) pun pada waktu itu juga seorang pengembala.
Suatu hari, kami berjanji untuk mengembala kambing di sebuah lembah yang banyak dan hijau rumputnya. Namun aku (Ammar) datang terlambat. Ketika tiba di lembah tersebut, aku melihat Nabi telah tiba di sana dan sedang menghalangi kambing-kambingnya yang ingin memakan rumput di lembah itu.
“Kenapa engkau menghalangi kambing-kambing mu dari lembah itu?” Tanya Ammar.
“Aku dan engkau telah berjanji dan sepakat untuk bersama memberi makan kambing-kambing kita. Maka dari itu, sebelum engkau datang, aku tak akan membiarkan kambing-kambingku makan di sana.” Tutur Nabi saw.
Nabi Saw bersabda, “Yang paling baik dari hamba-hamba Allah adalah mereka yang tepat dan setia pada janji-janji mereka.” 

 ******************

“Wahai manusia, cobalah untuk berlaku jujur karena Allah akan menolong orang-orang yang jujur. Hindari berbohong karena itu akan merusak imanmu.
Ketahuilah bahwa orang jujur berada di ambang kemuliaan dan kehormatan, sementara pendusta berada di ambang kehancuran dan kebinasaan.”
- Imam Ali bin Abi Thalib As -

 

Ada 4 Hal Yang Dapat Membuat Mati Hati Manusia

 10 Perkara Yang Bisa Membuat Hati Menjadi Mati - Islampos

 Rasulullah Saw bersabda,
"Ada empat hal yang dapat membuat mati hati manusia:
1. Berbuat dosa berkali-kali,
2. Banyak berbicara dengan perempuan yang non muhrim,
3. Berdebat dengan orang bodoh, padahal pembicaraan itu tidak ada kebaikannya,
4. Berteman dengan orang-orang mati."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah saw! Siapa yang dimaksud dari orang-orang mati?"
Nabi Muhammad Saw menjawab,
"Manusia yang memiliki harta tapi tidak beragama dan tidak bertakwa."

Didiklah Anakmu Dalam 3 Hal

Rasulullah saw bersabda,
“Didiklah anak-anak kalian akan tiga hal : Mencintai Nabi kalian, Mencintai Ahlul Baitnya dan Membaca Al-Qur’an!”

Rasullullah SWT : Tanda Akhir Zaman?

 Tuhan' Akan Diseret ke Tengah Manusia, Sejumlah Ilmuan Buat Terobosan  Mengerikan, Tanda-Tanda Akhir zaman?

Petanda Zaman....
Rasulullah Saw Bersabda ;
"Akan Datang Suatu Zaman Atas Manusia !"
Perut perut mereka menjadi Tuhan tuhan mereka..,
Perempuan perempuan mereka menjadi kiblat mereka..,
Dinar dinar (uang) mereka menjadi agama mereka..,
Waktu itu tidak tersisa dari Iman kecuali namanya saja..,
Tidak tersisa dari islam kecuali ritual ritualnya saja..,
Tidak tersisa Alqur'an kecuali sebatas kajiannya saja..,
Masjid masjid mereka makmur akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah)...,
Ulama ulama mereka menjadi mahluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi."
Maka terheranlah para sahabat ra mendengar penjelasan Rasulullah Saw tersebut.
Merekapun bertanya : Wahai Rasulullah.!
Apakah mereka ini menyembah berhala.?
Rasulullah Saw menjawab :
Ya...!
"Bagi mereka setiap dirham (uang) menjadi berhala (di pertuhankan / di sembah)
Segala sesuatu yang melalaikanmu dari mengingat Allah ia adalah Berhala mu."
(Hadist Mutafaq'alaih)

Sudah Benarkah Ma'rifah kepada Alloh SWT?

Ma'rifat - INSISTS

"Mengintrospeksi Ilmu yang telah kita 'anggap benar'"

*************
RASULALLAH Saw bersabda;
“ Jika kalian mengenal ALLAH dengan ma’rifah yang sesungguhnya, niscaya kalian dapat berjalan di atas laut dan gunung-gunung akan hancur dengan doa kalian “.


-------------
Tatkala suatu kaum bertanya kepada Imam Ja'far As Shodiq, cucu suci Rasulullah saw
 "Kami selalu berdoa (kepada Allah), tapi mengapa doa kami tidak dikabulkan?"
Cucu suci Rasulullah saw, Imam Ja'far shadiq menjawab,
"Sebab kalian berdoa kepada Dzat Yang tidak kalian kenal"

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More