Rabu, 26 April 2023

Antara Hijab, Tanggung Jawab dan Peran Wanita di Republik Islam Iran


 

Oleh : abu shereen

Isu-isu barat terkait peran wanita di Iran yang tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat begitu masif diberitakan, sehingga media barat dan nasional berbondong-bondong mendiskreditkan Iran. Ini tentu sangat disayangkan.

Padahal antara hijab dan pembatasan aktivitas tidak ada relasi keniscayaan sama sekali. Artinya, seorang wanita berhijab mampu melakukan aktivitas apapun ditengah masyarakat tanpa mengurangi nilai-nilai kemanusiaan dan HAM. 

Seorang wanita berhijab mampu melakukan kegiatan yang ia inginkan dibidang apapun dan Iran setelah revolusi membuka kesempatan kepada siapapun, baik wanita ataupun pria untuk melakukan apa-apa yang mereka inginkan selama itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai akhlak dan hukum Islam yang telah disepakati.

Republik Islam Iran tidak pernah membatasi hak-hak perempuan di tengah masyarakat bahkan mendukung segala aktivitas mereka, terlebih jika itu untuk kemajuan sosial dan kemanusiaan. Data-data internasional terkait masalah ini begitu jelas sehingga tidak bisa dipungkiri oleh siapapun.

*Statistik Pelibatan Wanita di Universitas*

Jika kita menilik keikutsertaan siswi dan mahasiswi Iran di dunia pendidikan hingga perguruan tinggi setelah revolusi memiliki kenaikan tajam. Menurut data statistik internasional wordbank yang menukil dari institut statistik UNISCO, keikutsertaan mereka didunia pendidikan meningkat tajam dari 3 persen sebelum revolusi hingga 67 persen pada tahun 2015 dan 57 persen pada tahun 2020. Justru jika kita lihat Indonesia pada tahun 2018 keikutsertaan wanita di instansi pendidikan hingga perguruan tinggi hanya 39 persen saja, sedangkan Iran pada tahun 2018 sebesar 59 persen.

 (https://data.worldbank.org/indicator/SE.TER.ENRR.FE...) 

*Statistik Dosen Wanita di Iran*

Jilbab bukanlah kekangan untuk wanita beraktivitas di dunia sosial dan pendidikan. Tidak serta merta kewajiban berjilbab meniscayakan pembatasan mereka di lingkungan sosial dan ini dibuktikan oleh Iran pelibatan dosen wanita di Iran sebagaimana dikutip oleh wordbank dari sebelum revolusi hanya 12 persen dan setelah revolusi hingga tahun 2020 sebesar 34 persen.

*Statistik S2 dan S3 wanita di Iran*

Jika kita melihat statistik yang disajikan wordbank sebagaimana dikutip dari Unisco, maka kita akan melihat S2 wanita di Iran pada tahun 2016 sebesar 3.9 persen yang mana jika kita bandingkan dengan Indonesia pada tahun 2020, hanya sebesar 0.5 persen saja. 

(https://data.worldbank.org/indicator/SE.TER.CUAT.MS.FE.ZS...)

Begitupula doktoral wanita di Iran pada tahun 2016 sebesar 0.3 persen, sedangkan Indonesia pada tahun 2020 sebesar 0.0 persen.

(https://data.worldbank.org/indicator/SE.TER.CUAT.DO.FE.ZS...)

Adapun statistik Sarjana wanita antara Iran dan Indonesia jika kita mengikuti standar wordbank, maka Iran sebesar 18.6 persen, sedangkan Indonesia sebesar 10.6 persen.

(https://data.worldbank.org/indicator/SE.TER.CUAT.BA.FE.ZS...)

*Peran Wanita di Iran di Bidang Olahraga*

Menurut data statistik kementrian olahraga Iran keikutsertaan atlet wanita di Iran sebelum revolusi hanya 7 orang saja dan setelah revolusi sebesar 16.000 orang, begitupula pelatih atlit wanita sebelum revolusi hanya 9 orang saja dan setelah revolusi membludak hingga 35.000 orang.

Adapun cabang olahraga yang digeluti sebelum revolusi di 7 cabang saja dan setelah revolusi, aktif di 37 cabang olahraga. Dukungan pemerintah Islam Iran terhadap wanita ini tentu menghasilkan prestasi luar biasa hingga mendapatkan 200 medali dari berbagai cabang olahraga, yang mana sebelum revolusi hanya mendapatkan 5 medali dan itupun dengan tanpa hijab.

*Dokter Spesialis Wanita*

Menurut data statistik PBB, dokter spesialis wanita di Iran pada tahun 1976-1986 hanya 15 persen, namun meningkat tajam menjadi 40 persen dari tahun 1996-2006 dan dokter post spesialist wanita dari tahun 1976-1986 yang hanya 9 persen saja, naik menjadi 30 persen pada tahun 1996-2006. Menurut sekretaris persatuan dokter nasional sebagaimana dilansir oleh Irna.ir, kini pada tahun 2021 dokter wanita lebih banyak dari dokter pria. 

Begitupula Fatimah Aliya anggota DPR pada tahun 2018 menjelaskan bahwa jumlah dokter umum wanita di Iran dari sebelum revolusi hingga setelah revolusi bertambah hingga 16 kali lipat. Pada zaman sebelum revolusi sebagaimana dilansir snn.ir, dokter umum wanita hanya berjumlah 3500 orang dan kini hingga tahun 2018 bertambah menjadi 60.000 orang. Begitupula dengan dokter spesialist meningkat 50 kali lipat yang mana sebelum revolusi hanya berjumlah 590 spesialis wanita dan kini berjumlah 30.000 spesialis dokter wanita. Tentu ada penambahan signifikan dari tahun 2018 hingga tahun 2022 saat ini.

*Lembaga Organisasi, SDM, Yayasan dan kelembagaan wanita lainnya*

LSM dan organisasi non-pemerintah wanita untuk memajukan SDM wanita di Iran pun sangat maju bila dibandingkan dengan sebelum revolusi. Sebelum revolusi, hanya 5 organisasi non-pemerintah yang aktif di bidang keperempuanan itupun sebagian besar terkait dengan keluarga kerajaan Pahlevi kala itu, tetapi sekarang ada lebih dari 2700 organisasi dan LSM yang berhubungan dengan urusan perempuan di berbagai provinsi di Iran.

Adapun dibidang penerbitan dan penulisan karya ilmiah, jumlah penulis perempuan sebelum revolusi kurang dari 10, tapi sekarang sudah mencapai lebih dari 4.000 penulis wanita. Perlu digaris bawahi bahwa selama rezim Pahlevi, tidak ada penerbit perempuan di negeri ini, tapi sekarang ada hampir 800 penerbit perempuan di Iran.

*Posisi Direktur dan Manager Wanita di Iran*

Peran wanita dan aktivitasnya di bidang direktur dan manajerial menunjukkan bahwa sebelum revolusi Islam, manajer wanita hanya berjumlah lebih dari 6%, tetapi setelah revolusi jumlahnya menjadi 40 persen. Tentu ini seharusnya bisa menjadi contoh bahwa berhijab dan mengikuti nilai-nilai keislaman bukan berati pengekangan terhadap kebebasan aktivitas wanita diberbagai bidang. 

Sangat disayangkan bila isu hijab digiring untuk menjatuhkan dan menggulingkan Republik Islam Iran, padahal fakta lapangan memperlihatkan kepada kita bahwa kaum wanita di Iran sangat aktif dan berprestasi diberbagai bidang.


Latar Belakang Ideologi Penjajahan Israel Atas Palestina



Jika kita menilik sebab penjajahan Israel atas Palestina, maka itu tidak lepas dari latar belakang Ideologi kaum Yahudi yang dijanjikan Yahwa ( Allah swt) untuk memimpin dan menguasai dunia. Kitab-kitab suci Yahudi seperti Talmudz, Taurat dan Perjanjian lama mengabarkan bahwa  Yahwa telah memilih keturunan Ishak sebagai bangsa terpilih dan hanya merekalah yang layak memimpin seluruh umat manusia.

Kaum Yahudi menafsirkan perkataan Allah swt yang berjanji kepada Ibrahim as bahwa dari keturunannya akan diberikan kerajaan agung dan kerajaan itu hanya diberikan kepada keturunan Ishak saja. 

Sebagaimana dalam kitab Genesis bab.17 hal. 19-21 bahwa Tuhan Yahwa berkata, "Aku akan memberikannya (putra Ibrahim) keberkahan yang melimpah dan Aku akan memberikan umat yang berlimpah dan menjadikan dari keturunannya 12 nasyim." ( pemimpin)

Dalam bahasa Ibrani nasyim adalah jamak dari nasyi yang bermakna pemimpin dan perbedaan nasyi dan nawi ( Nabi) kalau nawi atau nabi hanya turun untuk kaum tertentu, sedangkan Nasyi dari kata nosh yaitu kepemimpinan untuk seluruh umat manusia. Kita Allah swt mengangkat Ibrahim menjadi nasyi, beliau sudah berpredikat sebagai nawi dan ini membuktikan bahwa kedudukan nasyi lebih tinggi dari kedudukan nawi.

Untuk itu kaum Yahudi meyakini bahwa merekalah keturunan sah nabi Ibrahim as dan hanya merekalah yang layak untuk menjadi pemimpin dan penguasa bagi umat manusia. Untuk itu mereka sedang menunggu janji Yahwa yang akan memberikan kerajaan yang lebih agung melebihi kerajaan Daud as dan menunggu messiah terakhir dari keturunan Yahudi yang akan memimpin dan menguasai dunia selama seribu tahun lamanya.

Hal ini tertera didalam Perjanjian lama, kitab Amus, bab.9 no.11 bahwa Yahwa pada suatu masa akan menegakan kembali kerajaan Daud as yang mana kekuasaannya lebih besar dan agung dari Daud as.

Untuk itu kaum Yahudi berusaha merealisasikan janji Yahwa tersebut dengan mempersiapkan dan membentuk pemerintahan untuk messiah yang mereka tunggu di tanah yang dijanjikan yaitu Palestina.  Fakta ini disebutkan oleh Zvi (Zwi) Hirsch Kalischer (24 Maret 1795 – 16 Oktober 1874) seorang Yahudi rabbi Ortodoks Jerman yang pertama mencuatkan wacana pemulangan Yahudi ke Tanah Israel dari sudut pandang keagamaan, yang mendahului Theodor Herzl.

Ia dalam kitabnya, Derishat Tzion berkata, "sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab suci Yahudi bahwa kaum yahudi menunggu messiah mereka yang akan berkuasa melebihi Daud as, untuk itu kaum Yahudi harus kembali ke Kan'an ( Palestina) dan menegakan pemerintahan Yahudi disana."

Pemikiran Hirsch Kalischer ini mendapatkan sambutan hangat dari milioner Yahudi asal Italia yang bernama Sir Moses Haim Montefiore, 1st Baronet, FRS (24 Oktober 1784 – 28 Juli 1885) yang mana kala itu ia adalah seorang pakar keuangan, bankir, aktivis, filantropis dan Sheriff London asal Inggris. Ia pertama kali mengirim orang-orang Yahudi ke Palestina pada tahun 1880. 

Hirch Kalischer mengirim surat pula kepada Rostchild dengan menukil fakta kitab Zakariya yang berkata, "kami akan mengutus mentri-mentri atau ajudan-ajudan untuk mempersiapkan kekuasaan messiah." Ia menulis, " Yahwa akan mengutus Messiahnya dalam waktu dekat, maka sokonglah kaum Yahudi untuk mengembalikan mereka ke tanah Palestina sehingga kemunculan sang messiah akan lebih cepat. "

Ideologi Yahudi ini sebagaimana tertera didalam kitab-kitab suci mereka mempengaruhi para Filsuf barat seperti: Isaac Newton (1643-1727) dalam bukunya observastion prophechies of Daniel berkata, "Yahudi akan kembali ke tanah airnya, namun aku tidak tahu dengan cara apa mereka kembali kesana. Kita serahkan hal tersebut kepada waktu. 

Selain Isaac Newton, Jhon Jaques Russo (1712-1778) didalam kitabnya Emile berkata, Adapun terkait orang-orang yahudi, kita harus berikan sebuah tanah untuk mereka sehingga mereka mampu membangun sekolah dan pusat pendidikan. Dan Filsuf barat ternama lainnya yang mewacanakan pengembalian kaum Yahudi ke Palestina adalah Emanuel Kant (1724-1804) Ia berkata, " Orang-orang Yahudi sesungguhnya mereka adalah orang-orang Palestina yang sebenarnya. Mereka hidup bersama kita dan mereka harus kembali ketanah air mereka."

Ideologi inilah yang mempengaruhi Theodor Hetzl dalam pembentukan zionisme sebagaimana tertera di dalam kitab pemerintahan Yahudi bahwa Yahudi harus membentuk pemerintahan kemudian pada tahun 1897, ia mengadakan rapat di Swiss dengan kaum Yahudi untuk membahas wacana persiapan pembentukan negara Israel. Setelah kematian Hetzl, cita-cita zionisme diteruskan Weizman yang kelak melakukan rapat rahasia dengan Arthur James Balfourd yang terkenal dengan perjanjian Balfour. 

Perjanjian Balfour

Setelah kekalahan Jerman dan Turki Ottoman pada perang dunia pertama, bangsa arab dicaplok Inggris dan Prancis lalu keduanya membagi-bagi wilayah jajahan mereka. Perancis mendapatkan Libanon dan Syiria, sedangkan Inggris mendapatkan Irak dan Yordania dan meletakan Palestina sebagai kawasan yang diatur oleh Internasional sebagaimana tertera dalam perjanjian rahasia Sykes–Picot Agreement. Setelah James Balfour menjadi menteri luar negeri Inggris, ia mengkhianati Sykes–Picot Agreement dan memasukan Palestina yang sebelumnya dikontrol Internasional menjadi bagian dari kekuasaan Inggris.

Kemudian pada 2 November tahun 1917, Inggris secara resmi menghadiahkan Palestina kepada kaum Yahudi yang terkenal dengan perjanjian Balfour yang berisi sebagai berikut:

Kepada Yang Terhormat Lord Rothschild

Dengan rasa senang saya menyampaikan pada Anda, atas nama Pemerintah Kerajaan Inggris, deklarasi yang didasarkan pada simpati untuk aspirasi Zionis Yahudi ini telah diajukan dan disetujui oleh Kabinet Perang.

Pemerintah kerajaan Inggris memandang positif pendirian tanah air nasional untuk orang-orang Yahudi di Palestina, dan akan menggunakan usaha terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, sebab dipahami bahwa tidak ada yang dapat menghakimi hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dimiliki oleh Yahudi di negara lainnya.

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini kepada Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia.

Salam

Arthur James Balfour

Inggris untuk merealisasikan janjinya, selama menjajah Palestina dari tahun 1917 hingga tahun 1948 memfasilitasi perpindahan kaum Yahudi dari seluruh dunia menuju tanah Palestina yang mana dalam kurun waktu tersebut Yahudi yang sebelumnya hanya dua persen saja menduduki tanah Palestina, pada tahun 1948 menjadi 78 persen menduduki tanah Palestina. Dan pada tahun 1995, kependudukan Yahudi  di bumi Palestina naik menjadi 97 persen.

Tentunya kita bertanya, apa hak Inggris memberikan tanah Palestina kepada kaum Yahudi sedangkan mereka berstatus sebagai penjajah. Jika kita menilik arti jajahan dalam KBBI adalah negeri yang dijajah oleh negeri asing; daerah taklukan, maka kala itu Inggris adalah asing dan penakluk bagi pribumi Palestina. 

Tentunya banyak sekali orang mengatakan bahwa perjanjian Balfour tidak sah karena tidak melibatkan satu orang pun pribumi Palestina, hal ini sekilas benar, namun sebetulnya Inggris menilai bahwa kaum terjajah tidak punya hak untuk berbicara atau memberikan aspirasi mereka. Untuk itu hal ini menjelaskan kedzaliman Inggris kepada dunia sebagai penjajah dan penindas yang semena-mena terhadap bangsa dan rakyat Palestina lalu menutup mata atas genosida yang terjadi disana selama bertahun-tahun.

Ya, ketika Inggris kala itu dari 1917-1948 berstatus sebagai penjajah, maka siapapun yang ditunjuk menduduki Palestina adalah penjajah pula. Sebagaimana halnya ketika Portugis menghadiahkan tanah jajahan kepada Belanda, maka Belanda sebagai suksesornya berstatus pula sebagai penjajah.

Oleh : abu shereen

Buya Syafi'i : Orang-orang Yang Normal Jangan Diam





Prof. Ahmad Syafii Maarif atau biasa dipanggil Buya Syafii mengatakan bahwa tidak ada sistem politik yang sempurna, bahkan demokrasi sekalipun. Hal tersebut disampaikan oleh Buya dalam sebuah unggahan video yang kemudian menjadi viral.


“Nggak ada sistem politik yang sempurna. Bahkan demokrasi itu bisa menciptakan orang seperti Hitler, Mussolini, Franco… Donald Trump, demokrasi Amerika menciptakan orang itu kan luar biasa itu. Beberapa orang Amerika yang saya temui mereka malu menjadi warga negara Amerika itu. Tapi itu terjadi,” terangnya.


Mengutip Giddens, Buya menilai bahwa dunia sedang lintang pukang dan saat ini dunia sedang tidak jelas.


Menurutnya, dalam konteks Indonesia dan di tahun politik ini, terdapat simfoni yang sejuk. Hal tersebut mesti diarus-utamakan, karena terdapat harapan di sana.


“Untuk Indonesia menurut saya ya di tahun politik, saya katakan, saya pikir-pikir ada simfoni dengan sejuk. Itu perlu menjadi gelombang besar, diarus-utamakan. Ini yang memberi harapan,” ujar Buya.


Adapun terkait golongan atau aliran garis keras yang disebut Buya sebagai penganut teologi maut, maka orang-orang yang waras dan siuman jangan hanya tinggal diam.


“Kalau dibiarkan ini yang garis keras, yang menganut teologi maut yang saya katakan. Teologi maut itu sebuah teologi yang mengajarkan berani mati dengan tidak berani hidup. Jadi paranoid.”


“Yang penting sekarang adalah orang-orang yang normal, orang-orang yang siuman seperti kita ini jangan diam. Jangan diam! Sebab kalau diam, yang akan merajalela mereka,” lanjutnya.


Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengatakan akibat dari segala kekerasan hingga persekusi ini akan berdampak terhadap generasi mendatang dan demokrasi Indonesia. Lebih-lebih, media sosial yang saat ini sudah tak terkendali.


“Menghadapi segala macam kekerasan, ketidakberesan, persekusi, jangan diam. Itu sangat berbahaya bagi Indonesia, untuk demokrasi kita dan generasi kita yang akan datang. Apalagi dengan medsos yang tak terkendali,” jelasnya.


Kendati demikian, Buya menyatakan bahwa inilah tantangan hidup bagi setiap makhluk di muka bumi.


“Ini tantangan berat, tapi itulah hidup. Hidup tanpa tantangan, itu bukan hidup. Kalau takut dengan tantangan, tidak usah datang ke muka bumi,” pungkasnya.

Apa saja pegangan hidup?

 


Suatu hari, Cucu Suci Rasulullah saw, Imam Ja’far Shadiq, pernah ditanya oleh pencintanya....

 “Apa saja pegangan hidup?” Tanya nya....

.... Cucu Suci Rasulullah saw menjawab, *“Aku berpegang dengan 4 hal.*

1. Aku yakin bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, karenanya aku bersungguh-sungguh.

2. Aku yakin bahwa Allah selalu melihatku, karenanya aku malu.

3. Aku yakin bahwa rizki ku tidak akan dimakan oleh selainku, karenanya aku tenang.

4. Aku yakin bahwa akhir segala urusanku adalah kematian, karenanya aku bersiap-siap.


Sebaik-baik Istri Memiliki Lima Sifat



Dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, bahwa sebaik-baik istri memiliki lima sifat, yang jika kelima sifat tersebut terhimpun pada seorang istri, maka dia adalah sebaik-baik istri di muka bumi. 

Kelima sifat tersebut adalah 

  1. tidak menyulitkan, 
  2. ucapannya tidak menyakitkan, 
  3. taat pada suaminya, 
  4. tidak tidur di malam hari sebelum membuat suaminya ridha 
  5. dan menjaga diri dan hartanya jika jauh dari suaminya. 

Sibuklah Berbenah Diri!



 Sebaik baik sibuk adalah Sibuk berbenah diri

...........

Amirulmukmin Ali bin Abi Thalib 

"Jangan mengawasi orang

lain, jangan mengintai

geraknya, jangan membuka

aibnya, jangan

menyelidikinya, sibuklah

dengan diri kalian,

PERBAIKILAH aibmu, karena

kamu kelak akan DITANYA

TENTANG DIRIMU, BUKAN

TENTANG ORANG LAIN."

Ilmu Manusia Seluruhnya Terangkum Dalam 4 Hal

 Kutemukan ilmu manusia seluruhnya hanya terangkum dalam 4 hal

Mengenal Tuhannya

Mengetahui apa yang diperbuat Tuhan kepadanya

Mengetahui apa yang diinginkan Tuhan darinya

Mengetahui apa saja yang memalingkannya dari agama.

Imam Ja'far As-Shadiq

Keimanan Tidak Berbekas dalam Perbuatan



 Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan,

keimanan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan

Banyak orang baik tapi tak berakal,

ada orang berakal tapi tak beriman, 

Ada lidah yang fasih tapi berhati lalai,

ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian, 

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis,

ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi,

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat,

dan ada yang menangis karena kufur nikmat

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,

ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut

Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan,

dan ada pelacur yang tampil menjadi figur

Ada orang yang punya ilmu tapi tak faham,

ada yang faham tapi tak menjalankan

Ada yang pintar tapi membodohi,

ada yang bodoh tapi tak tahu diri

Ada orang beragama tapi tak berakhlak,

ada yang berakhlak tapi tak bertuhan

(Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More