Minggu, 30 April 2023

Ketika Orang Bermaksiat Memanggil Rabb-Nya

 




Terdapat disebuah Hadits Qudsi, 

dari Allah Azza Wajalla

Bahsawannya jika seorang hamba 

mengangkat kedua tangannya ke langit 

sementara dia adalah orang yang bermaksiat, 

lalu dia memanggil Tuhannya,

“Ya Rabb…” 

Kemudian malaikat menghalangi suaranya.

Lalu seorang hamba memanggil Tuhannya lagi.

“Ya Rabb…” 

Kemudian malaikat menghalangi lagi suaranya.

Lalu dia mengulangi lagi 

untuk yang keempat kalinya.

Maka Allah Azza Wajalla berkata,

“Sampai kapan kalian (Malaikat) 

menghalangi suara hamba-Ku dari Ku?”

“Labbaika ‘Abdi.. "

(Aku menyambut panggilanmu wahai hamba-Ku)”

“Labbaika ‘Abdi.. "

(Aku menyambut panggilanmu wahai hamba-Ku)”

“Wahai anak-anak Adam, 

Aku menciptakanmu dengan kedua Tangan-Ku 

& Aku membimbingmu dengan Nikmat-Ku. 

Sementara engkau menyimpang dari-Ku dan bermaksiat pada-Ku. Apabila engkau kembali pada-Ku, maka Aku akan memberimu taubat.”

“Maka dimana lagi engkau 

temukan Tuhan seperti-Ku?”

“Aku adalah Maha Pengampun”

“Aku adalah Maha 

Pengampun & Maha Penyayang”

“Hamba-Ku, 

Aku mengeluarkanmu dari ketiadaan 

menjadi ada, dan Aku ciptakan untuk 

kalian pendengaran, penglihatan, dan akal.”

“Hamba-Ku, Aku menyembunyikan aibmu sementara engkau tidak takut kepada-Ku”

“Aku mengingatmu 

sementara engkau lupa terhadap-Ku”

“Aku malu terhadap engkau wahai hamba-Ku, sementara engkau tidak malu terhadap-Ku”

“Siapa lagi yang lebih Dermawan dari-Ku?

“Adakah seorang hamba yang mengetuk 

pintu-Ku lantas tidak Aku buka?, 

Adakah seorang hamba yang meminta 

kepada-Ku lantas Aku tidak memberinya?”

“Apakah Aku ini pelit 

sehingga hamba-Ku pelit kepada-Ku?”

“Ya Rabb…”

“Wahai dzat yang keutamaan-Nya 

selalu tercurah atas hamba-hamba-Nya”

“Wahai dzat yang membentangkan 

kedua tangan-Nya dengan pemberian”

“Wahai dzat yang memiliki 

pemberian-pemberian yang luhur”

“Limpahkanlah Rahmat kepada kami, 

dan salam kepada Rasulullah & Keluarganya, sebaik-baiknya manusia di dalam budi pekerti.”

“Dan ampunilah kami wahai dzat yang 

mempunyai keluhuran di malam ini, 

dan di setiap malam. Rizkikanlah pada kami kehidupan yang Ridho dan di Ridhoi”

Buya Syakur : Bisa Jadi Kemaksiatan Yang Dilakukan Bukan Karena Kurang Ilmu Tetapi Karena Ketidaksadaran



 HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Buya Syakur punya pandangan sendiri terhadap orang yang rajin beribadah, tapi rajin maksiat. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan Indramayu, KH. Abdul Syakur Yasin.


Menurutnya orang yang mengusai banyak ilmu tak menjamin seseorang itu bisa mengontrol dirinya sendiri dari kemaksiatan.


“Ilmu-ilmu agama yang kita miliki nahwu, shorof balag mantek, tidak terlalu berpengaruh sekali kok dalam mengontrol jiwa kita ini,” kata Buya Syakur, dalam video singkat yang diunggah akun Instagram @galeri_maha dikutip Selasa (28/06/2022).


Banyak orang ahli ibadah, orang alim namun mereka belum bisa mengontrol jiwa, sehingga mereka masih melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.


“Ada nggak orang yang rajin shalat tapi kemaksiatannya juga rajin. Ada nggak orang yang sering naik haji tapi adu jago? Gak ada istirahatnya,” jelasnya.


Menurut ulama asal Indramayu itu ada ketidaksadaran di diri seseorang tersebut dengan dirinya sendiri. Buya Syakur menyebutnya sebagai orang yang belum mengenal dirinya sendiri.


“Jadi kita sendiri sesungguhnya menjadi pertanyaan besar mengapa seperti ini. Jangan-jangan kemaksiatan-kemaksiatan yang kita lakukan bukan karena kurang ilmu tapi ketidaksadaran kita sebetulnya,” katanya.


“Masalah haram orang tahu tapi melanggar juga. Ini namanya kita belum kenal diri. Satu ciri orang yang kenal diri adalah dia tahu dari mana asalnya dan sekarang sedang apa lalu nantinya mau ke mana,” tandasnya.

Bagaimana Kita Memandang Orang-orang Kafir dan Fasik?

 


Syekh Muhsin Qiraati pernah ditanya:

"Bagaimana kita memandang 

orang-orang kafir dan fasik?"

Beliau menjawab:

"Sebuah hadis menjelaskan:

من ذهب أن له على الأخـر فضلا فهو من المستكبرين

"Barangsiapa yang menganggap 

dirinya lebih utama dari orang lain, 

maka dia (termasuk orang yang) sombong.

Bagi kita yang tidak mengetahui tempat 

akhir dari perkara individu-individu, 

hendaknya tidak membuat kita gegabah 

atau ceroboh (cepat menilai atau menghakimi). 

Karena Tak sedikit orang fasik kemudian 

menjadi mukmin, dan orang mukmin yang 

berakhir dengan akhir yang jelek (su'ul khatimah).

Dalam sebuah penjelasan, 

Imam Ja'far Shadiq as mengatakan: 

"Para penyihir yang sepanjang hidupnya sesat, akhirnya mereka beriman setelah menyaksikan mukjizat Nabi Musa as dalam sesaat. 

Dan mereka mengabaikan semua ancaman Fir'aun. Dengan Hukuman mutilasi yang 

pertama kali dipraktekkan Fir'aun saat menghukum mereka dengan cara dipotong 

tangan dan kakinya secara bersilangan lalu disalib.

Setan menjadi sesat meski pernah 

beribadah selama enam ribu tahun. 

Ada yang bertanya kepada Syekh Ansori qs:

"bagaimana mungkin satu jam 

berfikir lebih baik dari 70tahun ibadah?"

Beliau qs menjawab: 

"berfikir sebagaimana 

berfikirnya Hurr di hari Asyura."

Dalam pristiwa di karbala ada Hurr dan Zuhair 

Yang mengakhiri hidupnya dengan penuh 

kebahagiaan (karena membela Imam Husain as). 

Oleh karena itu orang-orang yang berada 

di jalan yang benar jangan sampai terperdaya. Sebab boleh jadi mereka menyimpang. 

Maka terus berhati-hatilah, 

sampai ajal menjemput."

Setiap Zaman Ada Para Pelanjut Qabil

 Sebagai pelanjut Qabil,  

empat manusia yang dalam 

Al-Qur'an dilambangkan dengan;  

Fir'aun,  Haman,  Qarun,  dan Bal'am. 

Fir'aun : adalah penguasa yang korup,  

penindas yang selalu merasa benar sendiri, tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. 

Haman : adalah mewakili kelompok 

teknokrat,  ilmuwan yang menunjang 

tirani dengan melacurkan ilmu. 

Qarun : adalah cerminan kaum kapitalis,  

pemilik sumber kekayaan yang dengan 

rakus mengisap seluruh kekayaan massa. 

Bal'am : adalah melambangkan kaum 

ruhaniyun,  tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yg korup dan meninabobokan rakyat.  

Pada setiap zaman,  keempat jenis manusia ini selalu tampil sebagai pendukung status quo 

dan penentang perubahan sosial.

Barokah Hanya Untuk Orang Yang Mengharapkannya

"Allah swt menjamin rizki bagi setiap orang, 

akan tetapi berkenaan tentang barokah 

maka Allah swt hanya akan memberikannya kepada orang yang mengharapkannya.

Jika barokah turun di dalam harta 

maka akan diperbanyak manfaatnya.

Jika pada anak maka akan 

dijadikan soleh/solehah.

Jika di dalam tubuh maka akan 

dijadikan kuat dan sehat dalam ketaatan.

Jika di dalam hati maka akan dijadikan 

bahagia dan senang dalam keikhlasan. Dll.


3 Hal Buruk Yang Akan Kembali Kepada Pelakunya



 Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib as  berkata ;

Ada 3 perbuatan buruk dalam Al-Qur'an yang 

jika dilakukan akan kembali kepada pelakunya.” 

Yang pertama adalah Melanggar Janji

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ

“Maka barangsiapa melanggar janji, 

maka sesungguhnya dia melanggar (janjinya) sendiri.” (QS.Al-Fath:10)

Yang kedua adalah Rencana Jahat

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ

“Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.” 

(QS.Fathir:43)

Yang ketiga atau yang terakhir adalah  

DzalimAllah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنفُسِكُم

“Wahai manusia! 

Sesungguhnya kezalimanmu bahayanya 

akan menimpa dirimu sendiri.” (QS.Yunus:23)

Musibah dan bencana yang datang menimpamu itu adalah hasil dari buah tanganmu sendiri dan Allah tidaklah menzalimi hambanya sedikitpun.

Apa Yang Perlu Dilakukan Pada Orang Yang Mencela Diri Kita?


 Apa yang perlu dilakukan 

pada orang yang mencela diri kita?

Allah swt berfirman kepada Rasulullah sawa: 

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ 

Dan bersabarlah terhadap apa yang 

dikatakan oleh mereka (yang menentangmu).

وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا.

Dan jauhkanlah dirimu dari 

mereka dengan cara yang baik.

Apakah maksud menjauhkan diri dengan 

cara yang baik? Yakni selain daripada 

kamu menjarakkan diri daripada mereka, 

jangan tunjukkan tindak balas 

yang bersama dengan kemarahan. 

Sebagai contoh ketika 

kau melihat mereka sedang berkata 

sesuatu yang buruk dan mencela dirimu, 

laluilah tempat itu dengan tenang 

seolah-olah kau tidak mendengarnya. 

Para mufassirin berkata: 

Pada masa kamu menjauhkan diri dari mereka, perbuatan kamu ini juga tidak menghalang 

kamu untuk menasihati, membimbing dan memberi hidayah kepada mereka. Ketika kamu melihat mereka berkata sedemikian alihkanlah dirimu sedikit tetapi dengan cara yang baik. 

Terdapat satu syair yang dinisbahkan 

kepada Imam Ali as yang mana kandungannya sangat dekat dengan ayat ini: "Aku melalui 

seorang manusia hina yang sedang mencelaku, 

kemudian aku lalu di suatu tempat 

aku berkata dia tidak maksudkan diriku 

(tentang apa yang dikatakan). 

Ini dikatakan hijrah yang baik. 

Menjauhi dari itu supaya tidak melanggar 

garis merah dan juga tidak menunjukkan 

tindak balas yang bersama kemarahan. 

Sebagai contoh kamu lihat anakmu 

berbicara dengan kata-kata kesat kepadamu, 

jika kamu berdiri dihadapannya 

maka akan terjadi kebiadapan. 

Kamu bersikaplah seperti tidak mendengar kata-katanya supaya tidak melebihi garisan 

merah diantara kamu (ayah) dan anakmu. 

Alihkanlah dirimu, 

jauhilah daripadanya 

tetapi dengan cara yang baik.  

Seolah-olah perkara ini 

tidak terjadi, tidak mendengarnya 

dan tidak tujukan pada dirimu sendiri. 

Inilah makna وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا, 

jauhilah daripada mereka dan jangan 

tujukan kata-kata itu kepadamu supaya 

selepas ini kamu boleh menasihati, 

membimbing dan menghidayahkan mereka lagi.

Salah Satu Efek Positif Sedekah


Efek Positif SEDEKAH

Sial merupakan nasib kurang beruntung yang 

tidak sesuai rencana atau keinginan seseorang.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, 

arti kata sial adalah tidak mujur dan segala usahanya selalu tidak berhasil (seperti sukar mendapat rezeki, sukar mendapat jodoh).

Setiap orang tentu akan mencari 

obat untuk mengatasinya dan Islam mengajarkannya dengan cara SEDEKAH.

Sedekah merupakan sebuah tindakan 

yang sangat dimuliakan Allah SWT. 

Tindakan mulia tersebut masuk ke dalam salah sunnah dengan jumlah pahala yang berlimpah.

       رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و آله: 

    "إِذَا أَصْبَحْتَ‏ فَتَصَدَّقْ بِصَدَقَةٍ تُذْهِبُ عَنْكَ نَحْسَ ذَلِكَ الْيَوْمِ،

 وَ إِذَا أَمْسَيْتَ‏ فَتَصَدَّقْ بِصَدَقَةٍ تُذْهِبُ عَنْكَ نَحْسَ تِلْكَ اللَّيْلَةِ".

_( قرب الإسناد: 120.)_

Rasulullah saw bersabda : 

 “Jika Anda memasuki waktu pagi maka bersedekahlah dengan sebuah sedekah 

yang dapat menghilangkan darimu kemalangan/kesialan pada hari itu. Dan jika Anda memasuki waktu sore maka bersedekahlah dengan 

sebuah sedekah yang dapat menghilangkan kesialan / kemalangan pada malam itu”.

  _Tolak sialmu dengan sedekah…!_

*****************

Penulis kitab Najafiyat, Syekh Ali Dakhil, meriwayatkan bahwa Al Hajj Abdul Hussein 

Abu Riha menceritakan kepadanya bahwa 

Al Hajj Rasyid Rumani, seorang pedagang 

Suriah, suatu ketika menderita sakit parah. 

Keluarganya telah mengerumuninya 

dengan putus asa dan menangisinya. 

Laki-laki yang sakit itu kemudian bertanya pada keluarganya apakah mereka mengharapkannya sembuh. Dan jelas sekali, mereka menginginkan hal tersebut terjadi. Ia lalu meminta kepada mereka untuk memberikan semua makanan 

dan gandum di gudang mereka sebagai sedekah. 

Dan kemudian ia pun sembuh dari sakitnya, 

dan bahkan mampu mencapai usia 130 tahun. 

Sungguh, Nabi Muhammad saw bersabda, 

"Obati penyakitmu dengan sedekah."

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More