Minggu, 26 Maret 2023

Kemenangan Revolusi Islam Iran dan Konspirasi Musuh


Oleh: Ismail Amin Pasannai


Fenomena Ahmadi Nejad yang tegas bahkan terbilang keras kepada Amerika Serikat, melahirkan efouria bagi umat Islam. Sebagai presiden negara yang mayoritas berpenduduk muslim bahkan Islam menjadi asas negaranya menjadikan Ahmadi Nejad sebagai idola baru generasi muda Islam. Kunjungannya ke Jakarta dan masjid Istiqlal yang disambut histeria menjadi bukti, bahwa sosok pemimpin Islam yang dirindukan umat Islam Indonesia ada pada diri Ahmadi Nejad.


Termasuk ketika mengunjungi negara-negara mayoritas muslim lainnya, penyambutan untuknya tidak kalah histerianya. Kesederhanaan, kemampuan diplomasi yang memukau dan perhatiannya yang besar pada isu-isu umat Islam dan kelompok yang tertindas khususnya pembelaannya pada Palestina menjadikannya target pemusuhan AS dan gerakan Zionisme Internasional.


Namun menyerang Ahmadi Nejad secara pribadi, bukanlah target sesungguhnya, sebab Iran memiliki pasokan tokoh yang bahkan melebihi Ahmadi Nejad dalam jumlah yang sulit diperkirakan. Jadilah Iran dan mazhab Syiah sebagai mazhab yang paling banyak dianut rakyat Iran sebagai target pembusukan. Melalui media-media mainstream internasional dimulailah strategi pembusukan itu. Iran dicitrakan sebagai negara teroris, radikal dan mengancam perdamaian dunia.


Syiah melalui fatwa-fatwa ulama atas suruhan raja Arab Saudi -yang merupakan kaki tangan AS- disebut sesat, kafir dan bukan Islam. Fatwa-fatwa ulama klasik yang sudah terkubur lama, diangkat kembali meskipun tidak ada kaitannya dengan Syiah yang diyakini rakyat Iran. Fatwa Imam Syafi’i misalnya, yang dikecam adalah Rafidhi, namun teks fatwanya dipelintir untuk mengecam Syiah.


Iran dan Syiah difitnah sedemikian rupa melalui berita-berita hoax dan tuduhan-tuduhan tendensius dan tanpa bukti untuk menghasut umat Islam Indonesia untuk memusuhi Iran. Buku hoax “Lillahi Tsumma li at Tarikh” yang tidak laku di Timur Tengah karena bohongnya terlalu kentara, bahkan tidak dicetak lagi, di Indonesia disebar secara massif dengan judul, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”. Buku pamungkas yang paling sering dikutip untuk menyebar fitnah keji pada Imam Khomeini dan penganut Syiah secara keseluruhan.


Melalui media-media berlabel Islam, di Indonesia disebar berita bahwa tahanan perempuan di Iran sebelum dieksekusi mati, diperkosa dulu oleh sipir penjara, sumber beritanya dari The Jerussalem Post, media Zionis.


Iran disebut negara penghasil dan bandar narkoba terbesar, padahal Iran mendapat penghargaan dari PBB sebagai negara yang paling keras melawan peredaran Narkoba. Ratusan gembong narkoba yang digantung tanpa ampun di Iran, diklaim bahwa Iran menggantung rakyatnya yang Sunni.


Komunitas Syiah Iran disebut memiliki Al-Qur’an yang berbeda, sementara Iran bukan hanya melibatkan delegasinya dalam pentas MTQ Internasional diberbagai negara muslim, namun juga menjadi tuan rumah untuk berbagai kegiatan Qur’ani berskala internasional. MTQ Internasional terakhir di Masjid Istiqlal Jakarta 2015, dua delegasi Iran malah menggondol juara untuk tingkat hafiz dan tilawah.


Syiah disebut-sebut bukan Islam, sementara ratusan ribu Syiah naik haji ke Mekah tiap tahunnya. Iran disebut negara Majusi dan bukan negara Islam, sementara kenyataannya, Iran terdaftar dalam anggota OKI, organisasi internasional yang hanya beranggotakan negara mayoritas muslim, dan tidak ada yang menolak keberadaan Iran dalam organisasi tersebut.


Meski berkali-kali berita hoax itu dibantah, tapi terus saja berita yang menyudutkan Iran beredar dan diulang-ulang oleh media-media berlabel Islam di Indonesia. Pejabat-pejabat negara, ulama, tokoh-tokoh Islam dan intelektual Indonesia yang mengunjungi Iran telah membeberkan dan memberikan pernyataan terbuka mengenai kondisi Iran yang sesungguhnya, termasuk oleh kepala Duta Besar Indonesia untuk Iran. Bahkan, ulama Ahlus Sunnah Iran sendiri yang langsung membantah dihadapan MUI dan tokoh Islam Indonesia dalam kunjungannya ke Indonesia, bahwa berita terzaliminya komunitas Sunni di Iran adalah propaganda dusta untuk memecah belah Sunni-Syiah.


Apa keuntungan yang didapat dari propaganda negatif memusuhi Iran? Apa serta merta negara-negara Islam lainnya menjadi kuat dan mampu membebaskan Palestina dari cengkraman Israel kalau semuanya serentak memusuhi Iran? Apa musuh-musuh Islam menjadi lemah dan tersudut malu melihat betapa kerasnya permusuhan negara-negara Islam lainya pada Iran? Apa serta merta kaum Sunni menjadi lebih Islami dengan terus menerus menghantam Syiah dengan kampanye Syiah bukan Islam? Atau malah sebaliknya, dunia Islam terus larut dalam perseteruan Sunni-Syiah dan melalaikan panggilan zaman untuk persatuan umat Islam. Kesibukan untuk membuktikan kesesatan Syiah atau sebaliknya justru akan melalaikan muballigh-muballigh Islam untuk menyelesaikan isu-isu ummat yang lebih urgen, pendidikan, mengatasi kemiskinan dan menjalankan agenda Islam yang prestisius, menjadi rahmat bagi seluruh alam.


Ayatullah Sayid Ali Khamanei (ulama Syiah Iran) mengatakan, siapapun Syiah yang menghujat Sunni ataupun mengangkat isu-isu yang memancing perseteruan ummat, maka dia adalah agen musuh yang harus dijauhi. Sekjen Hizbullah, Sayid Hasan Nashrullah (ulama Syiah Lebanon) mengatakan, Syiah ataupun Sunni yang secara provokatif memecah belah umat Islam dengan isu Sunni-Syiah, maka harus dipotong tangannya. Habib Ali al Jufri (ulama Ahlus Sunnah Yaman) mengatakan, musuh umat Islam adalah pihak-pihak yang berupaya meyakinkan, bahwa Sunni dan Syiah bermusuhan. Demikian pula yang disampaikan oleh Prof. DR. H. Quraish Shihab (ulama Ahlus Sunnah Indonesia) bahwa mereka yang memperseterukan Sunni dan Syiah adalah orang-orang yang terlambat lahir.


Pesan dan seruan para ulama Islam tersebut itu adalah juga pesan Al-Qur’an, Allah Swt berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Anfaal: 46). Kekuatan umat Islam adalah pada persatuannya, ada pada kesabarannya untuk meninggalkan ego dan fanatisme mazhab.


Sementara mereka yang menyibukkan diri dengan isu-isu khilafiyah, tidak punya dalil yang tegas baik dari Al-Qur’an maupun as Sunnah mengapa harus memaksakan pendapatnya bahkan bertindak keras dan kasar pada yang berbeda pendapat. Dalam surah al Baqarah ayat 213 disebutkan, penyebab melarutkan diri dalam perselisihan adalah kedengkian. Sebab jika motivasinya karena taat pada Allah Swt, maka perselisihan tersebut harusnya ditinggalkan dan menyerahkannya pada keputusan Allah Swt, itupun pada hari kiamat, bukan di dunia. “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. (Qs. As Sajdah: 25).


Tugas umat Islam, apapun mazhab dan alirannya, adalah berlomba-lomba dalam kebajikan, sebab jika Allah Swt menghendaki maka umat manusia menjadi umat yang satu, namun kenyataannya, tidak. Karena itu, umat Islam hendak diuji dengan perbedaan itu, untuk mengetahui siapa yang paling getol menyebar kebaikan, dan siapa yang malah lebih sibuk mengurusi perselisihan yang justru menghambat laju umat untuk mencapai kemajuannya dan memberi keuntungan besar pada musuh.


Kita bisa belajar banyak dari bangsa Iran, bagaimana persatuan, bukan hanya antar mazhab dalam Islam, namun juga dengan penganut agama lainnya, mereka bisa mendirikan negara yang bisa mengayomi semua pemeluk keyakinan, tanpa membeda-bedakan, dan menariknya republik yang didirikan itu berlabel Islam. Ulama-ulama Islam di Iran bisa meyakinkan rakyat Iran, bahwa Islam yang mereka usung adalah Islam yang memberi rahmat, Islam yang menjamin kebebasan penduduk untuk berbicara dan berkeyakinan dengan tidak saling mengusik satu sama lain.


Musuh bersama mereka adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kezaliman dan permusuhan terhadap sesama hanya karena berbeda. Inilah yang ditentang Amerika Serikat, gerakan Zionis dan sekutu-sekutunya. Yang mereka mulai dengan konspirasi dan ajakan untuk memusuhi Iran, agar tidak banyak yang mengambil manfaat dari kemenangan revolusi di Iran.


Dirgahayu kemenangan revolusi Islam Iran ke-40, selamat untuk bangsa Iran.


Ismail Amin, sementara menetap di Qom Iran


Keterangan foto:

Kedatangan Ahmadinejad di Jakarta, yang dielu-elukan masyarakat Indonesia tanpa memperdulikan mazhab Presiden Iran tersebut, Ahmadinejad bahkan diminta untuk menjadi khalifah... sayang, semuanya berubah dan mempersoalkan Syiah pasca konflik di Suriah, yang ternyata terbukti merupakan konspirasi Amerika Serikat dan Zionis untuk memecah belah umat Islam dan memberikan citra buruk pada gerakan-gerakan kebangkitan Islam.


*Notes: Tulisan ini dikutip dari status FB. Tulisan dipublish di blog ini karena mungkin bisa memberi perspektif alternatif.

Februari 2019 

Mari Berani Menguak Sejarah Islam

 


Oleh: Ismail Amin Pasannai


Sejarah tidak terlepas dari kekuasaan. Penguasa memerlukan sejarah sebagai legitimasi. Untuk itu dilakukan pembengkokan sejarah.


Sejarah meski telah berlalu, namun perannya sangat penting dalam menentukan langkah untuk perencanaan masa depan. Alquran sendiri pun tidak menafikan pentingnya sejarah untuk dipelajari, dibahas dan didiskusikan. Ada dimensi pencerdasan pada sejarah.


Alquran sarat dengan kisah umat terdahulu lengkap dengan anjuran untuk umat sekarang mengambil ibrah atas peristiwa-peristiwa masa lalu. Ketika Alquran mengisahkan mengenai Firaun, Namrud, Qarun, Bal’am sampai Abu Lahab, menunjukkan bahwa Alquran ingin agar pelaku-pelaku antagonis itu tetap direkam dan diingat oleh umat lintas generasi untuk tidak diikuti sepak terjangnya, sebab telah menjadi sunnatullah pasti akan berakhir tragis dengan azab yang pedih. Begitupun ketika Alquran mengisahkan tokoh-tokoh teladan.


Dengan mengetahui krusialnya peran sejarah, maka tidak heran, pihak-pihak yang berkepentingan akan berusaha menulis dan mewariskan catatan sejarah yang menguntungkan pihaknya. Rezim tiran untuk mendapatkan legitimasi dan melanggengkan kekuasaannya perlu menulis sejarah yang berpihak padanya meski sampai harus melakukan manipulasi untuk itu.


Contoh sederhananya pembengkokan sejarah yang dilakukan Orde Baru. Melalui kurikulum pendidikan, buku-buku pelajaran sejarah, museum, monumen, film-film dan berbagai peringatan ditanamkan doktrin ke generasi muda betapa berjasanya Soeharto terhadap negara. Ia digambarkan sebagai sosok pahlawan yang telah berkali-kali memberikan penyelamatan pada negara. Karenanya dengan manipulasi sejarah tersebut, wajar jika Seoharto bisa berkuasa sampai 30 tahun lebih.


Peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Hari Kesaktian Pancasila dan Serangan Umum 1 Maret 1949 diantara rekayasa sejarah oleh Orde Baru yang saat ini sedang berupaya diluruskan. Dimasa Soeharto berkuasa, hanya sejarah versi militerlah yang berhak hidup. Citra seorang pahlawan selalu diidentikkan dari kalangan tentara. Setelah kekuasaan Soeharto tumbang, bermunculanlah beragam versi sejarah. Tokoh-tokoh yang dulu dibungkam dengan penjara dan popor senjata berlomba-lomba mengungkapkan kesaksian. Dari para saksi hidup itulah terpampang sejarah yang sesungguhnya.


Dengan lahirnya Reformasi, yang sedikit memberi ruang gerak dan keleluasan untuk mempelajari, mengkaji, mengkritisi dan mendiskusikan sejarah maka terungkaplah banyak kisah yang selama ini ditutup-tutupi. Generasi jadi lebih leluasa mengenal jasa Tan Malaka pada Republik, yang oleh Orde Baru dicap komunis dan dicitrakan sebagai pengkhianat.


Kita jadi tahu, peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru betapa telah memakan banyak korban dari anak bangsa. Rakyat jadi tersentak kesadarannya dan akhirnya menolak lupa atas terjadinya tragedi pembantaian massa muslim di Tanjung Priok, Operasi Seroja di Timor Timur dan berbagai kasus pelanggaran HAM oleh operasi militer di Aceh.


Hal serupa pun tentu saja berlaku dalam sejarah Islam. Dinasti-dinasti yang pernah berkuasa pada periode kekhalifahan tentu saja memproduksi narasi sejarah versi mereka sendiri. Dengan runtuhnya kekhalifahan maka proyek penulisan sejarah Islam bisa lebih obyektif dan terbuka.


Sama halnya pasca tumbangnya Orde Baru, maka runtuhnya kekhalifahan terakhir di Turki memicu munculnya beragam versi sejarah Islam yang lebih terbuka untuk didiskusikan, bahkan tidak sedikit diantara versi tersebut ada yang saling berbenturan. Begitupun dengan adanya kondisi yang lebih leluasa mengkaji dan menelusuri sejarah, maka terkuaklah sejumlah narasi penting dalam sejarah Islam yang dulu ditutup-tutupi atau melalui rekayasa politik dan sosial berusaha untuk dihilangkan.


Sebutlah tragedi Asyura dan tragedi Al-Harrah diantaranya. Dua tragedi kelam dalam sejarah Islam yang terjadi pada masa rezim Yazid bin Muawiyah ini banyak tidak diketahui umat Islam, baik karena sejarahnya hanya disampaikan sekilas lalu atau memang sengaja tidak diperkenalkan sama sekali.


Tragedi Asyura adalah tragedi pembantaian keluarga Nabi Muhammad saw pada tahun 61 H di Padang Karbala oleh 4 ribu tentara Yazid bin Muawiyah yang dipimpin Umar bin Sa’ad, diantara yang menjadi korban adalah Sayyidina Husain, cucu Nabi Muhammad saw. Tahun 63 H masih saat Yazid bin Muawiyah berkuasa, penduduk Madinah mencabut baiatnya atas Yazid setelah mengetahui kedok Yazid yang banyak menyimpangkan syariat termasuk telah bertanggungjawab atas kematian Imam Husain as di Karbala.


Akibat dari pencabutan baiat tersebut, Yazid memerintahkan Muslim bin Uqbah membawa 10 ribu pasukan tentara untuk menyerang Madinah. Akibat serangan tersebut, kota Madinah hancur, sejumlah sahabat Nabi dibunuh dan ribuan gadis perawan Madinah dirusak kehormatannya oleh tentara Yazid. Tragedi tersebut dikenal dengan nama Tragedi Al-Harrah.


Meski sampai saat ini masih ada pihak-pihak yang berusaha menutupi sejarah kelam ini, dan berusaha membersihkan nama Yazid dengan beragam dalih, namun mahkamah sejarah akan tetap mengusut dan mengejar para pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut tanpa mengenal batas wilayah dan waktu. Upaya menghapus jejak-jejak berdarah tidak akan berhasil, sebab sudah menjadi tanggungjawab intelektual seorang muslim untuk mempersembahkan catatan sejarah yang benar pada generasi berikutnya. Yang menghalang-halangi penelusuran dan pelurusan sejarah adalah musuh-musuh kebenaran. Alquran saja dalam sejumlah ayatnya mengkritisi versi sejarah yang salah yang terlanjur dipercaya manusia kebanyakan dimasanya.


Pilihlah Versi Sejarah yang Paling Mendekati Kebenaran


Kalau dulu, sejarah Islam ditulis untuk mempertahankan status quo rezim yang berkuasa. Sekarang, sejarah Islam ditulis untuk melegitimasi mazhab atau untuk menjatuhkan mazhab tertentu yang menjadi rival. Karenanya tidak heran, versi sejarah Islam satu sama lain bisa saja saling bertubrukan. Lantas bagaimana kita mengetahui versi sejarah yang benar, sebab tidak mungkin kesemua versi itu benar semua?.


Pertama, beranilah keluar dari zona nyaman. Beranilah untuk menyelami kekedalaman lautan ilmu. Baca buku sebanyak-banyaknya. Jangan mencukupkan diri dengan versi sejarah Islam yang selama ini kau dapatkan dan pelajari. Beranilah untuk keluar dari pakem mayoritas, sebab kebenaran tidak bertumpu pada yang banyak tapi pada rasionalitas dan realitas.


Kedua, beranilah berpendapat dan beranilah berdebat. Pelajari semua versi yang ada kemudian tabrakkan satu sama lain. Pakailah prinsip, kebenaran tidak mungkin terpental. Jika versi sejarah yang kau yakini bertabrakkan dengan realitas dan fakta, maka itu versi sejarah yang layak buat ditinggalkan.


Hantamkanlah pandanganmu dengan pandangan orang lain yang berbeda dengan sekeras-kerasnya, dan lihat siapa yang terpental. Ingat, yang diadu dan dihantam adalah pandangan, ide dan keyakinan, bukan baku hantam fisik. Jika ada yang mengajak baku hantam fisik ketika berdebat mengenai sejarah, itu karena versi sejarah yang diyakininya lembek kayak krupuk.


Ketiga, pakai prinsip ini: Jika ada kelompok yang melarang-larang sejarah untuk dikaji, dikritisi dan didialogkan yakinlah itu kelompok bayaran dari penguasa tiran yang terlambat lahir. Mereka semestinya tidak lahir dan hidup di era kebebasan dan terbuka seperti saat ini. Mereka harusnya hidup di eranya Firaun dan Bani Umayyah. Betapa banyak kerugian intelektual yang harus kita alami gara-gara kelompok ini. Disaat semua orang tengah berkecimpung dalam pemikiran rasional mereka malah masih berkutat dalam interpretasi literal secara tekstual, itupun dipahami secara sempit dan fanatik. Dari orang-orang arogan inilah, lahir ideologi kekerasan dan teror atas nama Islam.


Keempat, ikuti yang paling baik. Alquran mengingatkan, “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Qs. Az-Zumar: 18).


Disini Allah swt menyampaikan bahwa diantara ciri orang yang berakal adalah mendengarkan semua perkataan, beragam pandangan dan perbedaan pendapat lalu mengikuti yang paling baik dari semuanya. Bukan dari tanda keislaman yang baik jika seseorang ngeyel dengan pendapatnya sendiri yang belum tentu benar hanya karena itu yang didapat dari gurunya atau bahan bacaannya.


Saya sering mendapati orang yang ketika pendapatnya dikritisi dan disodorkan realita lain, akan membantah dengan berkata, “Pendapat apa itu? saya tidak pernah mendapatkan sebelumnya, tidak ada di buku, dan tidak ada ulama yang mengatakan itu.” Pertama, dia menjadikan pengetahuannya yang sempit sebagai patokan kebenaran. Artinya, kalau tidak dia ketahui berarti tidak ada dan salah. Kedua, dia menganggap buku yang dibacanya hanya itu buku yang ada di dunia. Ketiga, dia mengira ulama hanyalah yang dia kenal dan ketahui saja, selain itu tidak ada ulama.


Intinya, jangan phobia dengan adanya suguhan fakta sejarah yang berbeda dari yang selama ini kita telah yakini kebenarannya. Islam adalah proses pencarian kebenaran yang tiada henti. Persiapkan alat-alat dan perangkat yang dibutuhkan dalam penelurusan sejarah, jangan lupa pakai sabuk pengaman. Mari berselancar.


Antara Syahid Muthahari dan Ki Hadjar Dewantara

 


Oleh : Ismail Amin Pasannai *)


 Setiap tanggal 12 Urdibehest [bulan kedua dalam penanggalan kalender Hijriah Syamsi] di Iran diperingati secara nasional sebagai hari guru. Penetapan hari guru ini untuk mengenang kesyahidan Ayatullah Murtadha Muthahari pada tanggal 12 Urdibehest tahun 1358 HS [bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1979] yang terbunuh di tangan kelompok anti Revolusi.


Ayatullah Muthahari adalah seorang ulama besar Iran yang bukan hanya mengajar di Hauzah Ilmiah [sejenis pesantren yang khusus untuk mengkaji ilmu-ilmu agama] namun juga mengajar di Universitas-universitas ternama di Teheran.


Beliau diantara sedikit ulama saat itu yang bisa memadukan ilmu-ilmu hauzah dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang diajarkannya di Universitas. Karya-karyanya sangat beragam yang meliputi banyak bidang, baik teologi, tasawuf, filsafat, logika, fiqh, politik, pendidikan, akhlak dan ilmu-ilmu sosial, yang kesemuanya mendapat sambutan luas masyarakat, bahkan sampai sekarang masih terus dicetak ulang tanpa kehilangan aktualitasnya.


Pada tahun 1934, dalam usia 36 tahun, ia mengajar logika, filsafat, dan fiqh di Fakultas Teologia, Universitas Teheran. Ia juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Filsafat. Keluasan ilmunya tampak pada nama-nama kuliah yang diasuhnya: kuliahfiqh, kuliahAl-Ushul,kuliahIlmu Kalam,kuliahAl-Irfan(Tasawuf), kuliah logika, dan kuliah Filsafat.


Kecemerlangan otak dan keluasan ilmunya, serta jabatan-jabatan penting yang dipegangnya semestinya dapat memberikan kehidupan yang nyaman dan mapan untuknya. Namun Ayatullah Muthahari malah memilih badai daripada damai. Sebagai ulama dan muballigh Islam, ia aktif berdakwah. Tidak jarang, khutbahnya di radio-radio Tehran memerahkan telinga rezim Syah saat itu. Sebagai murid Ayatullah Khomenei, ia juga terlibat dalam pergerakan politik untuk menjatuhkan rezim Syah Pahlevi.


Pada tahun 1963 ia ditahan bersama Imam Khomeini. Saat sang guru diasingkan ke Turki, ia yang menggerakkan para ulama mujahidin untuk terus melakukan penentangan terhadap kezaliman rezim Pahlevi. Masjid Al-Jawad yang ia menjadi imam masjidnya, tidak hanya dijadikannya sebagai tempat ibadah an-sich, namun juga menjadi pusat gerakan politik Islam. Dianggap mengganggu stabilitas Negara, pada tahun 1972 Masjid Al-Jawad dilarang secara politik oleh rezim Syah dan kembali Ayatullah Muthahhari dijebloskan ke Penjara. Berkali-kali dipenjara, tidak mengubah pendirian dan arah perjuangannya. Setelah bebas, ia kembali melanjutkan aktivitas politiknya. Pada akhirnya tahun 1978, rezim Syah melarang total semua kuliah dan khutbahnya.


Keaktifannya di berbagai organisasi politik seperti Husyainiya-yi Irsyad dan Jami’ayi Ruhaniyat-i Mubariz membuatnya diangkat sebagai ketua Dewan Revolusi Islam oleh Imam Khomeini yang saat itu masih berada dalam pengasingannya di Paris, pada tanggal 12 Januari 1979. Revolusi Islam Iran meledak tanggal 11 Februari 1979 dibawah pimpinan Imam Khomeini, dan Ayatullah Muthahari tetap memegang jabatannya sebagai ketua Dewan Revolusi Islam pasca Republik Islam Iran berdiri.


Hanya peluru yang kemudian berhasil menghentikan aktivitasnya. Tanggal 1 Mei 1979, Ia dibunuh oleh kelompok Furqan yang anti Revolusi. Sepulang dari memimpin rapat Dewan Revolusi Islam,  ia diterjang sebuah peluru yang menembus bagian atas kelompak matanya dan bersarang dikepalanya. Pada keesokan harinya 2 Mei 1979, masyarakat Iran membanjiri upacara pemakamannya di areal Haram Sayyidah Maksumah di kota Qom. Mereka berdatangan dengan berpakaian serba hitam sembari membawa setangkai bunga yang kemudian menumpuk di atas pusaranya. Sekolah-sekolah, hauzah, universitas dan lembaga-lembaga penelitian diseluruh penjuru Iran pada hari itu diliburkan, semuanya larut dalam kedukaan atas wafatnya sang guru bangsa.


Hari itu juga oleh Imam Khomeini, 12 Urdibehest atau tepatnya 2 Mei ditetapkan sebagai hari guru nasional. Ayatullah Syahid Muthahari mewakili sosok guru yang sejati, ia belajar, mengajar dan berjuang sampai mencapai kesyahidan.


Selanjutnya, di Iran setiap hari guru tiba, murid-murid sekolah hari itu membawa setangkai bunga atau kado untuk diberikan kepada guru-gurunya. Guru sangat dimuliakan dan diistimewakan di Iran. Bahkan menjadi profesi yang favorit. Rakyat Iran memandang tanpa peran guru, generasi muda bangsa tidak akan mendapat pendidikan yang memadai untuk melanjutkan estafet pembangunan bangsa. Imam Khomeini rahimahullah berkata, peran guru tidak ubahnya peran para Anbiyah As.


Menariknya pada hari yang sama yaitu 2 Mei, di Indonesia diperingati Hari Pendidikan Nasional. Kalau di Iran, untuk mengenang jasa besar Ayatullah Syahid Muthahari pada dunia pendidikan Iran dengan menjadikan hari kesyahidannya sebagai hari guru, di Indonesia hari kelahiran tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hari Pendidikan Nasional. Sama halnya Ayatullah Muthahari, Ki Hadjar Dewantara, yang dari kalangan priyayi dan keluarga kaya [dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat] memilih meninggalkan kehidupan mapannya untuk memperjuangkan nasib bangsanya. Karena kekritisan dan kecamannya terhadap kolonialisme Belanda, ia diasingkan ke Belanda. Ia juga dikenal sebagai penulis handal, tulisan-tulisannya tersebar di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara.


Tidak ubahnya Ayatullah Muthahari bagi rakyat Iran, Ki Hadjar Dewantara mampu membangkitkan semangat anti kolonial rakyatnya melalui tulisan-tulisan dan orasi-orasinya yang patriotik. Jika Ayatullah Muthahari bersama Ali Syariati dan tokoh-tokoh intelektual Islam Iran lainnya mendirikan Husyainiya-yi Irsyad untuk membangkitkan semangat rakyat Iran dalam menghadapi kezaliman rezim Syah saat itu, Ki Hadjar Dewantara bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.


Kalau Ayatullah Muthahari dijebloskan ke penjara karena menentang perayaan mewah memperingati 2500 imperium Persia ditengah-tengah kemiskinan dan kemelaran rakyat Iran, Ki Hajar Dewantara harus mengalami pembuangan ke pulang Bangka karena memprotes perayaan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.


Kedua  tokoh ini terus dikenang oleh bangsanya karena pengorbanan, perjuangan dan jasa-jasanya yang besar bagi rakyat dan masa depan bangsanya. Keduanya dikenang karena semangat altruisme yang mereka miliki, semangat untuk berguna bagi sebanyak-banyaknya orang, meskipun itu harus meninggalkan kenyamanan sendiri. Sama halnya di Iran, sudah semestinya di Indonesia guru dihargai dan dihormati, lebih dari apa yang telah mereka dapatkan selama ini.

 


*)  Kepala Departemen Kajian Strategis dan Intelektual IPI Iran 2018-2019

Sayid Raisi Membungkam Kritikan Marcon



Di sela-sela sesi ke-77 Majelis Umum PBB di New York, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi mengadakan pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Selasa (20/9). Pembicaraan yang awalnya hanya diagendakan 45 menit berlanjut sampai 90 menit, sebab setelah Raisi mengkritik pendekatan Eropa (Prancis-Jerman-Inggris) terhadap Iran yang disebutnya tidak konstruktif dalam kesepakatan IAEA, Macron melakukan kritikan balik yang tidak nyambung.

Macron mengkritik Iran dalam kasus terbaru Mahsa Amini dan meminta Iran lebih menghormati hak-hak perempuan.

Raisi menanggapi kritikan tersebut dengan mengatakan:

Pertama, kemajuan yang dicapai perempuan Iran setelah revolusi Islam Iran sangat luar biasa. Jika anda ingin mengetahui fakta-fakta itu, jalan-jalanlah ke Iran…

Kedua, masalah Iran terkait dengan orang Iran. Kalau Prancis mau ikut campur, sekalian saja anda membuat pernyataan tentang kekerasan polisi terhadap perempuan di AS dan negara-negara Barat yang jauh lebih banyak kasusnya dari Iran…

Ketiga, sanksi adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan korbannya tidak mengenal laki-laki dan perempuan, dan Barat harus bertanggung jawab atas kejahatannya terhadap bangsa Iran… Jika memang anda peduli pada nasib seorang Mahsa Amini, seharusnya anda lebih peduli pada nasib jutaan rakyat Iran yang menderita akibat sanksi anda pada Iran…

Keempat, setiap negara memiliki hukumnya sendiri. Kami tidak mentolerir kekerasan dalam penegakan hukum, dan jika itu memang benar terjadi, penindaknya kami hukum. Di Prancis, jika wanita berjilbab, dia tidak dapat menerima layanan sosial….

Macron: engg, anu….

Pembicaraan ini dibocorkan oleh Deputi Bidang Politik Kantor Kepresiden Iran Mohammed Jamshidi, yang juga turut hadir mendampingi Presiden Raisi dalam pertemuan tersebut sebagaimana diberitakan Farsnews.

Penulis :

Ismail Amin Pasannai

Kembalinya Sang Revolusioner Islam


 TELEGRAFNESIA.COM - Sejarah adalah peristiwa yang berulang, 1 Feruari 1979 adalah hari dimana sang revolusioner Islam Imam Khomeini kembali ke Iran setelah 14 berada dalam pengasingan.


Sejak meletusnya revolusi Iran, Imam Khomeini sebagai tokoh sentral diasing pemerintahan Syah Reza Pahlevi dari satu negara ke negara lainnya hingga 14 tahun lamanya.


Namun, kembalinya Imam Khomeini ke Iran, rupanya tidak lepas dari niat Syah Reza Pahlevi melalui Perdana Menteri Iran dengan maksud bisa meredam api revolusioner.


Akan tetap rencana busuk Syah Rezah dan Perdana Menterinya diketahui Imam Khomeini. bahkan skenarion melakukan pertemuan dengan sang Imam guna membahas 'Vatikan'di Qom tak berjalan.


Setelah menginjakan kaki di Iran, Imam Khomeini meminta melakukan ziarah ke Pemakaman Behesht e Zahra,tempat banyak orang yang terbunuh selama revolusi dimakamkan.


Selanjutnya, sepengal bagian dari sejarah jatuhnya kekuasan Syah Reza Phalevi serta berbaiatnya ratusan petinggi militer Iran tanpa syarat, ini di tulis oleh Ismail Amin Pasannai, seorang mahasiswa asal Indonesia d Iran dengna judul tulis 'Kesetiaan Yang Butuh Penjelasan'.


1 Februari 1979 kembalinya Imam Khomeini dari perasingan. Setelah 14 tahun tinggal di perasingan di Turki, kemudian ke Irak dan selanjutnya ke Paris, Imam Khomeini akhirnya kembali ke Iran.


Sesuatu yang tidak pernah diprediksi oleh pengamat dan analils politik manapun. Kedatangan Imam Khomeini difasilitasi Shapour Bakhtiar, Perdana Menteri yang ditunjuk oleh Syah.


Sebuah komite penyambutan dibentuk pada 21 Januari 1979, untuk mengatur dan memastikan kembalinya Imam Khomeini.


Bakhtiar ingin mengajak imam berunding. Dia hendak menawarkan Imam Khomeini untuk membuat ‘Vatikan’ di Qom.


Semestinya begitu tiba di bandara, komite penyambutan akan mengarahkan Imam untuk bertemu dengan Bakhtiar yang terpaksa tiba di bandara dengan helikopter karena jutaan rakyat Iran yang hendak menyambut Imam Khomeini telah memenuhi bandara.


Tapi kehadiran Bakhtiar tidak digubris oleh Imam. Imam malah minta dibawa ke Pemakaman Behesht-e Zahra, tempat banyak orang yang terbunuh selama revolusi dimakamkan.


Jutaan pendukung berbaris di jalan menyoraki namanya, dan ratusan ribu orang berkumpul di pemakaman untuk mendengarkan pidatonya.


Dalam pidatonya, Imam Khomeini menyatakan bahwa kabinet Shapour Bakhtiar adalah ilegal dan dia mengatakan akan mendirikan pemerintahan revolusioner sementara.


Pidato itu membuat marah Bakhtiar. Dia ngotot bahwa pemerintahannyalah yang sah sebagai amanah dari Syah dan satu-satunya di Iran, siapapun yang membentuk pemerintahan tandingan akan ditindak keras dan akan diperangi dengan kekuatan penuh.


“Para mullah harus pergi ke Qom dan membangun tembok di sekitar mereka dan membuat Vatikan mereka sendiri.” Kata Bakhtiar.


Imam tidak bergidik. Dia menunjukkan keseriusannya membentuk pemerintahan revolusioner. Pada 5 Februari di markasnya di Madrasah Refah di Teheran selatan, Imam Khomeini mendeklarasikan pemerintahan revolusioner sementara.


Ia mengangkat Mehdi Bazargan sebagai perdana menterinya sendiri dan memerintahkan rakyat Iran mematuhi Bazargan sebagai kewajiban agama.


Sejak itu terjadilah dualisme kekuasaan. Bakhtiar memerintahkan militer mengerahkan kekuatan penuh untuk menghabisi pemberontak (pendukung Khomeini) sementara Imam Khomeini juga menyerukan para pendukungnya untuk menduduki jalan-jalan di seluruh negeri.


Situasi kritis yang membuat Dewan Militer berada dalam kegamangan. Jenderal Mehdi Rahimi panglima militer dan komandan pengawal kekaisaran menolak menggerakkan pasukannya untuk memerangi pemberontak karena tidak ingin terjadi pembantaian massal pada rakyat sipil.


Hampir di semua negara yang mengalami kekacauan politik, militer akan segera mengambil alih kekuasaan dengan kekuatan senjata mereka.


Baik itu sementara ataupun membuat sistem yang menguntungkan petinggi militer untuk berkuasa sepenuhnya.


Tapi beda dengan yang saat itu terjadi di Iran. Perwira-perwira tinggi militer bukan hanya tidak ada dari mereka yang berinisiatif mengambil alih kendali kekuasaan, mereka malah mengambil keputusan gila yang tidak pernah disangka oleh siapapun.


Disaat Bakhtiar sebagai penguasa tertinggi mewakili Syah memerintahkan militer menghabisi demonstran, Perwira-perwira tinggi militer tanpa diminta siapapun menemui Imam Khomeini.


Mereka datang dengan memberi hormat militer, menyerahkan tongkat komando dan menyatakan baiat kesetiaan pada Imam dan revolusi Islam. Dunia seketika berguncang dasyhat dengan momen bersejarah tersebut.

Penyerahan tongkat komando yang menandai kemenangan revolusi Islam Iran dan runtuhnya rezim despotik Pahlevi.

8 Februari 1979, Angkatan Udara lebih dulu menyatakan kesetiaan pada Imam Khomeini. Menyusul angkatan militer lainnya termasuk Kepolisian pada tanggal 11 Februari 1979.

Siang itu juga dengan semua kekuatan militer telah berada di tangannya, ditanggal 11 Februari 1979, Imam Khomeini menyatakan kemenangan revolusi Islam Iran dan berakhirnya kekuasaan Syah Pahlevi atas Iran.


Bakhtiar melarikan diri dari istana di bawah hujan peluru, dan berhasil keluar dari Iran dengan menyamar.


Prof. Bernard Lewis, pakar kajian timur tengah dari Inggris berkata, "Ini jelas sebuah kejadian yang harus dijelaskan.”

Sampai detik ini, kedigdayaan kekuasaan para Mullah di Iran berdiri di atas kesetiaan para tentara.


Kaum mullah dan cendekiawan boleh memiliki peran besar dalam kemenangan Revolusi Islam Iran dengan agitasi dan propaganda mereka namun tentaralah yang memuluskan jalannya revolusi Iran sehingga mencapai kemenangannya.

Para perwira yang hidup dengan gemilang kemewahan, gaya hidup sekuler dan permisif di zaman Syah dengan sumpah setia untuk menjaga kekuasaan Syah sampai mati tapi seketika berbalik arah dan mendukung Imam Khomeini dengan kesetiaan dan dukungan yang tidak terperikan bahkan sampai sekarang. Ada yang bisa menjelaskan?. (**)


Editor: Abdi Firmansyah Sutomo

Kharisma Soekarno di Mata Pemimpin Dunia

 


Kharisma Soekarno memang masih terus hidup, setidaknya di mata pemimpin dunia yang di waktu mudanya mengenal Soekarno sebagai sosok yang inspiratif… dikenal sebagai pemimpin dunia yang berwibawa dan tidak hanya memikirkan nasib bangsanya sendiri, tapi juga nasib bangsa-bangsa lain, khususnya yang masih tertindas… Setidaknya dua pemimpin dunia saat ini mengakui itu….A


yatullah Sayid Ali Khamanei, pemimpin tertinggi Iran mengungkap hal itu di depan putri Bung Karno langsung… saat bertemu tahun 2004 dengan Megawati, ia menyebut Soekarno adalah tokoh penting yang membangkitkan semangat negara-negara yang baru merdeka untuk tidak minder di hadapan negara-negara adi kuasa… dia memompa semangat kemandirian untuk bangkit berdiri di atas kaki sendiri…


“Soekarno saat itu menghimpun negara-negara Asia-Afrika untuk bersatu, sesuatu yang sebenarnya sangat sulit dilakukan sebab letak geografis negara-negara yang berjauhan. Kehadiran Gerakan Non Blok menjadi penting, untuk tidak hanya menjadi penonton di tengah dua blok yang saling berebut pengaruh.” Ungkapnya.


Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan pemimpin-pemimpin Indonesia, SBY, Budiono, dan Jokowi, Ayatullah Ali Khamanei tidak lupa mengenang Soekarno dengan mengutip quote-quotenya. Ia selalu memesankan, pemimpin-pemimpin Indonesia untuk berpegang pada ajaran Bung Karno. Dalam pidatonya di hadapan rakyat Iran, ia mengaku, Soekarno adalah salah satu orang yang berpengaruh besar dalam membentuk pemikiran kebangsaannya dan bagaimana ia memahami nasionalisme…


Satu lagi, Raja Salman… penguasa Arab Saudi saat ini…Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya hanya karena bertemu dengan putri Bung Karno… dia malah menyebut itu pertemuan bersejarah… ia mengatakan, tidak akan pernah bisa lupa pertemuannya dengan Prokolamator Indonesia saat kunjungannya ke Arab Saudi tahun 1955.


Salman berusia 20 tahun saat itu. Begitu baru tiba di Indonesia, yang pertama dicari Raja Salman adalah cucu Soekarno. “Saya ingat sekali, Presiden Soekarno itu suka sekali mengatakan ‘saudara-saudara” katanya kepada Puan Maharani… Sewaktu Bung Karno menunaikan ibadah haji, ia merasakan begitu gerahnya di Padang Arafah. Di bawah terik cuaca yang begitu panas tidak ada pohon sama sekali. Dia langsung mengusulkan ke Raja Saud agar ditanam pohon untuk membuat jamaah haji setidaknya bisa sedikit lebih nyaman.


Tidak hanya memberi usul, tidak lama kemudian dikirim bibit pohon mindi dan mimba langsung dari Indonesia. Sampai sekarang pohon-pohon itu masih ada, dan dikenal dengan nama Syajarah Karno atau Pohon Karno….Ayatullah Ali Khamanei, memang tidak pernah bertemu langsung Bung Karno… tapi ia pelahap buku dan transkrip pemikiran founding father Indonesia itu…


Bagi Raja Salman, mungkin tidak sedalam itu mengenal ajaran Bung Karno, tapi ia tetap mengakui Soekarno adalah sosok yang tidak bisa dilupakan nama besarnya…. selama di Indonesia dia tidak mengingat Soeharto sama sekali… tidak juga mencari anak cucunya…


Sumber : Status Facebook Ismail Amin Pasannai

Sosok di Balik Kebesaran Nama Kartini


 Lasem pada hari Rabu tanggal 21 April 2021 segenap Karyawan Karyawati Kantor Kecamatan Lasem mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir R.A. Kartini secara Virtual yang di siarkan langsung di Pendopo Museum RA. Kartini Kabupaten Rembang.


MENGINGAT KARTINI, MENGENANG KARTONO


Di Hari Kartini, kita lebih disibukkan mengenang RA Kartini beserta keharuman namanya, tanpa kita mencoba mencari tahu, siapa yang berperan dibalik kebesaran nama Kartini.


Tidak terpikirkah dari mana Kartini yang tengah dipingit mendapatkan literatur-literatur Eropa yang dicetak terbatas seperti, majalah terkenal Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, De Locomotief dan juga melahap karya Multatuli berjudul Max Havelaar. Ia juga membaca karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata)?.


Ia mendapatkan semua bacaan itu dari kakak laki-lakinya. Kakak yang sangat berperan besar dalam pertumbuhan intelektual dan kemajuan berpikir Kartini. Nama kakaknya, Kartono. Lebih lengkapnya Raden Mas Panji Sosrokartono.


Disetiap peringatan Hari Kartini, Kartono tidak pernah disebut, bahkan dalam buku pelajaran sejarah anak sekolahan, ia tidak diperkenalkan sama sekali.


Kartono lahir pada Rabu Pahing 10 April 1877, dua tahun lebih dulu dari kelahiran Kartini, adiknya. Ia adalah putra R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Sejak kecil, kecerdasan dan kemajuan berpikirnya telah mulai tampak, dan itu ditularkannya kepada adiknya. Ia menamatkan pendidikan dasar di Eropesche Lagere School di Jepara, kemudian melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 Sosrokartono melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda, yang karena itu dialah mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikannya di negeri Belanda sekaligus Bumiputra pertama yang bergelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden dengan spesialisasi jurusan Bahasa dan Kesustraan Timur.


Ia menguasai setidaknya 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di tanah Nusantara. Dengan keahliannya dalam banyak bahasa, ia melanglang buana di banyak negara di Eropa. Ia dijuluki di Eropa “si Jenius dari Timur”. Bahkan lebih dari itu, ia dilibatkan dalam Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) yang didirikan tahun 1919, sebagai kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa dari tahun 1919 sampai 1921. Ia berhasil mengalahkan beberapa poliglot (orang yang mampu menggunakan beberapa bahasa) lain dari Eropa dan Amerika.


Selama di Eropa, dia juga bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar dan majalah terkenal. Darinyalah Kartini mendapatkan buku dan buletin, yang kerap dikirimkan kakaknya. Dari buku kiriman Kartonolah, Kartini mendapatkan pencerahan dalam mendobrak tradisi dan memperjuangan lahirnya gerakan emansipasi perempuan di nusantara. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebut kakaknya sebagai orang yang sangat mendukung gagasan-gagasannya, termasuk banyak membantunya dalam mengatasi berbagai persoalan. Kartini menyebut Kartono lah yang paling banyak menginspirasinya dalam melahirkan gagasan-gagasan yang mendobrak tradisi yang cenderung membatasi gerak pikir kaum perempuan.


Pada tahun 1925, Kartono kembali ke tanah air. Ia mendirikan sekolah dan perpustakaan yang diidam-idamkan adiknya yang berpulang terlebih dahulu di tahun 1904. Ia juga merintis Taman Siswa bersama Ki Hajar Dewantara di Bandung. Selain aktif di dunia pendidikan, keterlibatannya dalam aktivitas politik membuatnya sering bersinggungan dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Namanya tercatat dalam list Pemerintah Kolonial Belanda sebagai pelopor gerakan nasional Indonesia yang berbahaya bagi Pemerintah Hindia Belanda.


Sampai akhir hayatnya, Raden Mas Panji Sosrokartono terus memberikan pencerahan dan pendidikan bagi orang banyak, sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1952. Ia tidak menikah, yang dengan itu ia tidak punya anak. Nasehat bijaknya yang sangat populer hingga saat ini meski namanya justru tidak dikenali, “Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurung tanpa bala, menang tanpa ngasorake” yang artinya, kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa prajurit dan menang tanpa merendahkan.


Pada peringatan Hari Kartini, seyogyanya jangan lupakan peran besar Kartono. Tanpa kehadiran Kartono, yang melihat dengan pikiran terbuka bahwa perempuan juga sama posisinya dengan laki-laki dalam pikiran dan kecerdasan, gagasan-gagasan Kartini yang mendukung kemajuan perempuan Indonesia tidak akan lahir. Disaat lingkungannya membatasi gerak kaum perempuan hanya dalam memberikan pelayanan rumah tangga, Kartono mendorong Kartini untuk menggali dan mengembangkan potensinya. Ia mensuplai buku-buku dan bacaan bernas kepada Kartini, karena percaya perempuan juga bisa memiliki pandangan yang luas dan tajam, jika diberi peluang yang sama. Dari jauh Kartono mendidik Kartini untuk berpikir kritis dan jangan pasrah pada kenyataan yang tidak adil.


Di Hari Kartini, jadikanlah RA Kartini sebagai tokoh inspiratif untuk mencetak Kartini-Kartini baru, tapi jangan lupa, untuk juga mencetak Kartono-Kartono baru dengan mengambil inspirasi dari RM Sosrokartono, laki-laki yang melihat perempuan bukan sebagai obyek sensual tapi sebagai teman untuk berpikir bersama.


[Ismail Amin Pasannai]

Perginya Jenderal Iran Pembela Al-quds

 Oleh: Ismail Amin

Presiden Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran 2019-2021


Jumat 3 Januari 2020, masyarakat dunia dihebohkan dengan meninggalnya seorang perwira senior Iran akibat serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad, Irak.


Pentagon mengonfirmasi serangan tersebut atas arahan langsung Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.


Seusai terkonfirmasi Mayor Jendral Qasem Sulaemani yang menjadi target AS itu benar-benar termasuk korban jiwa dari insiden penyerangan tersebut yang dikenali dari cincin yang dikenakannya, Donald Trump mentweet foto bendera AS di akun twitternya sebagai tanda kemenangan.


Berbeda dengan Chris Murpy. Senator AS ini menilai menyerang Jenderal dari kesatuan militer resmi negara yang berdaulat adalah kesalahan fatal dan menjadi tanda ajakan untuk perang terbuka.


Ia menulis di Twitternya, balasan Iran harus menjadi kekhawatiran utama AS sejak mulai hari itu.


Seusai terkonfirmasi Mayor Jendral Qasem Sulaemani yang menjadi target AS itu benar-benar termasuk korban jiwa dari insiden penyerangan tersebut yang dikenali dari cincin yang dikenakannya, Donald Trump mentweet foto bendera AS di akun twitternya sebagai tanda kemenangan.


Berbeda dengan Chris Murpy. Senator AS ini menilai menyerang Jenderal dari kesatuan militer resmi negara yang berdaulat adalah kesalahan fatal dan menjadi tanda ajakan untuk perang terbuka.


Ia menulis di Twitternya, balasan Iran harus menjadi kekhawatiran utama AS sejak mulai hari itu.


Jutaan warga AS memiralkan tagar #dearIran dengan memberi pesan kepada Iran agar wilayahnya tidak mendapat serangan balasan karena mereka tidak memilih Trump dalam Pilpres AS.


Siapa Qasim Sulaemani yang kematiannya membuat heboh warga dunia khususnya warga AS?


Qasim Sulaemani adalah perwira senior Iran yang ditunjuk langsung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamanei untuk memimpin Korps Brigade Alquds, divisi khusus berisi pasukan elite yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial dari Iran.


Ia terlibat langsung di berbagai medan konflik di Timur Tengah, khususnya di Irak dan Suriah. Sesuai namanya, Brigade yang dipimpinnya bertugas menjaga Alquds termasuk situs-situs Islam di Suriah dan Irak dari ancaman penghancuran kelompok teroris.


Ia membantu Hizbullah di Lebanon dalam mengatasi serangan Israel dan juga membantu HAMAS di Palestina baik bantuan militer maupun bantuan strategi untuk memenangkan pertempuran.


Ia lahir di Kerman tahun 1957 dari keluarga petani miskin. Mengawali karier kemiliterannya dengan mendaftarkan diri menjadi anggota Korps Pengawal Revolusi Islam.


Di media-media Barat disebut Islamic RevolutionaryGuardsCorps (IRGC) seusai kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979.


Karena berperan penting dalam penanganan pemberontakan separatis Kurdi di Provinsi Azerbaijan Barat, ia naik pangkat secara cepat. Pada Perang Iran-Irak tahun 1980-1988, ia memimpin kompi militer.


Karena kelihaiannya dalam meracik strategi, di setiap operasi yang dikomandoinya, ia berhasil merebut kembali wilayah yang diduduki Irak. Saat itu ia masih berusia 25 tahun. Oleh AS ia dipercaya terlibat dalam gagalnya ISIS di Syam dan Irak.


Sulaemani diakui memberi bantuan strategi kepada Presiden Suriah Bashar Assad dalam melawan pasukan pemberontak dan merebut kembali kota yang sempat berada dalam cengkraman pemberontak.


Dengan kelihaiannya dalam merancang strategi perang dan berhasil meloloskan diri dalam berbagai upaya pembunuhan dalam dua dekade terakhir, Pentagon menjulukinya, ‘shadow commander’.


Terus, mengapa Sulaemani dibunuh AS? Dennis Etler, seorang analis politik Amerika dalam wawancaranya dengan Press TV menjelaskan bahwa pembunuhan sang Jenderal merupakan langkah putus asa AS setelah gagal dalam semua upaya untuk mengisolasi Iran.


Disebutnya, AS telah gagal berkali-kali dalam mengintimidasi Iran, mulai dari mengisolasi dengan memberlakukan embargo politik dan ekonomi, sampai pada upaya mengacaukan Iran secara internal.


Trump sudah diujung tanduk. Ia sedang berusaha mencari simpatik warga AS ditengah ancaman pemakzulan dirinya. Ia mengira dengan membunuh Jenderal Iran yang banyak menggagalkan misi AS di Timur Tengah ia menjadi disegani dan diakui.


Yang dilakukan Trump justru telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah ke tingkat yang lebih parah.


Ia telah mengambil keputusan fatal dengan memerintahkan membunuh orang berpengaruh kedua di Iran setelah Ayatullah Ali Khamanei.


Para pengamat menganalisa, perang dunia ketiga bisa saja terjadi, jika para pemimpin negara-negara besar tidak hati-hati bertindak.


Satu hal penting lainnya, kematian Mayor Jenderal Qasim Sulaemani atas perintah Trump membuka mata dunia.


Bahwa kebencian dan permusuhan AS terhadap Iran bukan main-main, bukan sandiwara apalagi settingan sebagaimana sering dikampanyekan sebagian orang.


Mungkin di dunia Islam namanya kurang dikenal, karena selain ia bekerja dalam senyap, juga karena kerja-kerja Amerika dan Israel berhasil merusak citra Iran melalui penguasaan media.


Namun bagi rakyat Palestina, Irak, dan Syam, dia adalah ksatria. Dia adalah pembela dan pahlawan mereka.


Kematiannya menggerakkan jutaan rakyat Irak menyerbu Kedutaan Besar AS di Baghdad. Gedung Putih segera memerintahkan warga AS untuk keluar dari Irak.


Sebagaimana jabatan yang diberikan Pemimpin Besar Iran padanya, sebagai Komandan Brigade Al Quds, Sulaemani telah menjaga Al Quds seperti menjaga nyawanya.


Petinggi-petinggi HAMAS Palestina setiap mengelu-elukan dan berterimakasih pada Sulaemani, ia berkata, "Berterimakasihlah pada Sayid Ali Khamanei yang telah memberi tugas mulia ini padaku".


Tidak jarang, petinggi HAMAS ke Iran hanya untuk menyampaikan terimakasih langsung pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamanei.


Tidak banyak yang tahu ini, karena konsumsi beritanya hanyalah kantor-kantor berita yang berafiliasi pada kepentingan AS dan Zionis yang memang bertanggungjawab merusak citra Iran di dunia Islam.


Selamat jalan Jenderal Besar. Darahmu yang tertumpah akan membunyikan lonceng kematian bagi kepongahan pembunuhmu. (*)




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More