Kamis, 20 April 2023

Dosa George Soros dan Tudingan 'Biang Kerok' Krisis Moneter


 Jakarta, CNN Indonesia -- Saat krisis moneter yang melanda Asia, tak terkecuali Indonesia, 20 tahun silam, George Soros dituding sebagai biang kerok. Nama investor kelahiran Hungaria tersebut pertama kali didengungkan oleh Mahathir Muhammad.


Mantan Perdana Menteri Malaysia itu menyebut perusahaan hedge fund Soros telah membuat nilai tukar sejumlah mata uang di Asia terombang-ambing.


"Saya mengatakan perdagangan mata uang itu hal yang tidak penting, tidak produktif, dan tidak bermoral," ucap Mahathir 20 tahun lalu.


Kebetulan, salah satu perusahaan hedge fund yang baru melakukan operasi dalam jumlah besar di Asia kala itu adalah Quantum Fund, yang notabene dikelola oleh Soros.


Hedge fund secara umum adalah pengelolaan investasi kolektif global bagi nasabah kelas atas. Pengelola investasi itu akan mendapatkan biaya imbal jasa atas investasi yang dikelolanya berbasiskan kinerja.


Mengutip Business Insider, perusahaan melakukan spekulasi dengan meminjam Thailand baht dalam jumlah besar.


Pada 1997, nilai mata uang baht masih disenilaikan (peg) dengan dolar AS, sehingga korporasi di negara gajah putih itu merasa aman berutang dengan denominasi dolar AS. Hanya saja, mata uang dolar AS semakin menguat di pertengahan pada 1990-an. Mau tak mau, menggerus transaksi berjalan dan Thailand tak sanggup lagi untuk melakukan peg atas dolar AS.


Nilai baht terjun bebas 60 persen melawan dolar AS pada 1998. Ini yang kemudian memicu krisis moneter di negara-negara Asia lain, termasuk Indonesia. (REUTERS)


Soros mengendus bahwa devaluasi baht akan terjadi sangat parah. Dengan modal kurang dari US$1 miliar, ia pun berspekulasi atas baht. Dan, benar saja, tak berselang lama, kebijakan nilai tukar mata uang Thailand berubah dari skema mengambang tetap menjadi mengambang bebas.


Nilai baht terjun bebas 60 persen melawan dolar AS. Quantum Fund menorehkan cuan yang fantastis. Arus modal keluar melanda Thailand. Tak berselang lama, kondisi serupa menular ke beberapa negara Asia lainnya.


Inilah dalih awal yang menegaskan bahwa Soros harus bertanggung jawab atas kepanikan yang melanda Asia kala itu. Namun, alih-alih minta maaf, Soros malah membela diri.


"(Pernyataan Mahathir) tak sesuai, sehingga tak perlu perhatian lebih," ujarnya kala itu. Ia menambahkan, Bank Sentral Thailand lah yang tidak memilki pengetahuan cukup soal hedge fund.


Sang Spekulan Ulung


Titel spekulan ulung patut disematkan kepada Soros. Sebelum bikin geger Asia, ia menekuk lutut Inggris melalui peristiwa Black Wednesday yang terjadi pada 1992. Buku bertajuk "Soros: The Life, Times, and Trading Secrets of the World's Greatest Investor" yang dikarang Robert Slater menjelaskan secara gamblang salah satu kelalaian finansial Inggris selama menjadi anggota Uni Eropa itu.


Peristiwa Black Wednesday bermula saat dari sikap keengganan Inggris untuk bergabung ke dalam tahap pertama penciptaan mata uang tunggal Eropa bernama Exchange Rate Mechanism (ERM) pada 1979. Sebab, Inggris tak rela nilai mata uang poundsterling yang selama ini dikaitkan dengan emas harus berubah menjadi nilai mata uang masing-masing anggota Uni Eropa. Tentu saja nilai poundsterling bisa terjerembab jika mengikuti ERM.


Hanya saja, sejak 1987 Inggris mencoba mengaitkan poundsterling dengan deutsche mark, mata uang Jerman yang kala itu menjadi tolak ukur peg mata uang bagi negara-negara yang sepakat mengimplementasikan ERM. Dengan nilai 2,95 mark terhadap 1 poundsterling, maka biaya moneter untuk melakukan ERM kepada Inggris dianggap cukup tinggi. Apalagi, kala itu inflasi Inggris tercatat lebih tinggi ketimbang Jerman.


Soros mengendus bahwa devaluasi baht akan terjadi sangat parah. Dengan modal kurang dari US$1 miliar, ia pun berspekulasi atas baht. (REUTERS)


Dari sini, Soros mengendus kembali kemungkinan untuk mencari cuan dengan melakukan hedge fund. Apalagi, kala itu Inggris tengah mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi dan punya tingkat suku bunga acuan yang sangat tinggi. Soros berkeyakinan Inggris akan menurunkan tingkat suku bunga yang bisa melemahkan mata uangnya agar ekonomi kembali pulih.


Berbekal tebak-tebak buah manggis, Soros akhirnya menjual poundsterling dengan nilai setara US$6 miliar dan membeli deutsche mark dengan nilai setara US$7 miliar.


Tak hanya itu, ia juga meminjam uang dari Bank of England sebesar 5 miliar poundstering untuk kemudian dikonversikan dengan deutsche mark dengan nilai tukar 1 poundsterling sama dengan 2,79 Deutsche mark.


Soros tetap menunggu. Berharap kebijakan Inggris untuk mendevaluasi mata uangnya benar-benar terjadi.


Tak tahan dengan tekanan inflasi, pada 16 September 1992 Inggris menaikkan suku bunga acuannya dua kali dalam sehari. Bahkan hingga mencapai 15 persen, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan kala itu.


Ibarat pisau bermata dua. Jika Inggris tetap bertahan pada suku bunga tinggi, selamanya kondisi ekonomi Inggris tak akan pulih.


Lambat laun, permintaan akan poundsterling kian berkurang lantaran kondisi makroekonomi yang tidak stabil. Aksi intervensi valuta asing bank sentral Inggris gagal. Nilai tukar poundsterling terhadap Deutsche mark sudah turun 3 persen dalam sehari.


Ini seperti tinggal menunggu waktu saja Inggris keluar dari kesepakatan ERM dan mengubah sistem peg mata uangnya.


Hari Rabu itu merupakan mimpi buruk bagi Inggris, namun angin surga bagi Soros. Benar saja, Inggris memutuskan untuk keluar dari ERM dan kebijakan mata uangnya kini menganut kondisi mengambang bebas. Nilai mata uangnya pun terjun hingga 2,65 Deustche Mark per 1 poundsterling.


Soros akan segera mengambil untung besar dari berspekulasi poundsterling. Tak terasa, keuntungan dari menerka-nerka poundsterling bikin kantong Soros US$2 miliar lebih tebal. Atas aksinya, kini Soros dikenang sebagai pria yang berhasil 'membobol' Bank of England.


Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) paket bantuan dari IMF akibat terjadinya krisis finansial.  (AFP PHOTO / AGUS LOLONG)


Berbekal Ilmu Filosofi


Soros mengaku tak punya ilmu banyak ihwal segala macam peristiwa finansial yang terjadi di dunia. Ia hanya berpegang teguh pada kenyataan yang disebutnya tak bisa dijelaskan dengan pendekatan ilmiah ekonomi yang ada selama ini.


Di dalam buku bertajuk "The New Paradigm of Financial Market" yang ditulisnya sendiri, ia mengaku senang menyelami kondisi yang ada di dunia ini dengan basis ilmu filosofi.


Salah satu filosofi yang dipegang teguh olehnya adalah buah pikiran dari Karl Popper yang tercantum dalam buku "The Open Society and its Enemies".


Soros kagum dengan buah pemikiran Popper yang mengatakan bahwa gerakan Nazi Jerman dan Komunis memiliki kecenderungan yang sama, dimana dua gerakan ini masing-masing mengklaim sebagai pembawa kebenaran. Padahal sebenarnya, dua paham ini adalah sebuah perilaku yang bias dan terdistorsi dari kenyataan yang benar-benar terjadi.


Pandangan Popper itu kemudian menginspirasi Soros dalam kehidupan pribadinya. Ia menganggap, teori-teori ilmiah tidak selamanya valid. Tidak selamanya ilmu pengetahuan bisa memverifikasi segala kejadian yang ada di dunia ini. Ilmu pengetahuan, lanjutnya, hanyalah kumpulan hipotesis yang suatu saat bisa menjadi subjek falasi berpikir.


Dari kecintaannya akan filosofi, ia kemudian mempopulerkan istilah teori refleksitas, yakni anggapan di mana pelaku pasar tidak bergerak berdasarkan realita, namun persepsi mereka tentang realita itu sendiri.


Sebagai timbal baliknya, aksi tersebut justru akan mempengaruhi realita yang terjadi. Hal ini terjadi seperti di dalam kasus subprime mortgage saat krisis ekonomi 2008.


"Namun, untuk beberapa bagian, kesuksesan finansial saya yang merupakan berlandaskan paham filosofi juga merupakan sesuatu yang diperdebatkan," jelas dia.


Atas dasar itu, apa yang selama ini ia lakukan merupakan hasil dari latihan membaca situasi selama bertahun-tahun. Bahkan terkadang, menajamkan intuisi dan membaca situasi bikin Soros semakin rapuh. Ia mengaku kerap sakit punggung dan gangguan psikosomatis akibat kebiasannya itu.


"Meski demikian, saya menjunjung pentingnya filosofi dan teori refleksitas bagi diri saya sendiri," terang dia.


Butuh bertahun-tahun bagi Soros sebelum bisa mengguncangkan Inggris hingga Asia Tenggara. Ia mulai menekuni kariernya sebagai manajer investasi sejak tahun 1969 dengan membentuk perusahaan bernama Quantum Fund.


Perusahaannya digandrungi investor karena punya ciri khas tersendiri dalam memutar dana penanam modal. Ia hanya memainkan penjualan jangka pendek (short selling), menggunakan instrumen investasi yang kompleks, serta meminjam dana dalam jumlah yang tidak sedikit.


Tak heran, seluruh investor yang mau menanamkan modal di Quantum Fund harus menempatkan dana minimal US$1 juta.


Namun, meski syarat penempatan yang besar, imbal hasil dari Quantum Fund bukanlah sesuatu yang receh. Jika ada yang berinvestasi sebesar US$100 ribu pada tahun 1969 dan menginvestasikan kembali dividen yang diterima, maka sang investor bisa mendapat US$130 juta pada 1994.


Di samping itu, selembar saham di Quantum Fund senilai US$41,25 di tahun 1969 bisa bernilai US$21.543 di awal 1993.


Semua ini didapat dari intuisi Soros, seorang miliarder yang sempat miskin dan bahkan sempat bingung untuk bertahan hidup di London. Di kemudian hari, intuisi Soros akan sangat dibenci oleh pemimpin-pemimpin Asia Tenggara karena membawa awan kelam pada 1997-1998.


 Sebelum bikin geger Asia, George Soros menekuk lutut Inggris melalui peristiwa Black Wednesday yang terjadi pada 1992. (REUTERS/Luke MacGregor)


Mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli menilai Soros sebagai sosok yang bertanggungjawab dalam memukul Thailand dan menyebabkan krisisnya berdampak sistemik hingga ke Indonesia.


Namun demikian, Soros memang tidak bermaksud membuat Asia Tenggara terinjak-injak. Sebagai seorang spekulan, ia hanya melihat peluang keuntungan dari rontoknya nilai mata uang baht.


"Dalam perkembangannya, Soros melihat kondisi Thailand. Defisit transaksi berjalan semakin besar dan mata uangnya overvalued sampai 15 persen, lebih tinggi dari Indonesia. Maka, dihajarlah mata uang Thailand, Thailand kena krisis," ungkap dia.


Tetapi menurut Rizal, 'dosa' Soros yang tidak bisa diampuni adalah semakin menjamurnya spekulan yang mengikuti jejaknya. Sebab, kisah sukses spekulan seperti Soros bisa menginspirasi pelaku pasar lainnya. Tak heran, krisis yang awalnya bermula di Thailand menyebar dengan cepat di negara-negara Asia lainnya.


Untuk Indonesia sendiri, penularan krisis moneter yang terjadi dari Thailand berlangsung sangat cepat. Hanya dalam dua bulan saja, nilai tukar rupiah terpapar habis-habisan akibat sentimen yang muncul dari negara tetangganya.


Pada Agustus 1997, Indonesia harus menanggalkan kebijakan nilai tukar mengambang terkendali menjadi mengambang bebas. Nilai tukar hancur lebur. Pertumbuhan ekonomi tak karuan.


"Ekonomi Indonesia hancur dari rata-rata 6 persen menjadi minus 13 persen karena fundamental lemah," imbuh dia.


Menurut Mantan Menkeu Rizal Ramli, 'dosa' Soros yang tidak bisa diampuni adalah semakin menjamurnya spekulan yang mengikuti jejaknya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Ucapan Rizal tersebut diamini oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro. Menurutnya, perilaku para manajer investasi yang mengikuti Soros berkutat di hedge fund bikin letupan kecil di Thailand menjadi kebakaran hebat seantero Asia.


Kisah sukses Soros bikin ulah spekulasi manajer investasi kian menjadi-jadi. Mereka bisa jadi sasaran amukan jika krisis ekonomi tengah melanda suatu negara.


"Sekarang sudah banyak Soros-Soros lainnya, dan begitu pula yang terjadi pada 2008. Ketika ada ekses likuiditas global, mereka lakukan tanam modal sana-sini. Mereka dapat untung, tapi di sisi lain, aktivitas ekonomi bisa menjadi bubble," tegas dia.


Direktur Riset Center of Reform On Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan kelakukan Soros dalam berspekulasi bisa jadi penyebab krisis moneter 1998 bikin panik. Namun, sebetulnya, hal penting bisa menangkal efek buruk spekulan seperti Soros adalah kondisi makroekonomi suatu negara itu sendiri.


"Kalau domestiknya kuat, harusnya konspirasi eksternal dampaknya tidak mendalam," tutur Faisal. Sembari menyebut bahwa kondisi Indonesia saat itu memang tengah rapuh.


Kala itu, inflasi tahunan ada di kisaran 6 persen dan pertumbuhan ekonomi bahkan sempat melesat ke angka 7,8 persen.


Namun, salah satu faktor domestik yang bikin ekonomi Indonesia tak berdaya adalah kebijakan nilai tukar mata uang yang menganut sistem mengambang terkendali. Tekanan atas rupiah semakin tinggi lantaran dolar terus menguat, ditambah permintaan valas yang kian tak terkendali tidak diimbangi dengan suplainya.


Ibarat gunung berapi yang meletus, tekanan atas rupiah yang selama ini ditahan-tahan melalui kebijakan mengambang terkendali akhirnya meledak juga. Dalam kurun Juni 1997 hingga 1998, depresiasi rupiah terhadap dolar AS tercatat 614,8 persen.


"Kalau dilihat juga kan Indonesia adalah salah satu negara yang paling terpapar parah. Padahal, kondisi masing-masing negara dalam merespons krisis moneter juga berbeda-beda. Terlebih masa pemulihannya, Indonesia pun terbilang cukup lama. Jadi memang, kalau domestik kuat, harusnya tekanan di Indonesia tidak begitu kuat," katanya.


Disadari atau tidak, tindakan spekulasi mata uang turut mencederai perekonomian Indonesia. Hingga kini, nama Soros masih digaungkan sebagai sosok yang bertanggungjawab atas runtuhnya ekonomi di sebuah kawasan yang dulu tersohor sebagai macan Asia. (bir/asa)



 https://cnnindonesia.com/

Ada George Soros di Balik 1998?



George Soros adalah sosok penting yang namanya terdengar di berbagai belahan dunia. Ia disebut berada di balik berbagai fenomena ekonomi dan politik. Benarkah miliarder ini berperan di balik tragedi 1998?


George Soros. Nama aslinya György Schwartz. Sosok yang satu ini mungkin sudah tak asing bagi kebanyakan orang. Dianggap sebagai salah satu sosok miliarder dan investor paling powerful di dunia, George Soros punya kiprah panjang dalam mempengaruhi kondisi ekonomi di banyak negara berbekal statusnya di bidang hedge fund.


Hedge fund itu sendiri secara umum adalah pengelolaan investasi kolektif global bagi nasabah kelas atas. Pengelola investasi itu akan mendapatkan biaya imbal jasa atas investasi yang dikelolanya berbasiskan kinerja. 


Nah, Soros dituduh terlibat dalam banyak krisis, termasuk yang terjadi di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lain pada tahun 1998 lalu. Bahkan di Thailand ia dicap sebagai “economic war criminal”. 


Terlepas dari hal-hal tersebut, isu-isu dan konspirasi di seputaran Soros memang cukup banyak. Sekalipun ia disebut menggunakan kekayaannya untuk kepentingan sosial-politik, pendidikan dan sains, serta filantropi, namun tidak sedikit yang menganggap sosoknya menjadi “pengontrol” banyak negara dan pemerintah, serta terlibat dalam mendukung aksi-aksi kelompok kiri ekstrem seperti Antifa yang kerap dituduhkan oleh para politisi kanan konservatif di Amerika Serikat (AS).


Tentu pertanyaannya adalah benarkah demikian? Bagaimana sebetulnya peran Soros dalam krisis yang terjadi di Indonesia pada 1998 lalu?


Spekulan Berbuah Krisis

Siapa tak kenal George Soros? Dia adalah tokoh ternama di bidang keuangan, pasar modal, hingga aktivis di bidang politik berkebangsaan Amerika Serikat. Soros lahir dari keluarga keturunan Yahudi di Budapest, Hongaria pada tahun 1930.


Pada bulan Maret 1944, Nazi Jerman menduduki Hongaria. Soros berusia 13 tahun ketika pasukan Nazi masuk. Pada tahun 1945, Pertempuran di Budapest berkecamuk. Soros selamat dari pengepungan dan pertempuran, yang merenggut nyawa 38.000 warga sipil selama tiga bulan.


Seiring berakhirnya perang, Soros pergi ke Inggris tanpa uang sepeser pun. Dia kemudian mendaftar di London School of Economics (LSE) pada tahun 1947. Meskipun miskin, dia masih bisa bertahan hidup dengan menjadi pelayan dan portir kereta api.


Singkatnya, Soros lulus dari LSE dengan gelar sarjana di bidang filsafat. Setelah kesulitan mendapatkan pekerjaan, ia akhirnya mendapatkan posisi entry-level di bank investasi Singer & Friedlander. Kariernya kemudian menanjak dan menanjak hingga akhirnya pindah ke New York, serta mendirikan perusahaannya sendiri, Quantum Fund.


Kepiawaian Soros kemudian makin tinggi dan berujung pada titel spekulan ulung. Pada tahun 1992, Soros menekuk lutut Inggris melalui peristiwa Black Wednesday. Kisah ini digambarkan dalam buku Soros: The Life, Times, and Trading Secrets of the World’s Greatest Investor tulisan Robert Slater.


Soros disebut mengendus kemungkinan untuk mencari cuan dengan melakukan hedge fund atas Inggris. Apalagi, kala itu Inggris tengah mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi dan punya tingkat suku bunga acuan yang sangat tinggi. Soros berkeyakinan Inggris akan menurunkan tingkat suku bunga yang bisa melemahkan mata uangnya agar ekonomi kembali pulih. Prediksinya terbukti benar, dan pada akhirnya ia mendapatkan keuntungan mencapai US$2 miliar lebih alias Rp 28 triliun (nilai rupiah saat ini).


Hal serupa juga terjadi saat krisis moneter yang melanda Asia, tak terkecuali Indonesia,  di tahun 1998. Nama Soros pertama kali didengungkan oleh Mahathir Muhammad. Mantan Perdana Menteri Malaysia itu menyebut perusahaan hedge fund Soros telah membuat nilai tukar sejumlah mata uang di Asia terombang-ambing.


Kala itu, salah satu perusahaan hedge fund yang baru melakukan operasi dalam jumlah besar di Asia adalah Quantum Fund, yang notabene dikelola oleh Soros. Perusahaan tersebut melakukan spekulasi dengan meminjam mata uang Thailand baht dalam jumlah besar.


Singkat cerita, dengan modal kurang dari US$1 miliar, ia pun berspekulasi atas baht. Dan, benar saja, tak berselang lama, kebijakan nilai tukar mata uang Thailand berubah dari skema mengambang tetap menjadi mengambang bebas.


Nilai baht terjun bebas 60 persen melawan dolar AS. Quantum Fund menorehkan cuan yang fantastis. Tak berselang lama, kondisi serupa menular ke beberapa negara Asia lainnya.


Kecintaan terhadap Filsafat

Dalam pengakuannya, Soros mengaku senang menyelami kondisi yang ada di dunia ini dengan basis ilmu filsafat. Salah satu filosofi yang dipegang teguh olehnya adalah buah pikiran dari Karl Popper yang tercantum dalam buku The Open Society and its Enemies.


Soros kagum dengan buah pemikiran Popper yang mengatakan bahwa gerakan Nazi Jerman dan Komunis memiliki kecenderungan yang sama, di mana dua gerakan ini masing-masing mengklaim sebagai pembawa kebenaran. Padahal sebenarnya, dua paham ini adalah sebuah perilaku yang bias dan terdistorsi dari kenyataan.


Pandangan Popper itu kemudian menginspirasi Soros. Ia menganggap, teori-teori ilmiah tidak selamanya valid. Dari kecintaannya akan filsafat, ia kemudian mempopulerkan istilah teori refleksitas, yakni anggapan di mana pelaku pasar tidak bergerak berdasarkan realita, namun persepsi mereka tentang realita itu sendiri.


Nah, terlepas dari hal-hal tersebut, di AS sendiri memang banyak teori konspirasi yang mendera George Soros. Ia dituduh membiayai gerakan sayap kiri ekstrem seperti Antifa yang dalam beberapa waktu terakhir dituduh bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi di AS. Ia juga dituduh tak benar-benar Yahudi dan justru menggerakkan kampanye anti Yahudi.


Soros bahkan dituduh ingin menciptakan revolusi di Amerika dan membiayai aksi-aksi protes. Namun, teori-teori tersebut minim pembuktian dan dengan mudahnya dipatahkan. Tokoh-tokoh seperti Donald Trump dan Rudy Giuliani adalah beberapa di antara tokoh-tokoh yang larut dalam tuduhan terhadap Soros ini.


Terlepas dari apapun itu, Soros tetap akan dikenang bagaimana saktinya spekulan berdampak pada ekonomi global. Sebagai pendana Partai Demokrat di AS, jelas ia juga akan mendapatkan serangan isu-isu yang demikian. Pada akhirnya, wajah Soros akan dilihat sebagai dua sisi: seorang filantropi namun punya aksi yang menyebabkan krisis juga. 

Kwik Kian Gie, John Perkins, dan Negara Doyan Utang



https://teguhtimur.com/

Enam tahun lalu dunia sempat dibikin heboh oleh John Perkins. Di dalam bukunya, Confession of the Economic Hit Man, Perkins mengaku bahwa dirinya adalah salah seorang mesin perusak ekonomi yang disusupkan pemerintah Amerika Serikat ke sejumlah negara, khususnya negara berkembang termasuk Indonesia. Sedemikian mengguncangnya pengakuan Perkins sampai-sampai buku itu sempat bertengger di daftar bestseller New York Times tujuh minggu berturut-turut.


Perkins dan sepak terjangnya tidak hanya ada di dalam film. Dia adalah nyata dan fakta. Di dalam bukunya itu, Perkins mengaku bahwa tugas pertamanya adalah merusak pondasi ekonomi Indonesia. Ia dan sepuluh orang temannya dikirimkan ke Indonesia untuk merancang cetak biru pembangunan pembangkit listrik buat pulau Jawa.


“Saya harus menghasilkan model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa,” ujar Perkins sambil menambahkan bahwa model ekonometrik yang mereka rancang merupakan hasil dari manipulasi data statistik.


Selain Indonesia, Perkins juga pernah beroperasi di sejumlah negara Amerika Latin, seperti Ekuador dan Panama.


Secara umum, Perkins dan teman-temannya membangun berbagai alasan pembenar sehingga negara yang mereka kunjungi mau berutang dalam jumlah yang sangat besar. Utang ini nantinya akan disalurkan kembali ke MAIN, perusahaan konsultan dimana John Perkins bekerja, dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.


Agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh pihak kreditor, langkah selanjutnya yang mereka lakukan adalah menghancurkan secara total pondasi ekonomi. Setelah bangkrut, negara pengutang seperti Indonesia akan menjadi “target yang empuk kalau kami membutuhkan favors, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya,” tulisnya di halaman 15.


Negara pengutang itu boleh bangkrut. Tetapi keluarga-penguasa yang dipelihara oleh mesin perusak ekonomi ini sudah barang tentu mendapatkan bagian yang cukup besar. Bahkan bagi mereka, inilah instrumen yang tidak boleh diabaikan untuk membeli loyalitas keluarga-penguasa dan para pengikut di lingkaran utama.


Dengan demikian, dapat dikatakan, semakin besar jumlah utang yang ditelan oleh negara target, semakin besar keuntungan yang disedot oleh mesin perusak ekonomi ini.


“Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB,” tulis Perkins di halaman 15.


Di halaman selanjutnya, ia bercerita tentang karakteristik PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik dengan membebani hutang yang sangat berat buat rakyatnya.


Walau yang terjadi adalah fenomena dimana yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin, namun otoritas statistik nasional akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi.


Ekonom senior Kwik Kian Gie termasuk yang kerap mengutip sepak terjang Perkins ini. Bagian-bagian di atas adalah bagian-bagian yang paling sering disampaikan Kwik Kian Gie dalam berbagai kesempatan. Bagian-bagian itu memperlihatkan hubungan yang kuat antara mesin perusak ekonomi seperti Perkins dengan negara pengutang seperti Indonesia, serta akibat yang ditanggungkan oleh masyarakat yang tidak tahu menahu tentang model pembangunan yang didisain oleh mesin perusak ekonomi.


Namun, ada pengakuan Perkins yang menurut pengamatan saya hampir tidak pernah disitir Kwik Kian Gie. Bagian ini adalah mengenai konsekuensi yang akan diterima pemimpin-pemimpin negara pengutang yang at the end memilih “bertaubat”.


Ketika diminta keluarga Presiden Barack Obama untuk menuliskan kata pengantar di buku karya Ann Dunham-Soetoro, yang diangkat dari disertasinya ke dalam bahasa Indonesia tahun 2008 lalu, saya menyitir pengakuan Perkins mengenai konsekuensi bagi pemimpin yang bertaubat tadi.


Kita sudah mengetahui bahwa tugas utama Perkins adalah meyakinkan otoritas politik dan keuangan negara berkembang untuk menerima utang yang kerap kali disamarkan dengan istilah bantuan dalam jumlah yang begitu besar. Utang ini diperoleh dari lembaga-lembaga keuangan internasional rekaan Amerika Serikat seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).


Setiap kali menulis nama dua lembaga keuangan ini, saya teringat pada sosok Sri Mulyani Indrawati yang sebelum menjadi Menteri Keuangan pada periode 2004-2009 adalah Direktur Eksekutif IMF untuk Asia-Pasifik, dan meninggalkan gelanggang tahun lalu untuk bertugas sebagai salah seorang Direktur Pelaksana Bank Dunia.


Dari pengakuan Perkins kita juga telah mengetahui bahwa setelah jumlah utang berbulu bantuan berikut bunganya semakin membesar, dimana sebagian darinya lenyap ditelan praktik korupsi di kalangan keluarga-penguasa dan kaum di lingkaran utama, dan tak dapat dibayar kembali, otoritas politik negara berkembang itu pun dipaksa tunduk, menyerah dan menerima begitu saja semua keinginan Amerika yang disusupkan lewat produk hukum yang dihasilkan lembaga legislatif dan/atau eksekutif serta diamini oleh lembaga yudisial.


Pertanyaannya berikutnya adalah: bagaimana bila otoritas politik di negara berkembang yang sudah terperangkap ini bertaubat?


Mereka akan dibunuh. Itulah jawaban Perkins.


Ia mencontohkan nasib Presiden Ekuador Jaime Roldos Aguilera yang berkuasa antara 1979 hingga 1981 dan Presiden Panama Omar Torrijos Herrera yang berkuasa dari 1968 hingga 1981. Keduanya terperangkap dalam jebakan mesin perusak ekonomi. Namun belakangan, mereka menyadari kekeliruan itu serta berusaha mengkoreksi diri dan kebijakan nasional negara mereka.


Tetapi nasi telah menjadi bubur. Tidak ada jalan keluar dari jebakan mesin perusak utang, kecuali kematian.


Kedua presiden itu tewas dengan modus yang hampir sama: kecelakaan pesawat yang begitu mengerikan. Roldos tewas di bulan Mei 1981. Adapun Torrijos tewas tak lama kemudian, Agustus 1981.


Kecelakan itu, kata Perkins lagi, direkayasa oleh jagal CIA.


Nah, untuk Roldos dan Torrijos lah Confession of the Economic Hit Man didedikasikan Perkins. Kedua mendiang presiden itu pernah menjadi klien Perkins. 

Pengakuan John Perkins : Seorang Ekonom Perusak (Confessions of an Economic Hit Man)

https://eddiwahyudi.com/ 

Ini adalah tulisan lama setelah saya diminta oleh Prof. Gumbira Said untuk  membaca sebuah buku yang berjudul “Confessions of an Economic Hit Man” karangan John Perkins dan membuat resensinya. Rasanya sampai sekarang buku ini masih relevan untuk dibaca.


Buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup pengarangnya sebagai seorang ekonom yang merupakan bagian dari konspirasi kepentingan perusahaan multinasional didukung oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menguasai dan melemahkan posisi ekonomi negara berkembang. Salah satu sisi kisah di dalam buku itu banyak mengungkapkan situasi ekonomi dan politik di Indonesia, Iran, Arab Saudi, Panama, Columbia dan Equador. Bahkan dalam tugas pertamanya John Perkins sebagai EHM adalah membuat proyeksi kebutuhan listrik di Pulau Jawa yang digelembungkan dua kali lipat lebih. Konsekuensinya, investasi yang harus dilakukan oleh PLN membengkak sedangkan pembiayaannya melalui pinjaman luar negeri.


Menurut dia, hal itu dilakukan untuk membuat negara seperti Indonesia terjebak dalam perangkap utang, sehingga kebijakan ekonominya mudah dikendalikan. Dia juga banyak mengungkapkan bagaimana kepentingan perusahaan multinasional ditancapkan melalui deregulasi, liberalisasi, penggelembungan proyek, korupsi, seks dan tekanan politik. Dogma korporatokrasi dan global imperium telah menghasilkan penjajahan ekonomi melalui penguasaan sumberdaya energi, lahan dan modal. Kalau cara-cara seperti itu tidak berhasil, maka cara-cara militer diterapkan.


Globalisasi telah mendorong perusahaan multi nasional untuk mengembangkan sayapnya ke berbagai negara.Corporatocracy (koalisi bisnis dan politik antara pemerintah, perbankan, dan korporasi) yang dibangun negara maju menjadi sebuah alat yang cukup ampuh untuk menekan negara lemah melalui kekuatan ekonominya. Penggunaan pendekatan yang berdalih kemanusiaan menjadi isu utama untuk melumat kekuatan ekonomi sebuah negara. Pelajaran berharga telah terjadi di Indonesia melalui masukknya kekuatan global kedalam sendi-sendi perekonomian nasional.


Masuknya kekuatan modal dalam jumlah yang besar berawal dari resesi ekonomi global tahun 1998 yang sepertinya sudah sangat direncanakan. Indonesia yang sebelumnya dianggap sebagai macan Asia dengan semboyan “swasembada beras”, pertumbuhan ekonomi tinggi, menjadi satu-satunya negara yang masih berkutat dalam kemunduran ekonomi. Membaca buku EHM John Perkins dimana pemberian pinjaman secara besar-besaran dilumat oleh kejatuhan mata uang regional melalui “tarnsaksi Soros” menjadikan negara dengan tingkat utang sangat besar dan cenderung bangkrut (Soros, 2000). Utang pemerintah dan swasta nasional membengkak dan akhirnya dikelola oleh badan bentukan IMF yaitu BPPN. Aset-aset potensial nasional dijual ke pihak asing untuk menutupi devisit APBN yang sebagian besar untuk membayar pokok dan bungan pinjaman.


Apakah ini merupakan isu yang baru ? Menurut Mason Gaffney (1994), Henry George (1979) dan Hernando deSoto (2003) melalui teori konspirasi ekonominya dapat dimengerti bahwa ilmu ekonomi sebenarnya diciptakan untuk melayani kepentingan perusahaan tertentu. Menurutnya konspirasi akan terjadi secara alami akibat hubungan bisnis karena memang ilmu ekonomi sudah mendukung paradigma terebut. Berikut penggalan paragraf dari buku tersebut yang sangat menarik.


  • Buku ini didedikasikan kepada dua orang Presiden dari dua Negara yang pernah menjadi kliennya. Mereka sangat dihormati dan selalu  dikenang dalam semangat persaudaraan, yaitu, Jaime Rold’os (Presiden Ecuador) dan Omar Torrijos (Presiden Panama). Keduanya meninggal dunia dalam tabrakan yang sangat mengerikan. Menurut Perkins Kematian mereka bukan karena kecelakaan. Kedua presiden itu mati dibunuh karena mereka menentang ‘persaudaraan’ (fraternity) dengan para pemimpin  dunia korporasi, yaitu pemerintah, perusahaan dan perbankan yang tujuanya membentuk kerajaan dunia. Para EHM gagal membawa Rold’os dan Torrijos mengikuti perintah-perintah sang penguasa, dan hit men jenis lain (CIA) mengambil alih.
  • Selama dua puluh tahun terakhir Perkins menulis bukunya sebanyak empat kali. Kejadian-kejadian yang penting seperti invasi oleh Amerika Serikat ke Panama pada 1989, Perang Teluk Pertama, perang Somalia, dan bangkitnya Osama Bin Laden mendorong keinginannya untuk menulis lagi. Pada 2003, presiden dari sebuah perusahaan penerbit besar menolak menerbitkan buku ini karena dia tidak dapat menanggung amarah dan penentangan oleh markas besar organisasi-organisasi dunia. Dia menganjurkan agar Perkins membuatnya seolah-olah fiktif, seperti gaya John le Carr’e atau Graham Green.
  • Yang akhirnya membuat Perkins menyingkirkan ancaman dan penyuapan supaya tidak menulis adalah karena anak tunggalnya yang bernama Jessica. Setelah membicarakan rencana menerbitkan buku ini beserta berbagai ancamanya, Jessica mengatakan “jangan khawatir ayah, kalau mereka membunuhmu, saya akan melanjutkanya dari yang engkau tinggalkan, kami perlu melakukanya untuk cucu-cucumu yang saya harap suatu hari akan saya berikan kepadamu.”
  • Penugasan pertama Perkins sebagai EHM adalah Indonesia. Dia akan menjadi bagian dari dua belas orang yang dikirimkan untuk membuat sebuah rencana strategi energi untuk pulau Jawa dan memutuskan bahwa proyek itu juga bisa dibuat untuk Kuwait. Perkins menemukan bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan berbagai kesimpulan yang dikehendaki oleh sang analis guna memperkuat kesimpulan-kesimpulan yang direkayasanya.
  • Cludine Martin adalah orang yang mempersiapkan Perkins menjadi seorang EHM.
  • Tujuan penting seorang EHM ada dua yaitu, Pertama: Seorang EHM harus membenarkan kredit dari dunia internasional yang sangat besar jumlahnya, yang akan disalurkan melalui organisasi yang disebut MAIN dan perusahaan AS lainya melalui proyek engineering dan konstruksi raksasa. Kedua, EHM harus bekerja untuk membangkrutkan negara-negara penerima pinjaman raksasa tersebut (tentu setelah mereka membayar kepada MAIN dan kontraktor AS lainya), sehingga mereka untuk selamanya akan dicengkram para kreditornya. Dengan demikian negara-negara penerima utang itu akan menjadi target yang mudah ketika penguasa memerlukan sesuatu yang dikehendaki, seperti pangkalan militer, suaranya di PBB atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainya. Proyek-proyek yang berdampak pada PDB tertinggi harus dimenangkan.
  • Tujuan membangun proyek-proyek besar adalah antara lain untuk para kontraktornya, dan membuat bahagia sekelompok kecil elit dari bangsa penerima utang luar negeri (contoh keluarga kerajaan House of Saud, Arab Saudi), sambil memastikan ketergantungan keuangan yang langgeng. Tujuan akhirnya menciptakan kesetiaan politik dari negara-negara target di dunia.
  • Selanjutnya ditulis semakin besar jumlah utang luar negeri yang diberikan semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang akan dikenakan pada negara-negara penerima akan menyengsarakan rakyatnya. Bidang yang menjadi sasaran adalah kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial.

Para EHM diturunkan dengan alasan bahwa penggunaan pendekatan militer saat ini terlampau berisiko.  Juga di tulis ketika Inggris meminta bantuan AS untuk menjatuhkan Mossadegh karena dianggap berani melawan British Petroleum (BP). AS memutuskan mengirimkan cucu Presiden Theodore Roosevelt bernama Kermit Roosevelt untuk menjatuhkan Mossadegh tanpa pertumpahan darah dan tanpa senjata. Biaya yang dikeluarkan hanya juta dolar AS dipakai untuk membuat  keonaran dan demonstrasi besar-besaran melalui rakyat Iran melawan Mossadegh, walaupun sebelumnya Mossadegh dipuji sebagai pembawa demokrasi untuk negaranya, dan majalah Time menobatkanya sebagai man of  the year.


Kita boleh percaya atau boleh juga tidak terhadap kebenaran isi buku tersebut, karena memang penuturannya sangat subjektif. Tapi satu hal yang pasti bahwa kita juga tidak bisa percaya sepenuhnya terhadap perusahaan multinasional bahwa mereka adalah perusahaan yang melakukan kompetisi secara sehat, tidak korup, menerapkan good corporate governance, dan memiliki tanggung jawab sosial. John Kenneth Galbraith, pemenang Nobel Ekonomi, di dalam buku terbarunya berjudul The Economics of Innocent Fraud menyebutkan bahwa era di mana perusahaan adalah sebuah entitas yang jujur dan bersih sudah berakhir.


Pada awalnya Perkins menikmati tugasnya sebagai seorang EHM profesional dengan sandaran uang sebagai faktor utamanya diatas nasionalisme kepentingan negara asalnya. Namun demikian lama-kelamaan kesadarannya timbul bahwa apa yang dilakukan selama ini akan menyengsarakan banyak orang. Oleh karena itu dia ingin mengungkapkan bahwa praktek EHM di dunia ketiga sudah sangat meresahkan sehingga perlu dilakukan koreksi.


Atau paling tidak keseimbangan antara bisnis, pemerintah dan coporate social responsibility (CSR) harus berjalan sebagaimana mestinya. Karena jika dilihat bentuk CSR dari negara maju selama ini sebenarnya juga kembali ke negara itu sendiri. Contoh pemberian bea siwa bagi anak-anak Indonesia untuk bersekolah di luar negeri, sebenarnya uang yang diberikan akan kembali kenegara itu juga dalam bentuk biaya sekolah, biaya hidup dan hasil-hasil penelitiannya. Sangat sedikit yang bermanfaat bagi negara asal, lebih parah lagi jika SDM tersebut tidak direspon pemerintah asalnya sehingga ditawari bekerja di LN.


Menurut Velasquez (2006) nilai-nilai etika bisnis dapat dibedakan menjadi beberapa macam:


  • Utilitarianism. A general term of any view that holds and actions and policies should be evaluate on the basis of the benefits and cost they will impose on the society,
  • Justice. Distributing benefits and burdens fairly among people,
  • Right and Caringt. Individual entitelments to freedom of choise and well being,

Pelanggaran etika bisnis dalam praktek internasional jelas terjadi terutama dilakukan oleh negara penggagas ilmu etika itu sendiri. Dalam bukunya George Soros (2000) pun mengakui bahwa AS saat ini telah melenceng dalam menentukan kebijakan internasionalnya. Caranya mengembangkan kekuasaan global tidak dilakukan secara santun dan ramah. Bush tidak memberi peluang bagi kemungkinan terjadinya kesalahan ideologi dalam dirinya serta tidak memberikan toleransi perbedaan pendapat. Dia mengatakan “apabila anda tidak bersama kami, maka anda menentang kami” (Soros,Open Society, p.xv, 2000). Contoh nyata terlihat dalam penerapan standar ganda kebijakan senjata nuklir terhadap Iran dan Israel.


Banyak nilai-nilai moral dan etika yang dilanggar di ungkapkan dalam buku ini dan dapat didefinisikan sebagai berikut:


  • Banyaknya ketidakjujuran para pelaku EHM demi kepentingan kelompok korporatokrasi dan pribadi (kepentingan perusahaan AS Haliburton, Betchel, Shell, Exxon, Freeport) ,
  • Perilaku EHM yang buruk dan amoral (menggunakan segala cara dalam mencapai tujuan),
  • Terjadinya konflik kepentingan antara negara dengan sumber keuangan kuat dengan negara berkembang  dengan kemampuan terbatas namun memiliki SDA melimpah (contoh Ekuador, Venezuela, Indonesia, Myanmar, Saudi Arabia, Irak),
  • Pelanggaran terhadap peraturan UU di sebuah negara dengan dalih menerapkan teori relativism,
  • Perlakukan yang tidak adil dalam hubungan bilateral melalui penerapan strandarisasi tinggi (ISO) dan memaksa negara lain membuka pasarnya melalui organisasi WTO,
  • Pelanggaran terhadap prosedur yang berlaku,
  • Terjadi inefisiensi atau pemborosan dengan jalan menggelembungkan estimasi sebuah proyek,
  • Menutupi kesalahan dengan dalih untuk kepentingan rakyat (cara-cara orde baru).

Dalam bidang ekonomi penerapan standar tinggi melalui aturan-aturan mutu (ISO) terhadap barang-barang luar negeri yang akan dipasarkan di negaranya (menghambat jalur perdagangan) padahal melaui organisasi WTO setiap negara dipaksa untuk membuka pasarnya terhadap hambatan masuk arus barang dan jasa dari negaranya. Praktek-praktek ini yang ingin disampaikan oleh Perkins dalam bukunya. Indikasi ke arah penjajahan ekonomi sudah mulai terlihat jelas pada saat ini. Masuknya Freeport ke Papua, Exxon Mobile ke blok Cepu, Newmont Nusantara ke Nusa Tenggara, bantuan-bantuan melalui NGO mengalir deras ke daerah bencana dan isu terakhir yang mulai menggoyahkan hati pemerintah adalah komitmen pinjaman baru dari lembaga donor tergabung dalam CGI untuk menutup defisit APBN 2006 padahal pemerintah telah berkomitmen untuk melunasi utang negara dalam 2 tahap.


Di Indonesia, prilaku amoral EHM terlihat dari hancurnya tidak hanya beberapa perusahaan BUMN seperti PLN dan Pertamina, tetapi juga perusahaan swasta nasional di berbagai sektor seperti perkebunan, perbankan, pertambangan, dan industri kertas. Lebih parah lagi beberapa perusahaan tersebut tidak berani speak out kepada publik dan pemerintah, yang jelas ada enam modus EHM berprilaku amoral yang terjadi di negara kita dan belum diungkapkan oleh Perkins.


Pertama, pembuatan angka-angka estimasi pesimistis terutama berkaitan dengan nilai aset dan jumlah stok sumber daya. Tujuannya sederhana, yakni mengurangi nilai perusahaan, sehingga harganya jatuh ketika diambil alih. Hampir semua perusahaan yang didivestasi BPPN dijual dengan asumsi asetnya berada dalam kondisi distress value. Pada 1998 semua aset kredit properti pernah diasumsikan nilainya sama dengan nihil oleh IMF, padahal tidak semuanya macet. Pendiskonan cadangan kayu dari hutan produksi juga sering dilakukan oleh lembaga riset internasional. Kelangkaan kayu memang terjadi untuk industri kayu yang mengandalkan kayu alam. Hal ini terkait dengan illegal logging yang sampai saat ini belum bisa sepenuhnya dikendalikan. Tapi untuk HTI, mestinya rencana produksi sesuai dengan kapasitas produksi, terkecuali perusahaan yang bersangkutan sejak dari awal sudah overestimate terhadap produktivitas kayu yang dihasilkannya.


Kedua, intervensi melalui saluran diplomatik. Pejabat di kedubes asing sering kali ikut campur tangan terhadap masalah yang sebenarnya urusan bisnis murni. Pejabat lebih banyak hands off, menyerahkan mekanismenya secarabusiness to business. Keterlibatan pemerintah malah sering membuat posisi perusahaan dilemahkan. Di negara maju sekalipun, sudah menjadi rahasia umum bahwa pundi-pundi politisi sangat tergantung pada ‘sumbangan’ pemilik modal. Karena pemberian fasilitas di dalam negerinya selalu diawasi dengan ketat oleh lawan politik dan masyarakat setempat, maka yang paling mungkin dilakukan adalah kelangsungan proyek di negara berkembang. Masih teringat jelas tentang kasus sumbangan Grup Lippo pada saat kampanye presiden Bush. Karena itu, pesan-pesan khusus sering diterima pejabat kita.


Ketiga, melalui green mailing atau ancaman di pengadilan. Di pengadilan dalam negeri masalahnya adalah yang hitam jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam. Kalau kasusnya dibawa ke pengadilan internasional, seringkali kasusnya menjadi berkepanjangan karena bisa berpindah dari satu state ke state yang lainnya atau bahkan dari satu negara ke negara lainnya. Pihak yang berselisih tentunya akan selalu mencari celah hukum yang menguntungkan dirinya.


Keempat, dengan cara ancaman pembekuan aset di luar negeri dengan maksud untuk memaksakan segala syarat dalam negosiasi. Melalui pembekuan aset, jalur pasokan akan terhambat karena masalah pembiayaan. Akibatnya, produksi bisa berhenti. Dengan menciptakan kerugian, maka syarat negosiasi bisa dipaksakan. Kelima, yang paling umum dilakukan yaitu melalui kampanye publik bahwa kalau investor asing tidak dilindungi maka semua investor akan hengkang. Sayangnya kampanye ini sering ditelan mentah-mentah oleh pemerintah dan bahkan beberapa menteri ikut menyuarakannya. Kita seharusnya bisa melihat mana asing yang baik dan yang tidak.


Modus yang keenam dan mungkin yang paling mencelakakan adalah ketika menteri dan pejabat publik sudah menjadi bagian dari EHM (Kwik Kian Gie, 2005, Menggugat Mafia Barkeley). Fasilitas khusus bisa diberikan tanpa alasan yang jelas. Penurunan tarif bea masuk barang impor bisa diberikan kepada pihak tertentu sehingga bisa mematikan usaha pesaingnya.


Prilaku amoral yang disebutkan Perkins dalam bukunya:


  1. Membuat estimasi optimis tentang ekonomi sebuah negara dengan harapan mendapat kucuran dana pinjaman sebesar-besarnya yang mengakibatkan negara tersebut tidak mampu untuk membayar kembali utangnya.
  2. Sarana mereka meliputi antara lain rekayasa laporan keuangan yang menyesatkan, praktek penyuapan, pemerasan, agen penggermoan (wanita dan seks), serta pembunuhan terencana yang keji (Presiden Panama (Omar Torrijos) dan Presiden Ekuador (Jaime Roldos)). Para EHM seperti Perkins memainkan peranan yang telah menentukan dimensi baru dan mengerikan selama era globalisasi.
  3. Para agen EHM ini bekerja berdasarkan pesan sponsor dari negara adikuasa yang berniat mewujudkan sebuah imperium global untuk melakukan penyesatan skema ekonometrik agar hasil forecast-nya.
  4. Membuat sebuah negara terjebak dalam perangkap utang, sehingga kebijakan ekonominya mudah dikendalikan. Akhirnya, negara penerima utang itu menjadi target yang lunak ketika negara kreditor membutuhkan apa yang dikehendakinya, seperti pangkalan militer, suara di PBB, serta akses yang mudah untuk mengeksplorasi sumber daya alam (minyak bumi, gas, dan emas) yang dimiliki negara penerima utang.
  5. Berusaha membangkrutkan negara-negara penerima pinjaman raksasa (tentu setelah mereka membayar MAIN dan kontraktor AS lainya), sehingga mereka untuk selamanya akan dicengkram oleh para kreditornya,
  6. Apabila tujuan belum juga dapat dicapai langkah akhir menggunakan kekuatan militer,

Disamping prilaku amoral yang telah disampaikan Perkins dalam bukunya ada juga prilaku amoral yang dapat kita temui di Indonesia dalam bentuk intervensi asing. Secara umum contoh intervensi asing dalam kasus pembuatan Undang-Undang menjadi sangat menarik untuk diamati. Intervensi asing ini dapat dikategorikan dalam lima kelompok:


a)     Intervensi G2G (Government to Government), yakni pemerintah asing secara langsung menekan pemerintah suatu negara agar memasukkan suatu klausul atau agenda dalam perundangannya. Contohnya adalah:

  • pernyataan bahwa Indonesia sarang teroris, baik yang dilontarkan AS, Australia maupun Singapura bertujuan untuk mendesak agar Indonesia menerapkan UU antiteroris yang lebih ketat,
  • kehadiran pejabat tinggi asing ke negeri ini (kedatangan Menlu AS Condoleeza Rice menjelang keputusan pemberian Blok Cepu kepada ExxonMobil,
  • pernyataan Perdana Menteri Australia John Howard tentang pembebasan Ustad Abu Bakar Baasir,
  • dalam kasus luar Indonesia adalah tekanan AS terhadap Cina untuk melepas kontrol pemerintah terhadap mata uang Yuan,

b)     Intervensi W2G (World to Government), yakni lembaga internasional (seperti PBB, WTO, IMF, Word Bank) yang mengambil peran penekan. W2G ini sedikit lebih “elegan” karena seakan-akan agenda yang ingin dipaksakan adalah kesepakatan-kesepakatan internasional. Orang yang tidak tahu lobi-lobi di balik kesepakatan internasional itu akan menganggap rekomendasi lembaga internasional itu sebagai sesuatu yang ideal karena memenuhi standar dan norma internasional (teori relativism). Mereka yang tidak mengikutinya bisa terkucilkan atau tidak lagi pantas untuk menerima menerima utang atau bantuan. Contoh nya:

  • agenda UU yang terkait globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan (UU Perbankan, UU Migas, UU Tenaga Listrik, UU Sumber Daya Air),
  • Kedatangan pejabat badan dunia ke negeri ini (seperti Michael Camdessus bertemu dengan Presiden Soeharto menjelang kejatuhannya),
  • diangkatnya mantan staf badan dunia ke dalam jajaran orang penting di negeri ini (misalnya menjadi menteri atau penasihat menteri di dalam Departemen),
  • diratifikasinya sejumlah aturan-aturan dari badan dunia ke dalam UU,
  • kekawatiran asing akan dampak RUU APP, pertanyaannya sekarang adalah mengapa mereka harus khawatir, kalau bukan karena pengesahan RUU APP itu akan mempersempit ruang gerak mereka dalam menjajakan budaya liberalnya (yakni pornografi dan pornoaksi atas nama kebebasan berekspresi dan HAM) di tengah-tengah mayarakat negeri ini yang notabene mayoritas muslim (contoh masuknya majalah-majalah porno afiliasi dengan majalah asing seperti playboy, FHM, ME dll).

c)     Intervensi B2G (Bussiness to Government), yakni dunia bisnis, baik bisnis yang memiliki jaringan internasional maupun bisnis yang hanya bergerak di lingkup domestik. Para pengusaha dan investor ini dapat menekan pemerintah agar memuluskan berbagai kepentingan mereka dalam undang-undang. Tidak jarang, pengusaha asing menggunakan mitra lokalnya untuk lebih lantang bersuara, agar tidak terkesan ada kepentingan asing di balik itu. Ancaman yang sering dimunculkan adalah memindahkan investasi ke negara lain yang beriklim lebih baik. Contohnya :

  • agenda UU yang terkait dengan investasi, perpajakan, dan perburuhan,
  • kedekatan sejumlah pengusaha yang bisnisnya terkait dengan asing (impor/ekspor) dengan pejabat atau memfasilitasi diskusi publik,
  • pengusaha mensponsori anggota DPR atau tim pembuat UU untuk studi banding ke LN melihat penerapan UU sejenis di LN,

d)     Intervensi N2G (Non Government Organization [NGO/LSM] to Government). Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, termasuk ormas-ormas, dapat menjadi kelompok penekan (pressure group) yang efektif pada pemerintah, badan legislatif, maupun badan yudikatif (seperti Mahkamah Konstitusi). Contohnya:

  • UU tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan penolakan RUU Anti Pornografi & Pornoaksi,
  • Kedekatan NGO atau tokoh-tokohnya dengan lembaga bantuan asing seperti Ford Foundation, Asia Foundation, USAID, AusAID, atau mereka yang pernah menerima sumbangan dari lembaga bantuan asing tersebut, misalnya dalam bentuk proyek tertentu (riset, pemberdayaan masyarakat, pendidikan dll),

e)     Intervensi I2G (Intelectual to Government). Kaum intelektual, para ilmuwan, lembaga konsultan, bahkan tokoh-tokoh agama dapat dipakai untuk menekan pemerintah agar meloloskan suatu agenda dalam perundangannya. Para birokrat dan perancang UU juga kadang-kadang diundang oleh pihak di luar negeri untuk melanjutkan sekolah atau sekadar studi banding dan bertemu dengan para pakar di luar negeri. Dalam pendidikan atau pertemuan itulah dapat terjadi intervensi secara sangat halus. Dalam kenyataannya, pola I2G ini adalah jenis intervensi asing yang paling rapi dan paling sulit dideteksi, karena yang akan muncul adalah keyakinan dari anak bangsa sendiri. Contohnya :

  • agenda UU Otonomi Daerah.
  • kedekatan intelektual dengan tokoh atau lembaga di luar negeri, baik sebagai murid ataupun guru.

Kadang-kadang beberapa jenis intervensi bersinergi. Ini artinya, otak kepentingan asing tersebut sangat cerdas sehingga bisa menggerakkan berbagai mesin intervensi sekaligus. Sebagai contoh seperti dijelaskan sebelumnya UU Privatisasi (Migas, SD Air) dapat digolkan melalui pendekatan W2G (oleh IMF atau Bank Dunia dengan alasan globalisasi), B2G (dengan alasan membuka iklim investasi), dan I2G (dengan konsultan yang memberikan prediksi bahwa kondisi fiskal negara ke depan akan lebih sehat dengan privatisasi BUMN-BUMN melalui BPPN/PPA). Dalam kasus RUU Pemerintahan Aceh bahkan ada indikasi pihak asing telah menggunakan seluruh mesin intervensinya melalui kucuran bantuan yang sangat besar melalui lembaga-lembaga tersebut.


Selain dengan melacak pola kedekatan, intervensi asing juga tercium dari kepentingan. Secara umum, kepentingan utama di balik intervensi asing ini adalah untuk mendapatkan akses atas eksploitasi kekayaan alam yang lebih luas, pasar yang lebih lebar, dan ujungnya ketergantungan pada mereka (para kapitalis besar). Inilah motif utama kapitalisme (Soros, 2000). Contoh nyata dari kasus ini adalah eksploitasi SDA oleh Freeport, Newmont, Shell, BP dan masuknya ExxonMobile ke blok Cepu.


Untuk menyukseskan misi ini, diperlukan politik sekular yang makin kokoh dengan jargon demokrasi, HAM, liberalisasi, kemiskinan dan sejenisnya (hypernoms). Dengan permainan inilah para kapitalis akan lebih leluasa memainkan “bidak-bidaknya”. Lalu agar tidak timbul kebangkitan generasi muda yang akan melakukan perlawanan sistematis atas kondisi ini (seperti kondisi Indonesia tahun 1998 dan tragedi penembakan mahasiswa di Cina), generasi muda juga dirusak masa depannya dengan liberalisasi sosial misalnya dengan penolakan pembatasan pornografi dan pornoaksi (penolakan RUU APP). Pada saat yang sama, gerakan-gerakan kritis, terutama yang berbasis pada Islam, akan ditekan dengan UU antiterorisme (desas-desus pembubaran organisasi massa yang dianggap anarkis). Dengan demikian, semakin optimallah usaha asing menjajah kembali bangsa ini.


Contoh jelas Blok Cepu yang sekarang telah dikuasai oleh ExxonMobil. Pemerintah memberikan pernyataan bahwa keputusan di Blok Cepu adalah B to B atau business to business agreement. Disini terlihat ketidakkonsistenan pemerintah. Jika keputusan tersebut adalah B to B, yaitu antara Pertamina dan pihak ExxonMobil, maka seharusnya Pertamina tidak mendapatkan intervensi lebih jauh dari pemerintah. Namun kenyataannya adalah direktur Pertamina sebelumnya yang tidak setuju terhadap penyerahan operasional Blok Cepu ke tangan ExxonMobil, malah diganti oleh pemerintah dengan direktur baru beberapa saat sebelum terealisasinya kesepakatan yang ada sekarang.


Contoh lain melalui UU Migas, misalnya, Pertamina, yang notabene perusahaan milik rakyat, saat ini bukan pemain tunggal. Pertamina kini harus bersaing dengan perusahaan asing seperti Shell, ExxonMobil, BP atau Petronas yang bermodal raksasa. Dengan UU ini pula kemudian Blok Cepu diberikan oleh Pemerintah pada ExxonMobil.


Melalui UU SD Air, kini beberapa daerah kesulitan pasokan air, baik di pedesaan maupun di perkotaan, karena penggunaan air kini diatur oleh mekanisme harga, artinya yang dialiri hanyalah yang mampu memberikan nilai ekonomis tertinggi, yaitu pabrik-pabrik air kemasan yang juga banyak mulai dimiliki asing (Contoh Dadone). Contoh lebih parah adalah pemberian hak konsesi eksploitasi SDA di Papua kepada PT. Freeport sejak tahun 1970an.


Noam Chomsky (2005) dalam bukunya Imperial Ambition menjelaskan tentang adanya a new norm, semacam taktik ideologis yang dipropagandakan oleh pemerintah Amerika kepada negara lain guna mendukung langkah imperialistisnya. Seperti dalam kasus invasi ke Irak dan Afghanistan, pemerintah Amerika mendoktrin publik dunia dengan norma yang mereka buat sendiri yang disebut preemventive war. Melalui propaganda yang gencar dan massal, Amerika mengarahkan publik dunia untuk bersama-sama berpikir bahwa Amerika benar dan Irak salah. Pada akhirnya publik dunia mendukung langkah Amerika. Propaganda inilah senjata favorit Amerika. Berita hangat dengan motif hampir sama adalah tekanan Amerika terhadap Iran untuk tidak melakukan pengembangan uranium. Dengan dalih ini kemungkinan besar dapat dijadikan kambing hitam untuk menduduki negara tersebut yang secara nyata memiliki kandungan minyak cukup besar di Timur Tengah. Propaganda adalah salah satu cara yang efektif untuk mengarahkan pikiran manusia, menjadikan mereka seperti robot yang mudah diperintah berbuat apa saja.


Peran dan tindakan yang harus dilakukan oleh seorang calon ilmuan untuk menegakkan etika kehidupan.


Globalisasi ekonomi perupakan kata kunci yang selalu didengar dan disosialisasikan ke seluruh dunia oleh negara-negara maju.  Setidaknya efek realnya baru akan terasa pada jangka panjang. Namun, jika kepentingan asing lebih dominan maka dapat ditebak, bahwa dalam waktu singkat globalisasi sudah pasti akan menimbulkan malapetaka luas bagi masyarakat yang masih memiliki kelemahan ekonomi. Suatu malapetaka yang barangkali sulit diperbaiki (irreversible) dinama barang-barang dalam negeri yang kalah efisien akan sulit bersaing dengan derasnya barang impor. Indikasi ini sudah mulai terlihat tanpa kita dapat kuasa untuk membendungnya.


Sebagai seorang calon ilmuan tanda-tanda globalisasi hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana. Yang terpenting adalah memanfaatkan kondisi tersebut menjadi sebuah peluang untuk mencari “samudera-samudera biru” (blue ocean strategy) dan bukan malah menganggap sebagai sebuah ancaman (W. Chang Kim & Renee Maugorgne, 2006). Meminimalkan persaingan terbuka (red ocean strategy) dengan memperbanyak inovasi melalui kerja keras, cerdas dan ikhlas. Kemampuan seorang ilmuan dalam memegang tangung jawab sosial harus dapat menerjemahkan ilmu yang dimiliki kedalam peran kemasyarakatan. Ilmu pengetahuan merupakan berkah dan memiliki nilai bagi kehidupan manusia tentunya dengan tidak meninggalkan tata nilai, etika, moral dan filosofi. Manusia wajib hukumnya mencari ilmu dan mengamalkannya dalam arti positif kepada sesama manusia. Jika dalam perkembangannya jika pemahaman ini telah menyimpang atau bahkan hilang, sudah pasti hal itu merupakan tanda-tanda kiamat seperti dikatakan dalam Hadits riwayat Anas bin Malik sebagai berikut:


Rasulullah pernah berkata: “Diantara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya ilmu, maraknya kebodohan, merajalelanya perzinahan, banyaknya orang minum minuman keras…..” (Shahih Muslim, 2005).


Bidang keilmuan harus ditelaah secara konsisten. Ilmuan harus bertindak secara persuasif dan argumentatif berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, bukan malah menyesatkan seperti yang dilakukan oleh para EHM. Ilmuan memiliki kemampuan menganalisis kegiatan-kegiatan yang bersifat non produktif menjadi kegiatan yang berdaya guna bagi kehidupan manusia. Kalaupun memang pinjaman yang akan diberikan bagi negara-negara dunia ke tiga sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR), maka seharusnya dilakukan secara benar dan ikhlas sebagai sebuah bentuk tanggung jawab moral terhadap sesama. Inilah yang disebut sebagai konsep “terima – kasih”, yaitu menerima sebagai bagian dari sebuah kegiatan kerja keras dan menyalurkan sebagian harta kepada yang berhak sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan. Allah SWT di dalam Al Qur’an menyebutkan secara jelas konsep ini dalam Surat At-Taubah, ayat 122 sebagai berikut:


“Mengapa sebagian orang-orang beriman tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama dan kemudian setelah itu memberikan peringatan kepada orang lain agar mereka itu dapat saling menjaga dirinya”.


Dari ayat tersebut dikatakan bahwa sebagian orang-orang yang memiliki pemahaman lebih (ilmuan) sebaiknya memperdalam ilmunya untuk kemudian dipakai di jalan kebaikan dan membimbing yang lain untuk menuju pada arah yang sama. Sehingga benang merah yang dapat diambil dari jalan hidup yang telah digariskan Allah sebagai bagian dari fitrah manusia dalam tanggung jawabnya di bidang keilmuan (E. Gumbira Sai’d, 2006) dan sekaligus pesan yang dapat ditanggap dari buku John Perkins adalah :


a)     Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara:

  • Berpikir untuk menemukan kebenaran,
  • Melakukan penelitian dan pengembangan,
  • Selalu menumbuhkan sikap positif dan konstruktif,
  • Meningkatkan nilai tambah dan produktivitas,
  • Konsisten dengan proses penelaahan keilmuan,
  • Menguasai bagian kajian keilmuannya secara mendalam,
  • Mengkaji dan mengikuti perkembangan teknologi secara rinci,
  • Bersifat terbuka dan profesional,
  • Dan yang paling penting mempublikasikan hasil temuannya untuk kehidupan manusia. (Bagian dari pesan yang disampaikan Allah dalam QS At Tahubah ayat 122 di atas).

b)     Meningkatkan kesejahteraan msayarakat dengan cara :

  • Menemukan dan memecahkan masalah yang sedang atau akan dihadapi masyarakat dan mengkomunikasikannya,
  • Membantu meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat,
  • Memanfaatkan hasil-hasil temuannya untuk kepentingan kemanusiaan,
  • Mengungkapkan kebenaran dengan segala konsekuensinya.

Ilmuan memiliki kewajiban moral yang bersifat mutlak dalam menegakkan etika sesuai dengan hati nurani.  Kewajiban tersebut bersifat objektif, rasional dan komprehensif. Dikaitkan dengan kondisi yang diciptakan para EHM dalam buku John Perkins, maka tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang calon ilmuan dalam melihat kondisi di atas adalah antara lain:

  1. Waspada terhadap masuknya pengaruh-pengaruh asing yang dapat melemahkan kemampuan negara untuk berkembang,
  2. Melakukan koreksi pandangan jika terdapat kemungkinan terjadinya penguasaan asing terhadap aset negara,
  3. Memberikan kritisi terhadap kemungkinan masuknya pengaruh asing dalam sendi-sendir kehidupan masyarakat,
  4. Meningkatkan kekuatan negara dalam mengembangkan SDM dalam mengelola SDA agar dapat bersaing secara global,
  5. Tindakan preventif yang dapat dilakukan dalam menegakkan etika dalam kehidupan menurut adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia-akherat dan melakukan sinergi kesinambungan antara Keyakinan, Aksi dan Pekerti (fikr, mikr dan dzikr) melalui kolaborasi kesatuan ruh dari Sang Pencipta (Abu Sangkan, 2005). Hal ini diharapkan menghasilkan pola kepemimpinan Kubik atau  disebut sebagai kepemimpinan profetik (Farid Poniman dkk, 2006) yang menjadikan keutuhan dan kelengkapan manusia dihadapan Tuhan-nya.

Jakarta, 12 Oktober 2006

Membuka Topeng Lakon Konspirasi Amerika Serikat

 



Judul : Confessions of an Economic Hit Man

Penulis : John Perkins

Penerjemah : Herman Tirtaatmaja dan Dwi Karyani

Penerbit : Abdi Tandur

Tebal Buku : 276 Halaman

Waktu Terbit : 2005


 Dari dalam gedung putih, nasib jutaan rakyat di berbagai negara dipegang.


Amerika Serikat adalah salah satu negara adidaya di dunia saat ini. Selepas perang dunia II, Negeri Paman Sam seolah berlari menjadi kekuatan utama dunia bersama Uni Soviet (sekarang Rusia). Akan tetapi, Kedigdayaan Amerika Serikat tetap sejalan dengan teori modern world system milik Immanuel Wallerstein. Di dalam teori tersebut, Wallerstein mengatakan bahwa negara maju (Core) akan kembali menjajah negara kecil (periferal) dengan teknologi yang dimilikinya. Di berbagai belahan dunia, kita dapat melihat campur tangan gedung putih dalam perekonomian dan kebijakan suatu negara. Amerika Serikat memang tidak punya negara jajahan resmi saat ini, namun cakarnya mencengkram jutaan rakyat dari banyak negara.


Amerika Serikat menggunakan berbagai cara untuk mencapai kejayaannya saat ini, mulai dari cara diplomatis yang legal, hingga cara-cara hitam. Amerika Serikat dan CIA-nya disinyalir terlibat dalam berbagai peristiwa besar dunia yang akhirnya menguntungkan mereka. Misalnya saja peristiwa perang teluk, Al-Qaeda, pembentukan ISIS, dan sederet peristiwa yang akrab disebut sebagai konspirasi USA. Ada banyak sekali buku yang ditulis membahas objek masalah tersebut. Akan tetapi dari sederet buku tersebut, Confensions of Economic Hitman menjadi salah satu yang paling fenomenal. Buku ini telah memancing kontroversi di seluruh dunia, bahkan sejak penerbitan pertamanya. Maka pantas saja buku ini pernah mengalami penolakan oleh beberapa penerbit. Mereka terlalu takut untuk memproduksi buku yang kontroversial. Sementara itu si penulis sendiri, John Perkins, mengaku telah menerima berbagai ancaman pembunuhan atas karyanya ini.


Hal yang membuat buku ini menjadi begitu berbeda dari buku sejenis lainnya adalah fakta bahwa John Perkins, sang penulis, merupakan pelaku utama dari konspirasi-konspirasi yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat. Perkins merupakan mantan jajaran petinggi MAIN, sebuah perusahaan konsultan Internasional yang bekerja untuk korporasi dan birokrat USA. Buku ini menceritakan berbagai pengalaman dan pengetahuan John Perkins selama menjadi EHM, Economic Hit Man (bandit ekonomi), dan mengabdikan diri untuk kapitalisme Amerika Serikat. Selama menjadi EHM, Perkins pernah bertugas di Indonesia, Panama, Arab Saudi, Iran, dan negara-negara berkembang lainnya.


Di dalam buku ini dijelaskan bahwa pasca perang dunia ke-II, Amerika Serikat terlibat dalam persaingan hegemoni dengan dunia komunis. Amerika Serikat yang pada saat itu menganut paham ekonomi liberal dan kapitalis, merasa terancam dengan dunia komunis dan ajaran sosialisme yang mereka tawarkan. Guna ‘menyelamatkan’ dunia dari komunis, para petingi USA mencetuskan ambisi kekuasaan global. Yaitu keharusan penguasaan Amerika Serikat terhadap ekonomi dan perpolitikan seluruh dunia.


Dalam mencapai usahanya tersebut dua kekuatan besar Amerika Serikat, korporasi dan birokrat atau biasa disebut korporatokrasi, bekerjasama. Keduanya sama-sama memiliki kepentingan atas kekuasaan global USA. Korporasi membutuhkan sumber daya negara-negara berkembang untuk memutar roda industrinya. Sementara itu birokrat membutuhkan ketundukan negara-negara lainnya dalam mendukung setiap kebijakan Amerika Serikat di kancah Internasional.


Guna mencapai tujuannya, korporatokrasi menyebar para Economic Hit Man (bandit ekonomi) ke berbagai negara berkembang. Economic Hit Man adalah para ekonom yang memiliki tugas resmi sebagai konsultan, yang akan membawa negara berkembang pada kemajuan industri modern. Para EHM akan menawarkan pembangunan seperti pembangkit listrik, bandara, dan infrastruktur lainnnya. Sehingga angka pertumbuhan ekonomi negara tersebut dapat melesat menuju angka-angka yang fantastis (yang sebenarnya digelembungkan). Akan tetapi, tugas sebenarnya para Economic Hit Man adalah untuk memastikan tujuan korporatokrasi dapat tercapai.


Berbagai intrik telah dilakukan EHM, dalam hal ini John Perkins, guna mencapai tujuannya. Di Indonesia sendiri pada akhir periode 1960-an, Perkins memakai pola yang unik dalam tugasnya. Pertama, EHM melakukan analisis kebutuhan energi Indonesia agar dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu. Tentunya angka-angka yang berkaitan dengan hal-hal yang positif seperti kesejahteraan, investasi, dan lain sebagainya, telah mendapat penggelembungan dan manipulasi agar terlihat menarik dan menggiurkan pemerintahan lokal. Setelah analisis tersebut diterima oleh Indonesia, Amerika Serikat dan Bank Dunia datang menawarkan bantuan hutang untuk pendanaan berbagai proyek yang diusulkan oleh para EHM. Kemudian dalam pemberian bantuan hutang tersebut, Amerika Serikat mengharuskan negara penerima menggunakan jasa korporasi Amerika sebagai kontraktor proyek-proyek tersebut.


Dalam skema kerjasama proyek yang bermula dari analisis para EHM tersebut, dapat terlihat bahwa keuntungan terbesar diperoleh oleh Amerika. Pertama, karena dana hutang yang mereka pinjamkan akan kembali berputar ke Amerika melalui pembayaran kepada korporasi-korporasi Amerika sebagai pelaku proyek. Sehingga bisa dikatakan bahwa Amerika Serikat tidak perlu mengeluarkan banyak uang dalam operasi EHM ini. Kedua, setelah proyek selesai pihak yang paling banyak menikmati listrik dan bandara tersebut sesungguhnya adalah pihak korporasi Amerika Serikat yang melakukan investasi di negara tersebut. Sementara Amerika Serikat meneguk untung, negara penerima bantuan telah jatuh ke dalam sumur hutang yang dalam.


Cara yang berbeda digunakan EHM pada negara Arab Saudi. Pada tahun 1970-an, Saudi Arabia mengancam melakukan embargo minyak kepada Amerika Serikat atas dukungannya terhadap Israel. Perkins yang ditugaskan untuk membujuk kerajaan Arab Saudi, melihat bahwa negara tersebut walaupun kaya, tetapi mengalami krisis lingkungan dan teknologi. Oleh karena itu, Amerika Serikat menawarkan pendampingan teknologi bagi kerajaan tersebut. Sebagai balasannya, Arab Saudi menjamin pasokan minyak untuk Amerika Serikat. Guna mencapai kesepakatan ini, Perkins harus melakukan berbagai sogokan kepada keluarga kerajaan. Bahkan menawarkan wanita kepada salah seorang anggota keluarga kerajaan. Hasilnya, kita bisa lihat saat ini betapa Amerika Serikat dan Arab Saudi menjadi sekutu yang sangat kuat di timur tengah.


Itu hanyalah salah dua dari berbagi aksi John Perkins selama menjadi EHM. Dalam lain kasus, tak jarang bahkan korporatokrasi melakukan manipulasi untuk melenyapkan pihak yang menentangnya. Meskipun dengan cara yang berbeda, namun semuanya memiliki tujuan yang sama. Korporat berhasil mengeruk sumber daya alam negara-negara berkembang. Sementara birokrat berhasil memastikan negara tersebut terlilit hutang yang tidak akan pernah mampu mereka bayar. Dengan demikian akan membuat negara tersebut tunduk mendukung setiap kebijakan Amerika Serikat.


Meskipun merupakan terjemahan, namun bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami dan enak dibaca. Gaya penceritaan yang runtut berdasarkan waktu juga memudahkan pembaca memahami apa yang hendak disampaikan Perkins. Namun sayang, klimaks yang terlalu dini dapat membuat pembaca tidak tertarik untuk membacanya hingga akhir. Dari 35 bab dalam buku ini, 13 bab terakhir hanya menceritakan kegalauan Perkins dalam memutuskan untuk menulis kisahnya atau tidak dalam sebuah buku. Hal itu sangat berbeda dari bab-bab sebelumnya yang mampu memancing atensi dan mengaduk-aduk amarah pembaca.


Bagaimanapun juga, buku ini sangat bagus untuk dibaca. Tidak hanya untuk akademisi hubungan internasional ataupun ekonomi saja, tetapi untuk semua yang ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya dunia mereka dikendalikan oleh segelintir orang. Buku ini menyajikan kebenaran sesungguhnya dari berbagai peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah manusia, seperti pengalihan penguasaan terusan Panama, Kudeta Shah Iran, kerjasama Arab Saudi-Amerika yang membawa perubahan besar pada wajah Arab, hingga hubungan Amerika-Indonesia pada masa awal pemerintahan Soeharto, dan peristiwa-peristiwa lain yang Perkins terlibat di dalamnya.


Saat membaca buku ini, pembaca akan dibawa melompati jendela dan masuk kedalam dunia Perkins. Untuk kemudian menyaksikan intrik-intrik kelas atas yang berada disekelilingnya. Begitu selesai membaca buku ini, pembaca akan melihat dunia dengan cara yang tak lagi sama. (Tan Sjahiroel)

Manusia Sejati Pasti Ber-EMPATI kepada Palestina




 Kalau seseorang masih tidak tergugah hatinya, tidak tersadarkan empatinya dan tidak bangkit rasa kemanusiaannya setelah menyaksikan berbagai hal buruk yang terjadi di PALESTINA, pasti dia sudah tidak layak disebut sebagai manusia apalagi manusia merdeka dan berperadaban.


Rabu, 19 April 2023

Tugu PSHT Terbesar di Dunia

 



PSHT Cabang Ponorogo, tepatnya yang berada pada ranting Pulung, Rayon Wagir Kidul memiliki rekor tugu PSHT terbesar yang dimiliki saat ini. Tugu tersebut memiliki diameter 12 meter x 10 meter yang dapat terlihat sangat jelas dari jalan wagir kidul.

Tugu PSHT ini menjadi bukti dari persaudaraan dalam PSHT yang besar dan kokoh. Tugu PSHT yang semula hanyalah harapan kini menjadi kenyataan bersama setelah gotong royong dalam rasa persaudaraan yang kekal dan Abadi.



Anomali Bagi Yang Bijak Adalah Hikmah


 Anomali adalah istilah umum yang merujuk kepada keadaan penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Anomali juga sering di sebut sebagai suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan sehingga sesuatu yang terjadi akan berubah-ubah dari kejadian biasanya. 

Wikipedia

Ada sebuah ayat  di QS. An-Nur Ayat 26 bahwa laki laki yang baik untuk wanita yang baik

"26. Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)."

Tapi kenapa Firaun yang keji punya Istri Asiyah binti Muzahim yang baik, bukankah bertentangan dengan ayat tersebut.

Maka jawabanya, bahwa anomali atau kita sebut kejadian jarang itu, selalu ada di alam wujud ini, karena ada sebab-sebab diluar kejadian selalu yang mempengaruhi terjadinya akibat anomali tersebut.

Contoh mudah misalkan, biasanya anak ustad ya baik secara umum. Tetapi kadang kala ada anak ustad yang buruk akhlaknya. 

Bagi sebagian orang mungkin itu ganjil atau di luar kaidah yang ada. Sehingga sering kali ada kalimat protes ketika terjadi hal-hal ganjil atau disebut anomali tersebut. 

Namun bagi orang Bijak, ketika melihat sebuah anomali, maka di dalam benaknya akan muncul pertanyaan; Apa Hikmahnya? Bukan dengan kalimat protes Kenapa Begitu? 

Misal hikmah pernikahan dari Firaun dengan Asiyah adalah Selamatnya Nabi Musa dari Firaun, karena waktu itu semua bayi laki-laki di bunuh oleh Firaun, kecuali Nabi Musa, karena ada permintaan dari Aisyah untuk memeliharanya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More