Sabtu, 06 Mei 2023

Tolaklah Kejahatan dengan Kebaikan


ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ 

Ayat yang berbunyi, “Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah kejahatan dengan kebaikan, maka orang yang punya permusuhan denganmu akan menjadi sahabat yang karib.” 

(Q.S. Fushilat : 34) 

Berpikiran Luas Menjadikanmu Berkembang


 

Seekor hiu di dalam akuarium akan tumbuh 8 inci, tapi di laut hiu itu akan tumbuh tinggi 8 kaki atau bahkan lebih. Hiu itu tidak akan lebih besar dari lingkungannya dan sama halnya dengan kalian. Sering kita di kelilingi oleh orang-orang yang berpikiran sempit dan kita menjadi tidak bertumbuh. Ubahlah lingkunganmu & lihatlah dirimu berkembang!

Jumat, 05 Mei 2023

Bagaimana Allah SWT Mengabulkan Doa Hamba-Nya?



Alkisah,

Suatu ketika, seorang dokter spesialis syaraf terkemuka di Pakistan, terbang menggunakan pesawat kecil yang hanya berisi beberapa penumpang saja.

Di tengah penerbangan, cuaca tampak sangat mendung. Bahkan langit mendadak gelap. Awan begitu pekat ditimpali kilat yang menyambar-nyambar.

Sangat terasa turbulensi (guncangan) dalam pesawat. Tiba-tiba mesin pesawat terkena petir, yang membuat satu mesin rusak.

Pesawat pun terpaksa harus mendarat darurat. Beruntung ada sebuah bandara kecil yang dekat lokasi kejadian.

Pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Namun ternyata bandara itu berada di wilayah pelosok yang sangat terpencil.

"Apakah kalian bisa memperbaiki pesawat ini?" tanya dokter.

Ternyata tidak ada seorangpun yang dapat memperbaiki pesawat. Jadi semua penumpang harus menunggu.

"Berapa lama kita harus menunggu di sini?" tanya dokter.

"Mungkin cukup lama," jawab pilot.

"Tapi aku harus segera tiba di kota sebelah. Sangat penting", lanjut dokter.

"Untuk ke sana, anda perlu waktu 3 jam jika naik mobil", jawab pilot.

"Oh ya. Aku akan sewa mobil saja".

Akhirnya dokter memutuskan menyewa mobil dari bandara itu untuk menuju kota tujuan.

Mobil mulai bergerak.

Namun cuaca masih tetap mendung. Langit gelap, kilat menyambar dengan kencang. Hujan pun turun, sangat deras. Seakan air diguyurkan dari langit. Sangat lebat.

Mobil pun berhenti, tidak dapat bergerak lebih jauh lagi, karena ternyata harus melewati jalan berlumpur. Air mulai membanjiri jalan tanah becek itu.

Dokter segera sadar, ia tidak bisa kemana-mana lagi.

Dalam situasi gelap, dokter melihat ada sebuah rumah kecil terletak di ujung sana.

"Kita pergi ke sana saja. Kita bisa berteduh sembari menumpang shalat. Mungkin disana juga ada makanan barang sedikit," kata dokter kepada sopir.

Mereka pun memutuskan untuk menuju rumah kecil tersebut. Lokasi rumah itu sungguh sangat terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk lainnya.

Dokter mengetuk pintu rumah dengan perlahan. "Assalamu alaikum..."

Seorang nenek tua membukakan pintu sembari menjawab salam.

"Ada apa Nak?" tanya sang Nenek.

Dokter segera menceritakan semua yang dialami barusan.

"Sekarang kami hanya ingin menumpang shalat dan istirahat sebentar Nek. Menunggu hujan reda...." ujar dokter.

"Tidak masalah Nak, kalian boleh masuk..."

Nenek mempersilakan tamu shalat di ruang mushalla kecil di dalam rumahnya.

Di dekat ruang mushalla, tampak seorang anak kecil tengah berbaring. Tiap beberapa waktu tertentu, sang Nenek tampak gelisah menengok keadaan anak kecil itu.

Nenek lantas duduk di ruang mushalla. Ia pun berdo'a dan menunaikan shalat.

Setelah selesai shalat, dokter menyapa Nenek.

"Terima kasih banyak Nek. Kami sudah menumpang sholat di sini. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada anak kecil itu"? tanya dokter.

"Itu adalah anak yatim. Ia tengah sakit parah. Aku adalah nenek dari anak ini..." jawab Nenek.

"Kami telah mengunjungi banyak dokter di daerah sini. Mereka memberitahu kami, bahwa hanya ada satu dokter spesialis yang dapat menolong anak ini..." lanjut Nenek.

"Kami sudah mencoba untuk menemuinya. Tapi mereka minta kami untuk menunggu enam bulan lagi. Tempatnya pun sangat jauh...."

"Sejak hari itu, aku selalu berdo'a kepada Allah : Ya Allah, mudahkan urusan kami. Anak ini sakit, mudahkan urusan kami ya Allah..." ujar Nenek

"Siapa nama dokter spesialis itu Nek?" tanya dokter.

"Namanya dokter Ishan...." jawab Nenek.

Mendengar jawaban itu, dokter pun langsung menangis.

"Kenapa engkau menangis, Nak?" tanya Nenek.

"Nenek, do'amu baru saja dijawab Allah. Akulah dokter Ishan yang kalian cari itu...."

"Mungkin karena do'amu, petir menyambar mesin pesawat yang aku tumpangi. Kami mendarat darurat. Lalu kami menyewa mobil. Hujan turun lagi menghentikan kami dan seterusnya kami ke sini...."

Mendengar penjelasan itu Nenek menangis terharu. Ia segera bersujud, bersyukur kepada Allah.

Subhanallah....

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semua alam akan menuruti apapun yang Dia kehendaki untuk menyelesaikan suatu urusan. Untuk mengabulkan sebuah do'a.

Sungguh luar biasa. Seorang dokter spesialis neurologi yang sangat sulit ditemui, bahkan tidak bisa bertemu tanpa perjanjian sebelumnya. Pasien harus antri 6 bulan untuk konsultasi.

Tapi perhatikan, Allah telah menggiring dokter spesialis itu sampai ke rumah Nenek yang terpencil, dengan cara-Nya.

Allah yang menggerakkan dokter Ishan untuk mengetuk pintu rumah Nenek, masuk ke dalam, menunaikan shalat di ruang mushalla, sampai akhirnya melakukan pengobatan terhadap anak yatim yang sakit parah itu....

Subhanallah....

Maka tetaplah terus berdo'a. Yakinlah atas kekuasaan Allah Azza wa Jalla.

Sungguh, Allah Maha Mengabulkan do'a.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Dan Tuhan kalian berfirman : berdo'alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian.

Amin

Pengaruh Lingkungan Rumah Tangga Pada Pendidikan Anak


Masalah lainnya adalah anak-anak. Awal mula terbentuknya jiwa, perasaan, pemikiran dan otak manusia terjadi di dalam rumah tangga. Bahkan terbentuk sebelum kelahirannya dan sejumlah faktor lainnya akan mempengaruhi sarana ini. tentunya, mungkin saja terkadang faktor-faktor luar seperti madrasah, jalan, persahabatan dan pertemanan – seperti guru dan buku yang mempengaruhi pemikiran anak-anak dan remaja di masa muda dan masa remaja- lebih menguasai faktor kekeluargaan. Dalam hal ini tidak diragukan.

Namun yang menyediakan sarana yang ada adalah lingkungan rumah tangga. Di dalam rumah tangga akan terdidik pribadi-pribadi yang mulia, antusias, rajin, penuh kasih sayang, juga pribadi-pribadi sebaliknya. Oleh karena itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perilaku baik atau tidak baiknya suami dan istri di dalam lingkungan rumah tangga benar-benar mempengaruhi.

Ikatan kekeluargaan dan ikatan perkawinan, memiliki pengaruh yang sangat melekat, penting dan menentukan, baik bagi anggota keluarga maupun anggota masyarakat. Untuk itu, ini bukan hal yang kecil bahkan sangat penting dan besar dan harus dihargai. Semuanya harusberusaha menjadikan lingkungan rumah tangga sebagai lingkungan yang sehat, penuh dengan kasih sayang dan saling percaya satu sama lainnya.

Poin selanjutnya adalah di dalam rumah tangga, suami dan istri harus saling merasa bertanggung jawab terkait dengan pasangannya. Keduanya bukan dua orang asing, lalu sekarang telah divonis dan harus hidup bersama dalam kondisi tertentu. Tidak. Keduanya merupakan bagian dari satu hakikat seperti sepasang pintu. Keduanya adalah sebuah pasangan;suami istri yakni sepasang. Individual dari keduanya harus disingkirkan dan dihapus. Salah satu dari keduanya adalah tidak lengkap, itulah mengapa masing-masing sebagai pelengkap bagi yang lainnya. Bila mau kita umpamakan, seperti dua orang yang berada dalam sebuah bentengyang sedang mempertahankan benteng tersebut, nasib keduanya bergantung padayang lainnya. Sekarang misalnya yang satunya tidur dan yang lainnya terjaga, kemudian yang lainnya ini tidur dan yang satunya lagi terjaga. Namun tidak satupun dari keduanya keluar dari nasib bersama yang mungkin saja ditentukan oleh keduanya atau salah satu dari keduanya. Keduanya saling terikat dan berkaitan dan harus memandang kehidupan dengan pandangan ini. Semakin keduanya mampu memperkuat kondisi pasangan ini, maka akan bermanfaat bagi keduanya. Boleh jadikalian akan bertanya, bagaimana bisa menjadi kuat? Saya katakan, dengan kasih sayang, kasih sayang.

Ketika kami membacakan akad nikah, di dalam hati-hati kalian; suami dan istri dengan kehendak Allah, akan muncul kasih sayang. Bunga kasih sayang akan bersemi di hati. Jagalah bunga ini. Siramilah. Jagalah kesegarannya. Jangan biarkan layu. Jangan diremas, agar tetap segar.Di mana saja ada kasih sayang, disitulah duri-duri akan menjadi bunga. (Maulawi) Demikianlah.

Kasih Sayang dan Cara Menjaganya



Yang lebih berperan dari yang lainnya dalam menjaga kehangatan lingkungan rumah tangga dan mengokohkannya adalah kasih sayang.

Kasih sayang adalah beton rumah tangga. Beton pilar-pilar besar rumah tangga dan perkara yang mengokohkan benteng ini adalah kasih sayang, kasih sayang. Kalian harus menjaga kasih sayang. Kasih sayang harus dipelihara. Kasih sayang bukan sesuatu yang bisa tetap ada dan dengan sendirinya tetap ada. Kasih sayang harus dijaga. Kasih sayang istri di dalam hati suami harus dijaga oleh istri dan kasih sayang suami di dalam hati istri harus dijaga oleh suami. Jalan keluar sebenarnya adalah kalian harus sama-sama saling menyenangkan. Kalian harus sama-sama menyatu dan saling jujur.

Kalian harus sama-sama saling setia. Gadis dan perjaka yang menjadi pasangan suami istri sama-sama harus saling setia di dalam lingkungan rumah tangga. Kesetiaan akan mewujudkan kasih sayang. Ketika ada kasih sayang, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak beraib. Tidak ada seorang istripun di bawah langit ini yang tidak beraib. Aib-aib yang ada tidak boleh dibesar-besarkan. Bila ada kasih sayang, maka semua aib yang mungkin saja manusia melihatnya pada seseorang akan ditutupinya dan akan menjadi penghalang untuk membesar-besarkan masalah yang kecil dan semoga jangan sampai terjadi, akan menimbulkan berbagai masalah.

Para istri juga para suami harus perhatian bahwa meningkatkan kadar kasih sayang dan memperdalamnya ada ditangan mereka sendiri. Dengan akhlak yang baik, dengan akal, dengan pemikiran, dengan interaksi yang benar dan baik, kasih sayang ini semakin hari bisa semakin lebih ditingkatkan.

Suami dan istri semakin keduanya saling menyayangi adalah bukan hal yang berlebihan. Kasih sayang suami dan istrilah yang bila semakin meningkat tidak masalah. Bagus bila kalian berdua semakin saling menyayangi dan kasih sayang itu sendiri akan mewujudkan kepercayaan.Kasih sayang suami dan istri ini juga merupakan bagian dari kasih sayang Allah.Ini merupakan di antara kasih sayang yangbaik. Semakin meningkat, maka semakin baik.

Kasih sayang adalah sesuatu yang harus dijaga. Harus dipelihara. Ia bukan sesuatu yang bisa diletakkan di sebuah tempat danakan tetap ada sampai bertahun-tahun lamanya. Kalian jaga kasih sayang ini agar tetap segar dan hidup. Faktor yang mengikat rumah tangga adalah kasih sayang ini. Ia benar-benar menjadi sumberketenangan hidup. Tentunya kalian yang harus menginginkannya agar kasih sayangterwujud. Yakni bila dia menyayangi Anda, Anda juga harus menyayanginya. Itupun harus sungguh-sungguh dari lubuk hati yang dalam.Cara terbaik agar kasih sayang tetap ada dalam lingkungan rumah tangga adalah dengan mewujudkan kepercayaan. Anda harus menarik kepercayaan istri Anda. Dia harus merasa nyaman di hadapan Anda dan merasa tenang dari segala sisi. Sebaliknya Anda juga harus percaya kepadanya dan pikiran Anda juga tenang. Yakni masing-masing mampu menarik kepercayaan pasangannya. Maka saat itu kasih sayang ini semakin hari akan semakin meningkat.Bila kepercayaan hilang, maka fondasi kasih sayang akan melemah dan goyah. Penghalang dan pemisah yang ada antara suami dan istri dalam Islam berkaitan dengan masalah ini. Suami dan istri harus merasakan bahwa hubungan kasih sayang, naluri dan ketertarikan yang ada diantara keduanya hanya terjadi pada mereka berdua saja, yakni tidak ada pihak ketiga dari keduanya. Maka pada saat itu akan muncul kepercayaan. Kepercayaan ini akan dihasilkan secara sempurna.

Bila Islam menekankan bahwa tundukkan pandangan kalian, jangan memandang non mahram, dengan cara tertentu Islam memperingatkan istri dan dengan cara lainlagi memperingatkan suami. Tujuannya adalah bila mata kalian tertuju pada seseorang, maka pada saat itu bagian dari saham pasangan kalian akan tertuju pada seseorang tersebut. Kalian sebagai suami atau istri tidak ada bedanya. Ketika sebagian dari pandangan kalian tertuju pada seseorang, artinya kalian telah mengurangi saham pandangan kalian untuk pasangan hidup kalian, maka pada saat itu kasih sayang akan melemah. Bila kasih sayang melemah, maka pilar-pilar rumah tangga akan hancur. Pada saat itu, hilanglah apa yang seharusnya menjadi milik kalian, sementara kalian berkhayal telah mendapatkan sesuatu yang hanya sekejap mata itu sebenarnya merugikan kalian.

Di dalam rumah tangga, fondasi kasih sayang berpijak pada kepercayaan. Bila suami dan istri saling kehilangan kepercayaan, istri akan merasa bahwa suaminya berbohong padanya atau suami merasa bahwa istrinya berbohong padanya. Dan keduanya merasa bahwa dalam menyampaikan kasih sayang tidak jujur. Fondasi kasih sayang ini sudah melemah. Bila kalian menginginkan kasih sayang tetap ada, maka jagalah kepercayaan satu sama lainnya.

Dengan perilaku yang baik, dengan menjaga akhlak, dengan menjaga tata krama, dengan menjaga batasan-batasan dan aturan syariat.

Jangan biarkan kasih sayang menghilang. Jangan acuh tak acuh terhadap kasih sayang. Kasih sayang harus dijaga.

Tentunya kasih sayang adalah pemberian Tuhan. Tapi pertama, penjagaan dan kedua, melemahkan atau meningkatkannya tergantung pada diri kitasendiri.

Ayah dan ibu punya peran penting dalam mewujudkan kasih sayang. Ayah dan ibu harus berusaha menjadikan keduanya saling menyayangi. Bila seandaianya ayah dan ibu melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari menantunya, maka jangan sampai menyampaikannya kepada anaknya sendiri. Biarkan keduanya semakin hari semakin akrab dan semakin menyayangi satu sama lainnya.

Ketika ada kasih sayang, maka segalanya bisa dilakukan; kalian bisa membenahi akhlak, kalian bisa membenahi agamanya, kalian bisa saling memaafkan aib yang ada, kalian bisa saling melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Dengan kasih sayang, semua masalah bisa terselesaikan. Bagaimana kasih sayang bisa tetap ada? Bila Anda sebagai istri bapak ini, maka Anda harus berusaha agar kasih sayang Anda menetap di hatinya. Bagaimana caranya? Tariklah kepercayaannya terhadap Anda. Yakinkan bahwa Anda setia pada amanat yang diberikannya. Sebagai penjaga rahasianya. Sebagai penjaga kehormatannya. Sebagai penjaga harga dirinya. Sebagai penjaga hartanya. Kalian sendiri [suami] juga harus menjaga dan memelihara kasih sayang kalian di hatiistri kalian. Kalian juga demikian, harus menghormatinya, Bukan penghormatan lahiriah dan juga bukan penghormatan formalitas, akan tetapi penghormatan hakiki.

penghormatan bukan berarti misalnya saling memanggil dengan gelar dan adab tertentu. Tapi suami sepenuh hati ada rasapenghormatan terhadap istrinya dan istri juga demikian.Kalian [suami] harus setia kepadanya. Jangan menghinanya. Jangan mengabaikannya. Bila kalian menunda kepulangan sampai akhir malam, di permulaan malam kalian kumpul dengan teman-teman, kerabat dan famili, kemudian akhir malam baru kembali ke rumah; sementara istri kalian sendirian di rumah, sudah makan malam atau belum makan malam, mengantuksampai kalian kembali ke rumah pukul lima pagi, pukul empat pagi. Ini adalah mengabaikan istri. Kasih sayang bak salju, karena sikap-sikapseperti inilah ia akan mencair.Bila suami kalian menunggu di rumah. Kalian berbincang-bincang dengan saudara, bercanda dan bertamu; sementara suami kalian sendirian di rumah. Apalagi kalian sudah punya anak, dan dia yang menjaga anak beberapa jam lamanya di rumah. Kalian tidak memasak makanan, tidak mencuci pakaiannya, tidak menyetrika, tidak mengerjakan apapun, dengan sikap-sikap tak peduli seperti ini, kalian menghancurkan kasih sayang.

Hati-hatilah jangan sampai terjadi sikap-sikap dari kalian yang membuat kalian saling mengeluh dan benci. Perhatikan dengan baik, suami kalian atau istri kalian sensitif terhadap apa saja. Jauhilah hal-halitu. Sebagian tidak peduli dan mengulangi kebiasan tersebut. Yang demikian ini jelek.Demikian juga para istri. Katakanlah ada istri-sitri yang lebih mementingkan kemauannya– kita harus beli barang tertentu, kita harus pergi ke tempat tertentu dan lain sebagainya- dari pada kenyamanan suaminya. Apa perlunya? Intinya adalah kalian berdua. Sementara semua yang ada di dunia ini adalah cabang kalian. Saling milikilah satu sama lainnya. Saling sayangilah satu sama lainnya.

Kasih sayang bukan gunung sehingga tetap ada. Kasih sayang harus dijaga. Seperti bunga. Harus dijaga. Harus disirami. Harus dipelihara supaya tetap ada. Bila kasih sayang tetap ada, maka kehidupan akan menjadi indah. Pada saat itu berusahalah untuk membesarkan anak-anak yang akan kalian miliki di dalam lingkungan penuh kasih sayang dan menyenangkan. Tentunya kalian juga harus tegas dalam menjaga prinsip. Masing-masing dari kalian jangan sampai mengizinkan pasangannya melakukan perbuatan yang salah, perbuatan dosa, akhlak yang buruk dan kelakuan yang merusak. Anaknya juga harus demikian. Tentunya jangan sampai dengan sikap kekerasan, tapi selesaikanlah masalah-masalah dan ketidakberesan yang ada di antara kalian berdua dengan akal, dengan pemikiran dan dengan manajemen. Bila sudah demikian, maka kehidupan akan menjadi makmur. Bila sudah demikian, maka generasi yang akan datang akan menjadi baik, akan tertib. Kehidupan seperti ini akan langgeng, tidak akan hancur. 

Ali bin Abi Thalib: Demi Tuhan Ka’bah, Sungguh Aku Telah Berjaya


Detik-Detik Terakhir 

Ummu Kaltsum, putri bungsu Fathimah Azzahra ‘alayhas-salam itu, lantas menuturkan apa yang terjadi di detik-detik yg paling mempesona dari kehidupan ksatria langit, kekasih Allah dan Rasulullah ini sebagai berikut.

Ummu Kaltsum berkata :

“Aku melihat ayahku shalat hingga tengah malam. Di serangkaian shalatnya, beliau sebentar-sebentar keluar rumah, menengok sejenak ke langit dan kembali lagi untuk shalat. Tangisannya lebih panjang dari biasanya. Rukuknya lebih lama, sujudnya lebih lama. Lantunan munajatnya pun lebih syahdu dari hari-hari biasanya.”

Imam Ali tenggelam dalam ibadah hingga menjelang subuh. Di sela-selanya, dia beberapa kali seperti berbicara pada dirinya sendiri:

“Sepertinya inilah malam yang dijanjikan kekasihku, Rasulullah.”

“Ya Allah, Engkau tak pernah berbohong dan aku pun tidak akan mengkhianati-Mu. Inilah malam kematian yang Kau janjikan padaku.”

“Lailaha Illallah. Hukum sebab akibat senantiasa terjadi. Sebentar lagi ketetapan Allah akan diputuskan.”

Ummu Kaltsum hanya bisa berurai air mata. Kakeknya Rasulullah saw. Pernah mengatakan bahwa Ali akan Syahid dibunuh :

“Saudara pembunuh onta suci Nabi Shaleh” pada Jumat terakhir bulan Ramadhan. Imam Ali dan semua keluarga dekat Nabi tahu persis siapa orangnya: Abdurrahman Ibnu Muljam.

Nama Ibnu Muljam sebenarnya sudah lama dikenal oleh keluarga Nabi.

Suatu kali Kumayl bin Ziyad, sahabat dekat dan penyimpan rahasia Imam Ali, pernah menemani beliau menelusuri lorong-lorong Kufah di malam hari. Di tengah2 perjalanan, terdengar suara ayat Alquran dari masjid.

Kumayl berkata :

“Ya Amirul Mu’minin, alangkah merdunya suara itu.”

Imam Ali menimpali :

“Ya Kumayl, itulah suara orang (Abdurrahman bin Muljam) yang akan menebas pedangnya ke kepalaku di saat aku sedang shalat subuh.”

Ali sadar tak ada hukum yang bisa dilakukan untuk kejahatan yang belum dikerjakan. Dia juga tahu kematian adalah sesuatu yang menyeramkan tapi perhatian pada Tuhan akan melenyapkan semua ketakutan apapun di alam ini.

Malam itu, dalam perjalanan menuju Masjid Kufah, Imam Ali beberapa kali menengok ke langit.

Di mesjid Kufah, dia mendapati Ibnu Muljam tidur telungkup. Dia pun menasehatinya:

“Innas sholata tanha ‘anil fahsyai wal munkar. Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan fasik dan munkar.

Yang disapa dan dinasehati membantu, tak kunjung beranjak. Lalu Imam Ali berkata lirih:

“Kau sepertinya bertekad mengerjakan sesuatu yg sangat berbahaya, sangat mengerikan. Kalau aku mau, akan kuceritakan padamu apa yang ada di balik bajumu itu.”

Imam Ali tahu di balik baju Ibnu Muljam, semoga Allah swt mengutuknya, tersimpan pedang beracun. Tapi dia tak mempedulikannya untuk sebuah alasan yang belum pernah didengar dunia.

Setelah azan subuh tanggal 19 Ramadhan berkumandang, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kembali keluar masjid, dan menengok ke fajar yang menyingsing. Kemudian dengan suara parau, beliau mengucapkan selamat berpisah kepada fajar:

Imam Ali berkata :

”Wahai Fajar.. sepanjang Hayat Ali.. Pernahkah engkau muncul dan mendapatkannya tertidur ??

Di mihrab, Ali memulai shalatnya seorang diri. Dia seperti sengaja memperpanjang rukuk dan sujudnya. Ibnu Muljam, seperti orang-orang di zaman itu, tahu persis betapa Ali tak pernah mempedulikan apapun saat shalat. Dia kemudian datang mendekat. Dan dari depan, dia mulai mengayunkan pukulan ke kepala Ali, tepat saat Ali ingin bangun dari sujud partamanya.

Darah lalu mengucur deras. Dahi Ali koyak. Janggutnya meneteskan darah. Tapi tak ada erangan dari mulut Ali. Justru pujian pada Tuhan.

Imam Ali berkata :

“Bismillah, wa billah wa ‘ala millati Rasulillah…

Dengan suara melengking, Imam Ali kemudian berteriak:

“Fuztu wa Rabbil Ka’bah…Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah berjaya.”

Seiring dengan suara Imam Ali, seluruh penduduk Kufah mendengar gelegar suara keras Jibril yang mengabarkan berita duka itu, hingga semua warga berhamburan keluar rumah untuk menuju masjid jami Kufah.

Ummu Kalsum yang mendengar suara itu dari rumah sontak menjerit lirih:

“Waaah Abataaah, Waaah Aliyaah” (Oooh Ayahku, Ooooh Aliku).

Yang pertama datang menyaksikan Imam Ali bercucuran darah adalah putra sulungnya, Hasan.

Imam Hasan menuturkan bahwa Imam Ali terus berusaha melengkapi rangkaian shalatnya sambil duduk. Badannya menggigil. Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya yang merekah sembari mengucapkan firman Allah dalam surat Thaha ayat 55:

Imam Ali as berkata :

“Dari tanah, kalian Kami ciptakan, dari tanah pula kalian Kami kembalikan dan bangkitkan.”

Semua kejadian disaksikan oleh seluruh putranya, terutama Hasan yang tak kuasa menahan airmata. Imam Ali meminta Hasan untuk mengimami jamaah shalat. Beliau mengikuti dari belakang dengan gerakan isyarat sambil terus membersihkan cucuran darah dari kening sucinya.

Seusia shalat, Hasan langsung kembali menengok ayahnya, didampingi Husein dan seluruh putra Ali yang lain.

Hasan berkata :

"Duhai Ayahku, tak kuasa aku melihatmu begini…sungguh ini sangat menghancurkan hatiku. Berat sekali bagiku melihatmu seperti ini."

Imam Ali membuka matanya lalu berkata:

"Anakku Hasan…jangan bersedih. Sebentar lagi aku tidak akan merasakan kegetiran apapun. Lihatlah itu, Kakekmu Muhammad Al-Musthafa, Nenekmu Khadijah Al-Kubra, Ibumu Fathimah Azzahra, dan para bidadari berjejer-jejer menyambut kedatangan ayahmu. Tegarlah dan riangkan hatimu."

Hasan kemudian meletakkan kepala ayahnya di pangkuannya untuk membersihkan darah yang tak berhenti mengucur. Tak lama berselang, Imam Ali pingsan dalam pelukan Hasan. Jerit tangis membahana ke seluruh arah. Hasan pun langsung menciumi wajah ayahnya demikian pula putra-putra Imam yang lain.

Derasnya airmata Hasan menyadarkan Imam Ali. Imam pun langsung bertanya:

“Anakku Hasan, untuk apa tangisan ini? Jangan bersedih atas keadaan ayahmu. Apakah kau bersedih atas keadaanku padahal esok kau akan dibunuh dengan cara diracun dan adikmu Husein akan dibunuh dengan tebasan pedang. Lantas kalian semua akan menyusulku bersama kakek dan ibu kalian.”

Setelah kekacauan terjadi, salah seorang di antara khalayak belakangan masuk membawa Ibnu Muljam. Orang curiga dia lari menjauh dari mesjid dengan pedang berlumur darah sementara seluruh penduduk justru menuju masjid.

Kematian telah mendekati Ali. Rekahan di dahinya begitu dalam. Tapi musibah itu tak merusak karakter keadilan yang larut dalam darah dan dagingnya. Dia melarang orang membalas pada Ibnu Muljam.

Imam Ali as berkaat :

“Aku tahu engkau akan membunuhku…Pasti…Tapi sesungguhnya aku masih berharap pada Allah adanya perubahan pada diri dan nasibmu.”

Ibnu Muljam tak kuasa mendengar kalimat setinggi itu. Dia menangis.

Ibnu Muljam berkata :

“Ya Amirul Mukminin, afa anta tunqidzhu man finnaar (apakah engkau bisa menolong orang yang sudah masuk neraka) ?”

Ali menjawab dengan memerintahkan anak-anaknya mencari susu. Dia kehausan dan meminta mereka mempersilahkan Ibnu Muljam meminumnya lebih dahulu……………….sedangkan Imam meminum sisanya………. Inilah minuman susu terakhirnya.

Imam Ali berkata :

”Wahai, putra-putra ‘Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak ingin melihat kalian menumpahkan darah kaum Muslimin sambil berteriak “Amirul Mukmini telah dibunuh!” Ingatlah, jangan membunuh dengan alasan kematianku, kecuali atas pembunuhku. Tunggulah hingga aku mati oleh pukulannya ini. Kemudian pukullah dia dengan satu pukulan dan jangan rusakkan anggota-anggota badannya, karena aku telah mendengar Rasulullah saw berkata, “Jauhkan memotong-motong anggota badan sekalipun terhadap anjing gila.

Imam Ali lahir di Ka’bah yang suci dan pada bulan yang suci, di mihrab yang suci dan dalam keadaan bersuci pula dia menyambut kematian. Kufah berduka. Rumah-rumah keluarga Nabi gelap selama beberapa malam.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Hakikat Hari Raya Adalah Ketika Ketaatan Bertambah


Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as pada hari raya memakai pakaian yang sederhana dan makanan yang sederhana.

Ketika itu sahabat melihat beliau dalam keadaan tersebut

mereka bersedih dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin bukankah hari ini hari raya?"

Beliau as menjawab,"Ya benar, sekarang adalah hari raya dan setiap hari dimana ketaatanku bertambah bagiku adalah hari raya."

Seraya mengucapkan;

ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪُ ﻟِﻤَﻦْ ﻟَﺒِﺲَ ﺍﻟْﺠَﺪِﻳْﺪَ، ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪُ ﻟِﻤَﻦْ ﻃَﺎﻋَﺘُﻪُ ﺗَﺰِﻳْﺪُ

"Hari raya bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru,

Akan tetapi hari raya bagi yang bertambah ketaatannya.."

ﻭ ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟْﻌِﻴْﺪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺠَﻤَّﻞَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻠْﺒُﻮْﺱِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﻛُﻮْﺏِ، ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻴﺪ

ﻟِﻤَﻦْ ﻏُﻔِﺮَﺕْ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏُ ..

"Hari raya bukanlah bagi orang yang memperindah dirinya

dengan pakain dan kendaraan, Akan tetapi hari raya bagi orang yang dosa-dosanya mendapatkan ampunan.."

ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﺃﻛﻞ ﺍﻟﻄﻴﺒﺎﺕ ﻭﺗﻤﺘﻊ ﺑﺎﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ﻭﺍﻟﻤﻠﺬﺍﺕ، ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻥ ﻗﺒﻠﺖ ﺗﻮﺑﺘﻪ

ﻭﺑﺪﻟﺖ ﺳﻴﺌﺎﺗﻪ ﺣﺴﻨﺎﺕ ..

"Bukanlah hari raya bagi orang menyantap makanan yang

lezat, Bersenang-senang dengan syahwat dan yang lezat-lezat.

Akan tetapi bagi orang yang diterima taubatnya dan kejelekannya diganti dengan kebaikan.."

ﺻﺪﻗﺖ ﻳﺎ ﺃﺏ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ

Semoga Allah SWT menjadikan kita diantara orang yang

benar-benar berhari raya....

Keyakinan dan Kesabaran di Bungkus dengan Keikhlasan



Keyakinan, adalah kesederhanaan. Sebuah kesederhanaan yang lahir dari kuatnya jiwa dan karakter seseorang. Keyakinan juga yang membuat Rasulullah, tak pernah berhenti berdo’a untuk penduduk thaif meski lemparan batu, hinaan hingga penolakan terhadap beliau bersama risalahnya. Keyakinan juga yang menumbuhkan kecintaan yang membara seorang Salman Alfarisi yang menempuh perjalanan jauh dengan berbagai cobaan hingga bertemu kekasihnya Muhammad saw. Keyakinan pula yang membuat Ali bin abi Thalib dengan berani menggantikan Rasulullah ketika beliau hendak dibunuh oleh kaum Quraisy. Keyakinan itu tumbuh.. kuat mengakar.. Lahir dari keluhuran budi, kokohnya karakter, dan bersumber dari dentuman cinta mengabadi yang tak pernah padam untuk Allah dan jihad di jalan-Nya.

Keyakinan adalah teman setianya gairah yang selalu bersumber dari cinta. Keyakinan adalah kekuatan yang takkan pernah habis untuk selalu memberi energi bagi jiwa untuk menunggu, “membangun”, menguatkan, hingga berbagai defenisi tindakan yang terkadang tak bisa diterima oleh akal. Keyakinan hadir seperti sumber cahaya, ia adalah sumbu lilin yang terus terbakar, ia adalah sumbu sinaran yang menjadi alat untuk memberikan ruang terangnya.

Jika keyakinan adalah alasan terbesar seseorang untuk bertahan. Maka pasangan jiwanya adalah kesabaran. Kesabaranlah yang membuat orang untuk terus bersama dengan keyakinannya. Jika keyakinan adalah sumbu untuk memberikan cahaya, maka kemampuan untuk menerangi selama mungkin adalah sebuah defenisi sederhana tentang kesabaran. Kesabaran selalu menghasilkan berjuta pesona bagi sejarah. Bilal bib Rabah dan para sahabat nabi lainnya, lebih memilih untuk bersabar bersama dengan siksaan oleh kaum kafir Quraisy , kesabaran merekalah-lah yang membuat cerita jihad menggelora di dalam dada jutaan pejuang di seantero mayapada. Bagaimana Yusuf AS, yang lebih memilih penjara agar mampu terus mengenal-Nya. Bagaimana keluarga Yasir & Sumayyah meneladani semua wanita dengan semangat jiwanya untuk terus bersabar menahan siksaan kaum kafir hingga menjadi syuhada pertama dalam Islam. Mereka adalah karakter-karakter yang menyejarah.. selalu indah untuk dikenang.

Gabungan antara keyakinan dan kesabaran akan menghasilkan semangat yang takkan pernah padam. Keberanian akan menjadi temannya, kesolehan akan menjadi pakaian mereka, kebeningan hati dan keikhlasan akan selalu mengisi hidup mereka, dan hasilnya… Karya-karya besar bagi peradaban akan tercipta dari segala bentuk usaha mereka.

Yakinlah… bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan segala usahamu.. Bersabarlah, hingga kelak… Ketika sabarmu telah habis masanya.. Perbahuilah terus ia dengan sebuah KEYAKINAN… Bahwa Allah takkan pernah membuatmu kecewa…


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More