Jumat, 05 Mei 2023

Aku Tidak Mampu Berterima Kasih Kepada Karunia Allah SWT


 

"Aku Tak Mampu Berterima Kasih"

Suatu hari, Imam Ali Zainal Abidin as mendatangi Abdul Malik bin Marwan. Kedua mata beliau cekung karena banyak menangis. kedua pipinya menguning pucat karena trjaga pd malam hari dan keningnya menghitam karena banyak bersujud. Tubuhnya terlihat kering kerontang. Abdul Malik berkata kepada Imam Ali Zainal Abidin,  "Wahai putra Rasulullah, mengapa engkau banyak melakukan ibadah yang sulit? Bukankah surga untukmu, sebagaimana telah menjadi milik kakekmu? mengapa engkau begitu sangat menyusahkan diri? 

Imam Ali Zainal Abidin menjawab, "Dulu orang2 sering mengatakan hal yang sama kepada ayahku dan beliau menjawab, "Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yg bersyukur? juga seorang hamba harus senantiasa bersyukur.

Beliau berkata, "Andaikan usiaku mulai dari hari pertama penciptaan hingga hari kiamat dan jika sehari-hari berpuasa dan bersujud banyak, hingga aku menjadi kerangka, dan aku menangis tersedu-sedu hingga mataku membuta, dan jika makananku roti saja, aku tidak mampu berterima kasih kpd karunia Allah meski hanya sepersepuluhnya saja."

*********************

Thawus Al-Yamani mengatakan : Aku melihat Imam Ali bin Husain thawaf di Baitullah, dan sibuk beribadah sejak Isya hingga waktu sahur. Ketika tempat itu mulai sepi dan tidak ada seorang pun disitu, beliau mulai menghadap Allah dengan mengatakan, "Wahai Tuhanku, bintang gemintang telah tiada, begitu juga seluruh mata telah lelap, tetapi pintu2Mu tetap terbuka bagi mereka yg meminta...."

Thawus mengutip munajat panjang pertanda ketundukan ini, dan beliau berkata bahwa Imam Ali bin Husain berkali2 air matanya berderai, menangis tersedu2 dan terus sujud diatas tanah (As-Sajjad) hingga beliau tidak sadarkan diri.

Thawus mengatakan, "Aku pun mendekatinya, aku angkat kepalanya dan aku letakkan di pangkuanku. Aku mulai menangis dan air mataku membasahi wajah beliau as sehingga menyadarkan beliau."

Imam as berkata, "Siapakah gerangan yg menggangguku berzikir kepada Tuhanku?"

Thawus menjawab, "Aku Thawus wahai cucu Rasulullah. Mengapa engkau meronta dan menangis? Bukankah semestinya yg berbuat demikian itu kami yg pendosa dan keras hati? Belum cukupkah ayah engkau adalah Husain bin Ali as, nenek engkau Fatimah Az-Zahra as, kakek engkau Ali bin Abi Thalib as dan Rasulullah saww sebagai jaminan? Mengapa engkau begitu berduka dan takut seperti ini, padahal kemuliaanmu tak tertandingi oleh kemuliaan orang lain?"

Imam as menoleh kepadaku dan berkata, "Sungguh jauh, sungguh jauh wahai Thawus. Jangan engkau katakan kepadaku tentang ayahku, nenekku dan kakekku. Allah menciptakan surga bagi yg taat dan berbuat baik kepadaNya sekalipun dia adalah seorang budak hitam. Dan Allah akan ciptakan neraka bagi siapa yg memaksiatiNya sekalipun dia adalah seorang penghulu Qurais.

Tidakkah engkau dengar firman Allah SWT, 'Apabila sangkakala telah ditiup, putuslah hubungan keturunan diantara mereka pada hari itu dan mereka tidak akan saling bertanya. Demi Allah, Tidaklah akan bermanfaat bagimu untuk esok harimu, selain amal shaleh yg engkau persembahkan."

Ya Rasulullah, Apa Yang Terbaik Yang Dimiliki Manusia?



Usamah bin Zaid ra bercerita, "Kami berkata, "Ya Rasulullah, apa yang terbaik yang dimiliki manusia?" Beliau menjawab, "Akhlak yang terpuji" (HR. Ibnu Majah [2:1137]).

"Jauhi segala yang haram pastilah kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu, pastilah kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu pastilah kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri pastilah kamu tergolong muslim. Dan janganlah terlalu banyak tertawa.Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati."

(Hadist Nabi Muhammad - HR. Ahmad dan Tirmidzi)

“Tidaklah seorang diantara kalian dikatakan beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri.” (Hadist Nabi Muhammad Riwayat Bukhari)

Nabi Muhammad Bersabda "Sungguh orang-orang yang beriman dengan akhlak baik mereka bisa mencapai (menyamai) derajat mereka yang menghabiskan seluruh malamnya dalam sholat dan seluruh siangnya dengan berpuasa.” (Musnad Imam Ahmad)

Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati. (HR. Ad-Dailami)

“Orang muslim yang baik adalah yang muslim lainnya aman dari ganguan ucapan dan tangannya, dan orang yang Hijrah (tergolong kelompok Muhajirin) adalah yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah.” (Hadits Tentang Akhlak riwayat Bukhari)

Abu Darda’ meriwayatkan: Aku mendengar Nabi Muhammad saw berkata, “Tak ada yang lebih berat pada timbangan (Mizan, di hari Pembalasan) daripada akhlak yang baik. Sungguh, orang yang berakhlak baik akan bisa setara dengan mereka yang berpuasa dan sholat.” (Hadits riwayat al-Tirmidzi)

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik. (Hadist Motivasi Akhlak Islami HR. Abu Dawud)

Ummu Salamah, isteri Nabi Saw bertanya, "Ya Rasulullah, seorang wanita dari kami ada yang kawin dua, tiga dan empat kali lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di surga?" Nabi Saw menjawab, "Dia disuruh memilih dan yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata, "Ya Robbku, orang ini ketika dalam negeri dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat." (HR. Ath-Thabrani)

Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqi)

Kalau kamu sudah tidak punya malu lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki. (HR. Bukhari)

Dekatkan dirimu kepada-Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemah dan berbuatlah ihsan (baik) kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu. (HR. Muslim)

Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk adalah kebengisan tabi'at dan kebengisan tabi'at di neraka. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)

Ya Rasulullah, terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang lain. Nabi Saw menjawab, "Katakan: 'Aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah Hanif/ Lurus (yakni selalu dalam kebenaran, kebajikan dan keadilan)'." (HR. Muslim)

"Tidak sampai seseorang hamba ke peringkat golongan orang bertaqwa, hingga ia tidak melakukan perkara-perkara yang dilarang dan sentiasa berhati-hati daripada melakukan perkara-perkara yang menimbulkan keraguan (Perkara Subhat)." (Hadith riwayat At-Tirmidzi)

Dari Abu Darda, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi).

“Celakalah orang yang berbicara, padahal ia bohong, untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, kemudian celakalah dia.” (Riwayat Imam Tiga dan sanadnya kuat).

Dari Ibnu Mas’ud : “Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan yang suka melaknat, bukan yang berperangai jahat, dan bukan pula yang berlidah kotor.” (Hadits hasan dan shahih menurut Tirmidzi. Daruquthni menilainya hadits mauquf).

"Sesunguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati sehingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain." (Nasehat Bijak Nabi Tentang Akhlak, jHR. Muslim)

Dari Abu Said al-Khudry, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dua sifat jangan sampai berkumpul dalam diri seorang muslim yaitu kikir dan akhlak jelek.” (Hadist Riwayat Tirmidzi)

Pesan Rasulullah Saw kepada Ummil-mukminin Aisyah ra, "Hendaklah engkau lemah lembut, jangan kasar dan kotor ucapan". (HR. Al-Bukhari [10:452], dan Muslim[4:1707])

"Tidaklah halal bagi seorang laki-laki meninggalkan (menjauhi) saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya berjumpa namun yang ini berpaling dan yang itu juga berpaling.Yang terbaik dari keduanya adalah yang mengawali mengucap salam". (HR.Al-Bukhari [10:492], dan Muslim [4:1984])

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhilah sifat hasad, karena hasad itu memakan (pahala) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” Riwayat Abu Dawud.

"Amal yang paling banyak memasukkan manusia ke surga ialah taqwa kepada Allah dan akhlak karimah". (HR. At-Tirmidzi[4:363])

Jawaban Profesor Terhadap Pertanyaan Ir.Soekarno


 Inilah Pertanyaan Spiritual Presiden Soekarno Yang Selama 10 Tahun Belum Terjawab, Akhirnya Dijawab Professor Cerdas Ini

Mungkin ini adalah pertemuan sakral yang dialami oleh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc – seorang angkatan 1945, ahli sufi, ahli fisika dan metafisika dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Panca Budi, Medan – dengan Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Ia bersama rombongan saat itu diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof. Ir. Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.

“Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 Profesor-Profesor” kelakar Ir. Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Prof. Kadirun Yahya beserta rombongan. Kemudian Presiden Soekarno mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk.

“Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya”, pinta presiden Soekarno kepada Prof. Kadirun Yahya, terkesan khusus.

“Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen (saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu),” kata presiden Soekarno dengan bahasa Belanda.

“Ya, tentang apa itu Bapak Presiden…?”

“Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.”

“Lantas soalnya apa bapak Presiden?”

“Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya” jawab Presiden Soekarno.

“Baik Presiden” kata Prof. Kadirun Yahya

“Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan sorga?” tanya Presiden. “Sorga” jawab Prof.Kadirun Yahya.

“Accoord (setuju)”, balas Presiden terlihat lega.

Menyusul Presiden bertanya untuk soal berikutnya. “Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat sorga?” tanyanya.

“Untuk Presiden, Jenderal, Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan sorga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana,” jawab Prof. Kadirun.

“Accoord”, kata Bung Karno (panggilan akrab Presiden).

“Nu heb ik je te pakken Professor (sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor)” lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah. “Saya cerita sedikit dulu” kata Bung Karno.

“Silakan Bapak Presiden”.

“Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum.”

“Lantas saya ketemu dengan satu Hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : Rasulullah berkata; Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli sorga”.

“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan sorga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk sorga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli sorga. How do you explain it Professor?” Tanya Bung Karno lanjut. Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

“Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan”, katanya.

Keduanya adalah sama-sama eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.

Di atas kertas Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.

10/10 = 1 ;

“Ya” kata Presiden.

10/100 = 1/10 ; “Ya” kata Presiden.

10/1000` = 1/100 ;

“Ya” kata Presiden.

10/10.000 = 1/1000 ;

“Ya” kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0 ;

“Ya” kata Presiden.

1000.000 … / ∞ = 0 ;

“Ya” kata Presiden.

(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0;

“Ya” kata Presiden.

Dosa / ∞ = 0 ;

“Ya” kata Presiden.

Nah…” lanjut Prof,

1 x ∞ = ∞ ;

“Ya” kata Presiden

½ x ∞ = ∞ ;

“Ya” kata Presiden.

1 zarah x ∞ = ∞ ;

“Ya” kata Presiden.

“… ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar.”

“Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.

Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . “Geweldig (hebat)” katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan.”

“Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Presiden kemudian.

“Melalui isi dada Rasulullah” jawab Prof.

“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya : Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a), lanjutnya.

Prof menyambung, “Begitu juga dalam QS.Al-Hijr :29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya”.

“Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT”, kata Prof.

Prof melanjutkan, “Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!

Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat”.

“Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)”, jelas Prof.

Prof menyimpulkan, “Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”

“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?” tanya Presiden. “

Prof menjawab, “Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT.

*Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku.* _Doanya tergantung di awang-awang_ 

(HR. Abu Daud dan An-Nasay).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : *“Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”*

Sontak Presiden berdiri. “You are wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presidenpun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum dibelakang hari nanti"

Kenapa Paham, Kurang Paham & Gagal Paham


 

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah "paham".

Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya. 

Tingkat ke dua terbawah adalah "kurang paham".

Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham ..., dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar ...!

Naik setingkat lagi adalah mereka yang salah paham. Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. 

Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah gagal paham. Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan.

Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain. 

Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja ..., bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan ...?

  • Tertutup hatinya. 
  • Tertutup akal pikirannya.
  • Tertutup pendengarannya.
  • Tertutup logikanya.
  • Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri.

Parahnya lagi ...,

Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.

Dia tetap dengan dirinya, dan dia bangga dengan ke-gagal paham-annya ...

"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?"

"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah."

Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa ...

Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya. 

Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat ..., apa yang disampaikan ...!

Dia paham ...,

ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya.

Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi.

dia seperti balon gas yang berada di atas awan.

Dia terbang tinggi dengan kesombongannya ..., 

Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,

Dan merasa akulah kebenaran ... !!!

Masalahnya ..., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak. 

Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.

Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang ..., dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya ...

Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya ..., dengan penyesalan yang amat sangat dalam.

"Jadi yang perlu diingat ...,

akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah ...

Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal ..."

Ternyata di situlah kuncinya.

"Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya ..., tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar ... !!!"

"Ilmu itu open ending"

Makin digali makin terasa dangkal. 

Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa2...!!

Bekal Perajalan adalah Dengan Selalu Mengikuti Arahan Pemimpin


 

Dunia bukan tempat untuk tinggal, ini adalah perjalanan, semua harus pergi, tapi harus memikirkan bekal perjalanan ini. 

Bekal Perajalan adalah dengan selalu mengikuti arahan Pemimpin


Jika kita tidak memanfaatkan al-Qur'an, itu dikarenakan keyakinan kita lemah. 

Seperti kita melihat "Pemimpin" secara langsung, tapi tidak membawa perubahan pada diri kita, sebagaimana sebagian orang yang hidup di zaman imam, tapi berkata buruk pada imam.

Kamis, 04 Mei 2023

Membela Palestina Tanpa Pamrih


 Meski disesatkan, dikafirkan, difitnah, diteror, dikucilkan, dikeroyok dan ditindas, Syiah yang di seluruh dunia, terutama Iran, tetap konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina yang mayoritasnya bermazhab Sunni bahkan salafi.

Hamas pada dasarnya adalah organisasi yang berideologi "Ikhwani" yang cenderung berteologi salafi. Ketika AS dan sekutunya menghancurkan Suriah, satu-satunya negara Arab yang mendukung perlawanan militer Hamas dan faksi-faksi penentang proposal abad perdamaian AS, Hamas justru memihak Saudi dan rezim-rezim sekutu AS. Meski demikian, sikap Iran terhadap isu Palestina tak berubah dan tetap membuka tangan kepada Hamas setelah terbukti kemenangan Bashar Asad.

Meski Hamas beberapa tahun tidak pernah mengumumkan peran besar Iran dalam dukungan finansial dan militer yang diperolehnya, apalagi secara terbuka menyampaikan pengharagaan, Iran tak pernah mempersoalkannya dan tetap konsisten mendukung bahkan makin intensif.

Iran tak menganggap mendukung Palestina bersyarat penerimaan seluruh rakyat Palestina dan apresiasi para politisinya. Bagi Iran, Palestina bukan masalah rakyat Palestina semata, bukan hanya masalah masyarakat Arab, bukan masalah kebijakan politik luar negeri Iran yang mendukung kemerdekaannya, tapi lebih fundamental dari itu. Bagi Iran, penentangan terhadap berdirinya negara palsu penjajah Palestina adalah landasan institusinya. Itu artinya, kendor dalam mendukung Palestina adalah pengingkaran terhadap konstitusinya.

Andai Iran punya kepentingan geoplitik di balik kegigihannya mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, sebagaimana kerap diopinikan oleh rezim-rezim sekutu AS dan rezim perampas Palestina, maka kerugiannya takkan pernah sebanding dengan kepentingan.

1. Secara geogpolits, letak Palestina jauh dari Iran 

2. Meski menghadapi embargo multidimensi, secara ekonomi, Iran tidak membutuhkan Palestina karena sumber daya alamnya berlimpah terutama minyak dan gas. Palestina secara ekonomi adalah beban. Iran telah menjadikan dukungan finansial bagi Pemerintahan Hamas di Gaza sebagai bagian dari anggarannya.

3. Secara etnologis, Iran bukan negara Arab dan mayoritas etnik penduduknya adalah Arya yang merupakan etnis dan ras lama yang punya sejarah panjang dalam kejayaan dan penolakan terhadap Arabisasi yang dilakukan oleh para khalifah berkedok penyebaran agama dan dakwah.

4. Secara teologis, mayoritas penduduk Iran bermazhab Syiah yang punya sejarah merah dalam menghadapi penindasan dan pembantaian dan pengucilan oleh para khalifah dinasti-dinasti Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah.

Menegakkan Keadilan itu Jauh Lebih Indah dari Kedamaian

 


Apakah alasan kebenarannya bahwa Menegakkan KeAdilan itu jauh lebih Indah dari Kedamaian ?

" Kedamaian itu memang indah , tapi Menegakkan Keadilan Jauh lebih Indah.

" Dasar Alasan itu adalah kita ambil contoh dari Hal yang sederhana yaitu : Hidup Bertetangga di masyarakat.

" Hidup damai , Rukun dan tidak saling mengganggu bersama tetangga itu memang Indah.

" Tapi yang membuat tampak hilang Keindahannya adalah membiarkan tetangganya hidup dalam kelaparan, kesusahan dalam masalah Ekonominya , walaupun secara sosial mereka hidup damai , tidak pernah berantem atau tidak saling mengganggu.

" Hidup damai dan tidak berbuat dholim kepada Tetangga itu Memang Indah, tapi tidak peduli dan berdiam diri terhadap kesusahan tetangganya adalah perbuatan dholim pada diri sendiri dan Hak Tuhan yang di titipkan ada pada Ciptaan2Nya.

" Sebagaimana Sabda Rasulallah saww :

" Bukan termasuk dari Kami (Muslim), yang hidup dalam keadaan kenyang dan tetangganya hidup dalam kelaparan 

Dialog Sayid Sabzewari dengan Seorang Pemudah Tentang Kebahagiaan



PEMUDA: Sayidi ! tolong beritahu aku bagaimana caranya aku mengetahui bahwa aku tercatat sebagai orang yang bahagia atau celaka!"

SABZEWARI: Wahai anakku ! tanda yang memisahkan antara kebahagiaan dan kecelakaan adalah Shalawat atas Muhammad dan Keluarga Muhammad.

Maka perhatikan dirimu, jika engkau senantiasa (مواظبة) bershalawat atas Nabi dan Keluarganya maka ketahuilah bahwa engkau termasuk dari orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Namun apabila Shalawat atas Nabi dan Keluarganya tidak ada dalam kehidupanmu, maka waspadalah, engkau adalah orang yang celaka dan engkau tidak menyadarinya."

PEMUDA: Sayidi ! adakah dalil dari Al-Quran untuk itu?"

SABZEWARI: Dalilnya jelas dalam firman Allah Swt, 

إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّوْنَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوْا تَسۡلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,  bershalawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

(QS Al-Ahzab [33]:56)

Orang-orang yang celaka mustahil bergabung bersama Allah dalam hal apapun, sedangkan orang-orang yang bahagia bergabung bersama Allah dan para malaikat dalam gerbang kebahagiaan terbesar yaitu Shalawat atas Nabi dan Keluarganya.

PEMUDA: Apa makna "muwadhabah (مواظبة)" menurut Sayidi ?

SABZEWARI: Engkau menjadikan Shalawat atas Nabi dan Keluarganya sebagai wirid tetap untukmu. Akan tetap ketahuilah bahwa ada orang yang "bahagia" dan ada orang yang "paling bahagia". 

Orang yang "bahagia"  adalah orang yang setiap hari senantiasa bershalawat atas Nabi dan Keluarganya. 

Sedangkan orang yang "paling bahagia" adalah orang yang Shalawat atas Nabi dan Keluarganya menjadi makanannya, minumannya, pemikirannya, keprihatinannya dan udara yang ia bernapas dengannya.

Kemudian kedua mata pemuda itu berlinang airmata dan menangis setelah mendengar perkataan Sayid Sabzewari. 

SABZEWARI: Airmatamu yang mengalir pertanda awal kebahagiaanmu. Seandainya engkau bukan orang yang berbahagia, engkau tidak akan datang untuk bertanya dariku.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More