Rabu, 29 Maret 2023

Belajar Menghargai Orang Lain


 Untuk bisa berbaur dalam suatu lingkungan, tentunya kamu harus bisa menjaga sikap dan perbuatan. Hal itu agar orang lain tidak sakit hati denganmu. Tentunya menghormati orang merupakan hal penting agar kamu bisa diterima keberadaannya.


Namun, terkadang orang lain sering melupakan attitude, sehingga tidak heran mereka akan kehilangan respect. Maka dari itu, simak 5 cara menghargai orang lain.


1. Jangan memotong pembicaraan orang lain


Tentunya semua orang tidak senang jika sedang menjelaskan sesuatu hal, namun orang lain suka memotong-motong pembicaraannya. Pastinya, dia akan merasa tidak dihargai dan akan menyinggung perasaannya.


Perlu diingat, hal tersebut sebaiknya harus kamu hindari. Kalau kamu mau dihargai oleh orang lain, maka kamu harus memperlakukannya dengan baik juga terhadapnya.



2. Jangan sekali-kali mencampuri urusan orang lain


Urusan yang sifatnya pribadi sebaiknya kamu tidak kepo, bahkan ikut campur dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Karena itu adalah cara untuk bisa lebih menghargai privasi seseorang.


Bagaimanapun juga, kamu harus bisa menahan diri untuk tidak mengusiknya, karena sikap tersebut bisa membuat orang lain akan tersinggung. Namun, kalau kamu dimintai pendapat atau saran olehnya secara langsung baru kamu bisa saling sharing dengannya.


3. Jangan melupakan kata 'tolong' jika sedang ingin meminta bantuan kepada seseorang



Tentunya orang lain akan kehilang respect denganmu, jika kamu bersikap kasar terhadapnya ketika ingin meminta bantuan. Kamu tidak mau berucap kata 'tolong' kepadanya, justru terkesan menyuruhnya secara paksa. Padahal itu adalah permasalahanmu yang menjadi tanggung jawabmu sendiri.



Mungkin kamu gengsi untuk mengucapkan hal tersebut karena tidak mau dipandang pengemis. Sebenarnya, orang lain justru akan mempertimbangkannya untuk menolongmu, jika kamu bisa bertutur kata yang baik dan sopan kepadanya.


4. Jangan merendahkan pendapat orang lain


Bagaimanapun juga, pendapat seseorang adalah buah pemikirannya yang setidaknya bisa dihargai oleh orang lain, meskipun pendapatnya itu salah. Karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam pemikirannya.


Maka dari itu, jika kamu menyepelekan pendapat seseorang, pasti dia akan tidak percaya diri, sakit hati, bahkan dia bisa saja marah terhadapmu. Sebaiknya, jangan sekali-kali merendahkan pendapat orang lain.


5. Bersikap sopan dengan orang yang baru kamu kenal


Berhadapan dengan seseorang haruslah bersikap sopan dan ramah, agar orang lain bisa menerima keberadaanmu, apa lagi dengan orang yang baru dia kenal. Tentunya, orang lain akan selalu mengingat first impression saat bertemu dengan seseorang agar dia bisa lebih akrab lagi kedepannya.


Berbeda hal jika kamu berbicara dengan orang terdekatmu, kamu bisa berucap lebih santai. Tapi, tetap dengan bahasa yang tidak kasar agar tidak menyinggung perasaannya.



Kentang, Telur, dan Kopi


 Suatu waktu, seorang anak perempuan menghampiri ayahnya yang bekerja sebagai koki. Ia berkata, “Ayah, aku sangat lelah menjalani hidup ini. Rasanya hidupku selalu dirundung masalah.” 

Ayahnya tersenyum. Ia lalu mengajak putrinya ke dapur. 

Di sana, ia mengeluarkan tiga buah panci, mengisinya dengan air yang sama banyak, lalu menjerang ketiga panci berisi air di atas kompor. 

Pada masing-masing panci, ia lalu memasukkan sebutir kentang, sebutir telur, dan sebutir biji kopi. Sambil menunggu air di dalam panci-panci tersebut mendidih, sang putri dengan kesal dan bosan melirik ayahnya. 

Apa yang ayahnya lakukan? Setelah dua puluh menit, ayahnya mengambil ketiga panci tersebut. “Cicipilah isi dari tiga panci ini, Putriku,” perintah sang Ayah. 

Gadis tersebut menurut. Ia mencoba sepotong kentang dari panci pertama. 

Kemudian, ia mengupas telur rebus dari panci kedua dan memakan sepotong. Terakhir, ia mencicipi kopi dari panci ketiga. “Bagaimana rasanya, Putriku?” tanya ayahnya. “Kentangnya enak dan lembut sekali. Telurnya enak dan kematangannya pas. Kopinya juga sangat enak,” jawab si gadis. 

“Apa maksud dari semua ini, Ayah?” Sang Ayah tersenyum lagi mendengar jawaban putrinya. “Lihat, ketiga bahan yang kamu coba Ayah rebus dengan cara dan waktu yang sama. Namun, ketiganya menghasilkan hasil yang berbeda. 

Kentang masuk dalam kondisi keras, namun menjadi lembut ketika sudah direbus. Telur masuk dalam kondisi rapuh, namun menjadi keras ketika sudah matang. Sementara kopi, masuk dalam bentuk biji, dan ketika direbus menjadi sesuatu yang baru; ia melebur bersama air panas menjadi kopi yang enak.” 

Gadis itu terlihat sudah mulai menangkap maksud ayahnya. “Seperti itulah kita menghadapi hidup, Putriku. 

Ketika masalah menghampiri kita, mau menjadi seperti apakah kita? Kentang, telur, atau kopi?” Kehidupan senantiasa memberikan kita ujian. 

Namun yang penting dari ujian tersebut bukan apa yang menimpa kita, melainkan apa yang terjadi pada diri kita. Kita harus keluar sebagai seseorang yang lebih baik lagi daripada diri kita sebelum menghadapi masalah tersebut. 

Dari kisah-kisah sederhana yang menyentuh hati, kita selalu dapat menarik pesan yang dapat menginspirasi kita untuk selalu semangat menjalani kehidupan.


Tali yang Mengikat Seekor Gajah

 Seorang pria yang sedang berkunjung ke kebun binatang mengunjungi habitat gajah dan terheran-heran melihat pemandangan di depannya. 

Seekor gajah yang bertubuh raksasa berdiri diam di samping sebatang pohon dengan seutas tali tipis mengikat pergelangan kakinya. 

Karena penasaran, pria tersebut lantas bertanya kepada pelatih gajah tersebut. 

“Mengapa Anda mengikat kaki gajah ini hanya dengan tali tipis? Bukankah ia bisa kabur sewaktu-waktu?

” Pelatih tersebut tersenyum, lalu menjawab sopan, “Pada saat ia masih kecil, saya mengikatnya dengan tali yang sama. Saat itu, tali ini masih sanggup menahannya untuk kabur. Sampai ia dewasa, ia selalu ingat bahwa ia tidak bisa ke mana-mana karena seutas tali ini. 

Maka, ia tidak pernah mencoba membebaskan diri.” Pria tersebut terkagum-kagum. Padahal, hanya dengan sekali gerakan, tali tersebut dapat putus. 

Namun, si gajah tidak melakukannya karena ia percaya bahwa tali itu akan selalu menahannya. 

Seperti gajah tersebut, manusia juga sering kali berhenti berusaha hanya karena ia pernah gagal sekali. 

Nyatanya, kegagalan adalah bagian dari kehidupan, dan semua orang pernah mengalaminya. 

Ketika kita gagal, kita harus belajar dari setiap kegagalan tersebut, dan terus memperbaiki diri agar dapat melampaui rintangan dan berhasil mencapai apa yang kita inginkan.


Mengubur Keledai


 Dalam perjalanan menuju padang rumput untuk digembalakan, seekor keledai terjatuh ke dalam lubang sempit yang dalam. Pria yang menggembalakan keledai tersebut berusaha keras menyelamatkan si keledai. 

Namun, segala cara telah ia coba dan tak ada satu pun yang berhasil. Keledainya tetap tersangkut di lubang itu. Karena putus asa, pria tersebut memutuskan untuk menguburkan keledai tersebut hidup-hidup. 

Dengan perasaan sedih ia mulai melemparkan segumpal demi segumpal tanah ke bawah. Ketika keledainya merasakan beban tanah di punggungnya, ia menggoyangkan punggungnya dan tanah tersebut berhamburan di bawah kakinya. 

Semakin banyak tanah yang dilemparkan si pria, semakin tinggi pula tanah yang dipijak si keledai. Akhirnya, ketinggian tanah tersebut cukup untuk membuat si keledai dapat melangkah naik dari lubang dalam tersebut. 

Pria penggembala tersebut bersuka cita dan melanjutkan perjalanannya ke padang rumput bersama si keledai. 

Pesan dari cerita ini adalah ketika kita ditimpa masalah, beban tersebut akan dapat kita lewati pada akhirnya. 

Dan dari setiap rintangan yang kita lalui, kita sedang merayapi tangga kehidupan sedikit demi sedikit, hingga tiba di puncak pada akhirnya. 2. Tali yang Mengikat Seekor Gajah



Belajar Dari Lubang Paku


Kisah inspiratif berikutnya adalah tentang seorang anak yang memiliki kondisi temperamen yang begitu buruk. Lalu ia diberikan sebungkus paku yang dari ayahnya. Ayahnya berkata jika anak tersebut sedang dalam kondisi marah ia harus memukul paku ke pagar.


Hari pertama ia menancapkan paku sebanyak 37. Namun seiring berjalannya waktu paku yang ia tancapkan ke pagar mulai berkurang. Hingga pada suatu waktu ia berhasil tidak menancapkan paku ke pagar.


Keberhasilan yang ia lakukan diceritakan kepada ayahnya. Sang ayahnya mulai memberikan perintah kembali untuk mencabut semua paku yang ia tancapkan di pagar sebelumnya. Lalu ketika anak tersebut telah menyelesaikan tugasnya, ia kembali menceritakan kepada ayahnya.


Lalu ayahnya mengajaknya keluar untuk melihat pagar tersebut dan berkata “bagus nak kamu sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik. Kamu sudah berhasil menguasai rasa amarahmu juga. Tapi bagaimana dengan pagar tersebut masih tetap ada lubang yang tersisa dari tancapan paku itu?” Tanya sang ayah kepada anak.


Lalu ayah tersebut mulai memberikan penjelasan singkat dengan berkata “lubang paku ini seperti amarah yang kau lontarkan kepada orang lain naik. Mungkin  kau berhasil meminta maaf kepadanya dan tak akan mengulanginya. Namun apakah luka yang akan  mereka terima bisa dengan cepat sembuh?” Ucap ayah tersebut.


Dari cerita tersebut kita bisa belajar jika ucapan dan tindakan yang didasari oleh rasa amarah hanyalah akan memberikan bekas luka kepada orang lain. Meski mereka memberikan ucapan maaf kepada kita ketika permintaan maaf kita lontarkan.


Namun apakah kita bisa menjamin luka yang mereka rasakan dari ucapan atau tindakan yang kita lakukan atas dasar amarah bisa sembuh, mungkin tidak. Bukan bagaimana cara mereka memberikan  ucapan pengampunan kepada kita.


Tapi bagaimana kita mengendalikan emosi hingga tak menyakiti orang lain. Mungkin lidah adalah salah satu bagian tubuh yang terbilang tidak membunuh orang lain. Akan tetapi ucapan yang keluar dari mulut kita terkadang adalah salah satu senjata yang menyakiti orang lain tanpa kita sadari.


Maka dari itu mengontrol emosi adalah kunci untuk tidak menyakiti orang sekitar kita. Semua butuh tahap, namun jika kita berusaha tentunya hasil pengendalian emosi dalam diri juga akan lebih mudah tercapai.

Jangan Buang Waktumu Untuk Mengeluh


Pada sebuah desa hidup seorang cendekiawan, di mana setiap hari cendekiawan tersebut menerima keluhan yang diucapkan oleh banyak warga desa. Hal tersebut terus berulang-ulang hingga membuat cendekiawan melakukan sebuah tindakan.


Ia mulai mengumpulkan semua orang desa dan menceritakan sebuah lelucon. Semua orang ketika tertawa dengan lelucon yang dibawakan cendekiawan tersebut. Hari kedua cendekiawan kembali mengumpulkan orang-orang desa kembali.


Cendekiawan tersebut masih menceritakan lelucon yang sama dengan hasil akhir para penduduk desa menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Hari ketika cendekiawan kembali menceritakan lelucon yang sama. Namun respons yang diberikan oleh penduduk desa sedikit berbeda dari dua hari sebelumnya.


Salah satu penduduk desa mulai bertanya kenapa cendekiawan membacakan cerita lelucon yang sama. Mereka merasa bosan dengan lelucon yang sama dan dibacakan oleh cendekiawan tersebut.


Cendekiawan pun menjawab dengan sedikit kalimat “jika pada lelucon yang sama kalian bisa bosan dan tak bisa tertawa kembali, namun kenapa dengan masalah yang sama tetap saja bisa buat kalian menangis,”


Artinya penduduk desa tersebut terlalu memikirkan satu masalah dalam hidupnya tanpa mencari jalan keluar. Yang mereka hanyalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh tanpa ada tindakan.


Tanpa sadar kita juga sering seperti para penduduk desa yang suka mengeluh terhadap masalah yang sedang di hadapi. Bahkan kita kerap berfokus terhadap masalah bukan bagaimana cara untuk menyelesaikannya.


Hal inilah yang membuat kita tetap berada diposisi yang sama. Jika mungkin kita berani mencoba untuk menyelesaikan masalah. Maka mungkin saja kebiasaan mengeluh sudah tidak ada dalam diri kita.


Ayo mulai sekarang cobalah untuk lebih banyak mencari jalan keluar dari masalah daripada berpusing ria terhadap permasalahan yang sedang dialami dan tak memikirkan bagaimana cara menyelesaikannya.

Buah Kebaikan Pasti Akan di Tuai


Suatu hari diceritakan ada sebuah rumah di tengah hutan yang dihuni oleh seorang ibu dan anak. Anak dari ibu tersebut terbilang masih dalam usia kecil. Pada waktu berikutnya anak tersebut berada di halaman rumah untuk bermain.


Pada saat yang bersamaan datanglah seekor rusa. Rusa tersebut berusaha memasukkan tanduknya ke dalam pakaian sang anak kecil tadi. Sehingga anak kecil tersebut seperti terangkat di atas tanduk rusa. Seketika anak tersebut ketakutan terhadap rusa dan menangis sambil berteriak memanggil ibunya.


Secara refleks sang ibu keluar dari rumah dan mulai melihat yang terjadi. Tak disangka anak tersebut sudah dibawa lari ke dalam hutan oleh rusa. Sang ibu sekuat tenaga berusaha mengejar rusa tersebut masuk ke dalam hutan.


Namun sampai di dalam hutan, anak kecil yang dibawa rusa tersebut sudah berada di area rerumputan luas dan bermain seperti biasanya. Sang ibu begitu bahagia telah menemukan anaknya dan mulai menggendong anaknya.


Mereka kembali pulang ke rumah yang ditinggali. Namun apa yang terjadi, ternyata rumah tersebut telah tertimpa oleh pohon besar. Tentunya kondisi rumah tersebut menjadi rata luluh rantak. Sang ibu mulai berpikir jika ia masih di dalam tanpa mengejar sang anak apa yang akan terjadi padanya.


Seketika ia ingat pada beberapa tahun sebelumnya ia menyelamatkan anak rusa dari incaran pemburu. Ibu tersebut menutupi anak rusa dengan berbagai macam kain agar tak ketahuan oleh para pemburu. Ketika para pemburu sudah tiada di tempat tersebut, sang ibu mulai mengambil kain yang menutupi rusa dan mulai melepaskan rusa tersebut ke dalam hutan.


Tanpa disangka jika rusa yang membawa anaknya tadi adalah anak rusa yang telah ia selamatkan dulu. Seakan-akan anak rusa tersebut berusaha untuk mengucapkan terima kasih kepada sang ibu dengan cara membawa anaknya lari ke hutan untuk menyelamatkan keluarga ibu dari hatman pohon tumbang.


Dari kejadian tersebut ibu berkata kepada sang anak jika membantu semua makhluk ciptaan Tuhan meski sekecil apa pun kelak tetap akan berbalik pada diri kita.


Dari cerita kecil tersebut kita juga bisa belajar bagaimana pentingnya untuk membantu makhluk Tuhan tanpa membedakan hal apa pun. Sebab semua benih kebaikan yang kita tanamkan kelak akan kita tuai di kemudian hari.


Jika tidak kita yang menuai, mungkin yang akan menuai adalah anak cucu kita kelak. Tidak akan rugi untuk membantu ciptaan Tuhan. Oleh karena itu jangan ragu untuk membagi kebaikan seperti yang dirangkum di buku “Chicken Soup For The Soul – Berbagi Kebaikan”. Buku ini membagikan 101 kisah inspiratif yang menghangatkan dan menginspirasi.

Sebuah Lompatan Yang Mengubah Segalanya


 Diceritakan  ada sebuah kotak, di mana kotak tersebut ternyata di dalamnya terdapat seekor belalang. Ternyata belalang tersebut sudah berada di dalam kotak tersebut dengan kurun waktu yang begitu lama.


Suatu hari belalang tersebut telah berhasil keluar. Karena sudah keluar dari kotak yang selama ini mengurungnya. Belalang tersebut merasa penuh kebahagiaan dirinya, akhirnya yang selama ini ia nantikan tercapai juga.


Kebahagiaan yang belalang miliki diespresikan lewat lompatan yang dilakukannya kesana-kemari. Hingga suatu saat ia bertemu dengan kawanan belalang lainnya. Di mana belalang yang ia temui ternyata mampu melakukan lompatan yang jauh lebih tinggi dan lebih panjang.


Belalang yang dahulunya di dalam kotak penasaran apa rahasia yang dari lompatan tinggi dan panjang dari belalang lainnya. Dengan penuh rasa penasaran dan keberanian akhirnya belalang yang tadinya dalam kotak tersebut bertanya kepada kawanan lainnya.


“Apa yang membuatmu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dari aku, padahal jika dilihat dari usia dan ukuran tubuh kita masih sama, apa rahasianya ,?” Tanya belalang dengan rasa penasaran. Dengan perkataan tersebut kawanan belalang lainnya merasa terheran-heran dan mulai menjawabnya.



“Selama ini kamu di mana, sudah sewajarnya belalang yang berada di alam bebas bisa melakukan apa yang aku lakukan ini,” jawab belalang dengan lompatan jauh tadi. Seketika jawaban tersebut membuat sadar belalang yang terbebas dari kotak mulai tersadar.


Ia merasa terlalu lama menyerah dengan keadaan, membuang waktu, tidak percaya diri dan penuh ketakutan untuk mencoba.


Tahukah kalian jika kondisi belalang dalam kotak tersebut juga kerap kita alami. Di mana kegagalan, ucapan, cemoohan, tanpa dukungan orang lain dan masih banyak lagi kerap kita alami. Kita kerap kali membatasi diri dan tak berani mencoba karena tidak ada dukungan dari luar.


Kita terlalu terpaku terhadap ucapan orang lain dan mulai mengubah pola pikir kita seakan-akan apa yang belum kita coba pasti akan mendapatkan hasil yang buruk. Sehingga ketika ada orang lain bisa kita mulai penasaran apa rahasianya.


Padahal keberanian, pantang menyerah, sabar dan semangat dalam  keadaan apa pun adalah beberapa faktor yang bisa membuat kita menjadi lebih dekat dengan gerbang kesuksesan, lho. Yuk ubah pola pikir kita untuk lebih berani dalam mengambil langkah awal lebih dekat dengan kata sukses.


Jadi jangan takut untuk mengambil risiko. Kadang kalau tidak mencoba, kita tak tahu akan hasilnya. Seperti yang ditulis oleh Nicholas Marpaung di buku “Kancil Loncat Meloncat Lebih Tinggi”. Buku ini menjelaskan agar kita harus berani “nyebur” dan jangan pilih-pilih dalam pekerjaan agar bisa menggapai kesuksesan yang diharapkan.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More