Senin, 01 Mei 2023

Makna Dibalik Kalimat Singkat “Insya Allah”

 


Ucapan Insya Allah adalah ucapan yang telah menjadikebiasaan diantara kaum muslimin. 

Tapi tahukah kita,kalimat Insya Allah bukanlah kalimat biasa. Ucapan ini adalah perintah Allah di dalam Al-Qur’an.

Allah Mengajarkan kita untuk menyisipkan kata Insya Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً – إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali(dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS.Al-Kahfi:23-24)

Seakan kita akan berkata “Aku ingin melakukannya, tapi aku tak mampu melakukan sesuatu tanpa Kehendak-Nya.”

Selain itu, kata Insya Allah juga menjadi pegangan para Nabi dalam kehidupan mereka, seperti :

Ketika Nabi Ismail as hendak disembelih oleh ayahnya atas perintah Allah, ia pun berkata

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; 

Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS.Ash-Shaffat:102)

 Ketika Nabi Yusuf as memerintahkan saudara serta ayahnya untuk masuk ke Mesir,

وَقَالَ ادْخُلُواْ مِصْرَ إِن شَاء اللّهُ آمِنِينَ

(Yusuf) berkata “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS.Yusuf:99)

Ketika Nabi Syuaib as ingin menikahkan putrinya dengan Nabi Musa as, beliau berkata kepada Musa,

سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” (QS.Al-Qashas:27)

Ketika Nabi Musa as akan berguru kepada Nabi Khidir as,

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِراً وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْراً

Dia (Musa) berkata,“Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (QS.Al-Kahfi:69)

Dan pada hakikatnya, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas Kehendak-Nya. 

Bahkan Allah Menyebutkan hal ini sebanyak dua kali dalam Al-Qur’an,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecualiapabila Dikehendaki Allah. 

Sesungguhnya Allah MahaMengetahui dan Maha Bijaksana” (QS.Al-Insaan:30)

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila Dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”(QS.At-Takwir:29)

Oleh karena itu, mari kita biasakan untuk menyebut InsyaAllah dalam setiap rencana yang akan kita lakukan.

Semoga Bermanfaat !

Saling Mubaadalah Membantu Dalam Berumah Tangga



 Suatu ketika Aisyah salah seorang istri Nabi  ditanya oleh seorang sahabat mengenai aktivitas Rasulullah SAW di dalam rumah. 

Beliau tersenyum lantas menjawab, “Melakukan apa yang tidak kalian lakukan. Yaitu menjahit pakaian, menambal sandal, dan memasak di saat para pembantu beliau kecapekan.” 

Beberapa pekerjaan domestik di atas seringkali dipahami “hanya” pekerjaan istri. Padahal, dalam kehidupan berumah tangga, Rasulullah SAW telah memberikan teladan apabila segala sesuatu di dalam rumahtangga bisa dikerjakan bersama-sama. 

Saling bekerjasama dan saling membantu. Tidak ada egoisme seorang suami yang enggan mengerjakan pekerjaan rumah. 

Tidak ada pula rasa gengsi beliau dalam melakukan pekerjaan yang dianggap remeh.

Dalam kisah lain, Rasulullah juga melibatkan para istrinya dalam beberapa keputusan penting. 

Beliau menempatkan istrinya sebagai lawan diskusi yang cerdas. 

Misalnya, ketika Rasulullah berangkat ke Makkah pada tahun keenam hijriyah untuk melaksanakan umrah.  

Pada saat itu, karena terikat dengan Perjanjian Hudaibiyah, maka kaum muslimin tidak boleh melaksanakan umrah di sana dan mereka baru diperbolehkan ke Makkah pada tahun berikutnya. 

Karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat agar menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut. 

Namun, kaum muslimin tidak bergerak dari tempat duduknya, dan tidak menghalalkan ihram mereka. Mereka sangat sedih karena belum menyempurnakan umrahnya.

Di sinilah, Ummul Mukminin Ummu Salamah r.a.yang terkenal cerdas, pandai, memiliki pandangan tajam, dan pemahaman yang  mendalam untuk memberikan saran kepada Rasulullah SAW, sang suami tercinta. “Wahai Rasulullah, Alangkah baik nya..andai engkau keluar dan jangan berbicara dengan salah satu dari mereka sebelum engkau menyembelih untamu dan memanggil tukang cukur untuk mencukur rambutmu.” 

Rasulullah keluar lantas melaksanakan apa yang dikatakan oleh Ummu Salamah r.a., sehingga kaum muslimin mengikutinya. Fakta ini menunjukkan apabila manusia parpurna tersebut sangat menghormati istrinya dan bersedia bermusyawarah dengannya. 

Dengan perilaku ini, beliau juga menandaskan melalui sabdanya dalam sebuah kesempatan, “Sebaik-baik kaum muslimin adalah yang orang yang paling baik memperlakukan istrinya.” 

Perilaku berumahtangga yang demikian ini merupakan implementasi konsep berumahtangga ala Rasulullah. 

Beliau melakukan prinsip Mubaadalah. Dalam rumahtangga, mubaadalah berarti relasi suami istri yang saling melengkapi, saling mencintai, saling setia, menerima kekurangan serta bekerjasama demi kehidupan yang lebih baik.

HOS Tjokroaminoto Raja Tanpa Mahkota



 Jakarta, IChannel - "Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan, dan bicaralah seperti orator," demikian pesan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, kepada murid-muridnya, Samaun, Muso, Alimin, Darsono, Kartosuwiryo, dan Soekarno.


Pesan HOS Tjokroaminoto tampaknya berpengaruh kepada para muridnya, karena setiap murid kemudian memiliki kemampuan berorasi dan menulis dengan cukup baik, terlebih Soekarno.


Uniknya lagi, murid murid Raja Tanpa Mahkota (julukan Belanda untuk Tjokroaminoto) tumbuh menjadi pembesar, dengan menganut faham politik berbeda komunis, nasionalis dan agamis.


HOS Tjokroaminoto adalah putra dari Tjokroamiseno, lahir pada 16 Agustus 1883, di Kabupaten Ponorogo, dan meninggal pada 17 Desember 1934, di Yogyakarta.


Ia seorang nasionalis, dan merupakan salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Samanhudi.


SDI yang lebih bergerak di bidang perdagangan untuk melindungi pedagang pribumi, seiring dengan perkembangan politik saat saat itu, di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto berubah menjadi Sarekat Islam (SI) sehingga tidak hanya menyentuh masalah dagang saja, tapi juga masalah pendidikan dan politik.


Di bawah gemblengan Tjokroaminoto, seperti disebutkan tadi, lahirlah pemikir-pemikir dan pendiri bangsa, seperti Samaun, Muso, Alimin, Darsono, Kartosuwiryo, dan Soekarno, dengan segala fenomenanya.

*******************

Tjokroaminoto otodidak memiliki pengaruh kuat di kalangan rakyat jelata. Bahkan, tidak sedikit rakyat yang menganggapnya sebagai Ksatria Piningit para pribumi karena gagasannya dianggap melebihi masa nya serta selalu berpihak kepada rakyat dan tanah airnya.

Dalam  autobiografi nya Bung Karno mengenang rumah Tjokroaminoto sebagai Dapur Nasionalisme, “Aku meresapi lebih banyak lagi persoalan politik di rumah Pak Cokro, dapur dari Nasionalisme.”

Sebutan itu cukup beralasan karena pada faktanya kediaman Tjokroaminoto sering ramai dengan para tokoh yang berdiskusi memikirkan nasib orang-orang Pribumi di bawah pemerintahan kolonial.



ANAK² NABI ADAM TAK INCEST



Setelah qabil membunuh habil, Adam tidak lagi mau menyapa qabil. 

Seteleh beberapa ratus tahun, Adam dan Hawa memiliki anak bernama Syits dan Yafits. 

Dua-duanya masih sama laki-lakinya. Maka, Allah SWT lalu menurunkan hawra’ (bidadari) bernama Nazlah. Nazlah dikawinkan dengan Syits. 

Lalu diturunkan juga hawra’ bernama Manzalah. Manzalah dikawinkan dengan Yafits. 

Syits-Nazlah melahirkan anak laki-laki. Yafits-Manzalah melahirkan anak perempuan. Kedua anak ini lalu dinikahkan, yang keturunannya melahirkan para nabi dan rasul (Abdul Malik bin Husain bin Abdil Malik al-Syafi’I, Samth al-Nujum al-‘Awaali Fi Anba-I al-Awail Wa al-Tawali). 

Jadi, tidak ada perzinahan apalagi incest dalam sejarah Nabiyyullah Adam as. 

Karena Rasulullah SAW sendiri mengatakan: Kharajtu min nikaahin laa min sifaahin min ladun Adam ilaa an waladanii abii wa ummii.... 

Aku dilahirkan dari pernikahan bukan perzinahan, dari sejak Adam sampai aku dilahirkan oleh bapak ibuku (hadis shahih dengan banyak syawahid).

Inilah agama dengan struktur logika. Jika menyatakan Nabi SAW tidak lahir dari perzinahan, maka riwayat israiliyyat yang dipakai oleh nyaris seluruh ulama (bahwa anak² kembar Nabi Adam dikawinkan silang) sangat tidak berdasar. 

Jika alasannya adalah bahwa syariat pernikahan belum ada pada zaman Adam as, maka itu sama dengan menyatakan Allah. SWT pernah melegalkan incest atau hubungan dengan saudara kandung.

Dalam Beramal Berusaha Mengambil Yang Sulit dari Yang Mudah


 

“Pahala suatu amal perbuatan 

tergantung pada tingkat kesusahannya.”

 – Imam Shadiq as, 


“Ketahuilah bahwa Allah' memberikan derajat 

yang tinggi kepada manusia 

yang menanggung banyak kesulitan 

dalam hidupnya.” 

- Husein Bin Ali As


Lagu Sedih Mandarin




Suara serak, berapa banyak orang dengan cerita yang bernyanyi dan menangis

KETAATAN & MAKSIAT


 Seorang bijak ditanya, “Apakah hikmah

 yang terindah yang pernah anda temukan?”

Ia pun menjawab, 

“Selama lebih dari 70 tahun aku membaca buku, tak pernah kutemukan yang lebih indah 

dari perkataan Ali bin Abi thalib, yaitu :

إِنَّ مَشَقَّةَ الطَّاعَة تَذْهَبْ وَ يَبْقَى ثَوَابُهَا، 

وَ إِنَّ لَذَّةَ المَعَاصِي تَذْهَبْ وَ يَبْقَى عِقَابُهَا

“Sesungguhnya sulitnya ketaatan itu 

akan hilang dan tersisa pahalanya. 

Dan sungguh kelezatan maksiat itu 

akan habis dan hanya tersisa balasannya.”

Hoegeng : The Singing Jenderal

 


The Singing Jenderal


"Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik" -Jenderal Hoegeng Iman Santoso-


Sosok yang dikenal berintegritas dan jujur itu adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 yang bertugas dari tahun 1968-1971.


Riwayatnya yang bersih sejurus dengan keberanian membongkar kasus-kasus besar, dimulai di Sumatera Utara kala itu. Kemudian kasus penyelundupan mobil mewah di Tanjung Priok, lalu SumKuning alias Sumarijem atau Sum di Yogyakarta.


Kasus ini masa itu diduga kuat pelakunya adalah anak seorang pejabat tinggi. Tak gentar, Hoegeng pun menyatakan akan membongkar kasus itu sampai terang benderang. Ia pun melaporkannya kepada Soeharto dan meminta izin menindaklanjutinya.


Niat baik memang tak melulu berbuah manis, begitu juga sambutan positif dari sang kepala negara masa itu. Ketika kasus Sumarijem masih dalam penyelidikan Hoegeng, ia lantas menerima kabar buruk. Dirinya dipensiundininikan oleh Presiden Soeharto.


Ya, ada kesan memang bahwa sosok Hoegeng membahayakan roda pemerintahan. Terlebih sepak terjang sang Kapolri membuat kroni keluarga Cendana mulai terusik.


Jauh setelah dicopot tanpa dasar yang tak jelas, Hoegeng lantas mendapat sejumlah tawaran jabatan strategis oleh Soeharto, salah satunya menjadi duta besar Indonesia, namun ditolaknya. Bahkan ia keluar dari institusi Polri karena mendapat penjelasan tak lazim dari Soeharto atas pelengseran dirinya.


Tak lagi jadi Kapolri. Sosok ini pun memutuskan menekuni dan melanjutkan hobinya, yang semasa di tampuk pimpinan Polri juga dilakonkan, dan menjadi warga sipil biasa. Ia kembali bernyanyi dan melukis, menelurkan karya karena profesi atau pekerjaannya sudah berubah. Pelukis menjadi pekerjaannya di sisa hayatnya dan menghidupi keluarga.


Boleh dibilang, Hoegeng menjadi antitesis dari wajah dan citra pemerintah Soeharto, yang ketika itu dipandang rakyat sangat tak bersih. Sarat persoalan.


Polisi Jujur, The Singing Jenderal adalah sederet julukan sosok kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 ini. Pantas dan layak jadi contoh dan inspirasi anak bangsa, terutama generasi muda.


***

Hoegeng dan Covid-19


Ungkapan Hoegeng ini rasanya sangat relevan jika kita kaitkan dengan pandemi wabah Virus Corona Covid-19 di Tanah Air saat ini.


Sebab, saya, Anda, dan kita semua, akan bisa melihat, mana orang memang benar mau menjadi orang baik dan mana orang yang punya anggapan memang baik jadi orang penting. Dan semoga saja, semua kita menjadi orang baik dan mementingkan itu.


Sumber foto: kawulamahardhika.wordpress.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More